Tingginya Angka Bunuh Diri di Era Pandemi

Mengapa Bunuh Diri?

Mengapa Bunuh Diri?

HATI-HATI di tengah malam.  Waspada antara jam 22.00 - 4.00 subuh dini hari. Mereka yang tertekan, kesepian, merasa terancam, dan terisolasi. Emosi mereka akan meledak di tengah malam.

Data ini diberikan oleh 24 hours- Mental Hot Line di Jepang: Anata no Ibasho. Dalam bahasa Inggris, nama lembaga ini: A Place For You.

Ini badan yang didirikan di Jepang karena tingginya angka bunuh diri di sana. Lembaga ini tak dibiayai pemerintah, tapi donasi pihak swasta yang peduli.

Menjelang tahun 2019, angka bunuh diri di Jepang sebenarnya menurun. Namun di era pandemi, jumlah yang bunuh diri meningkat drastis.

Yang bunuh diri karena tekanan hidup akibat pandemi Covid-19 jauh lebih banyak dibandingkan yang mati akibat langsung dari Covid 19.

Baca Juga

Di bulan oktober 2020  saja, di Jepang, yang mati bunuh diri sebanyak 2153 orang. Sementara yang wafat karena penyakit Covid-19 langsung sepanjang tahun 2020 hanya 2089 orang. (1)

Jepang dan Korea Selatan dikenal sebagai negara yang sangat maju di lingkungan Asia. Namun angka bunuh diri pada dua negara itu termasuk yang paling tinggi di dunia.

Di Jepang, dari 100.000 populasi, mereka yang bunuh diri sebanyak 18.5 orang. Sedangkan Korea Selatan, angka bunuh diri 15 orang per 100.000 populasi.

Yang membuat mereka bunuh diri umumnya karena tekanan hidup yang tinggi. Tuntutan pekerjaan yang membuat stress. Tuntutan kinerja di sekolah. Kesulitan hidup.

Pandemi menambah buruknya situasi. Ekonomi mengalami breakdown. Banyak individu semakin terisolasi karena pandemi. Banyak pula kegiatan sosial yang terhenti. Terhenti pula keriangan sosial yang dapat diciptakan oleh kegiatan itu.

-000-

Tapi bunuh diri tak hanya menimpa mereka yang kekurangan secara ekonomi. Bahkan orang terkaya pun bisa juga bunuh diri.

Itulah yang membuat dunia tercengang. Adolf Merkle, salah satu orang terkaya di Jerman juga bunuh diri. (2) Kasus bunuh diri konglomerat ini terjadi sebelum pandemi.

Pagi hari yang sunyi, di Dresden Jerman, Ia meninggalkan surat untuk istrinya. Beberapa saat kemudian, Ia menabrakan diri pada kereta yang sedang berjalan kencang.