Catatan Kluyuran ke Belanda & Belgia (2)

“Mengaji” di Amsterdam Rai Congrescentrum

“Mengaji” di Amsterdam Rai Congrescentrum
Ilustrasi Amsterdam Rai Congrescentrum

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“NENG. Bangun.” 

Demikian ucap saya kepada istri saat saya terjaga. Dari tidur pulas selama sekitar empat jam.  “Lihat, waktu saat ini telah menunjuk sekitar pukul 14.00 siang waktu Amsterdam. Bukankah siang ini kita akan survei dulu rute ke Amsterdam RAI?”

Kami, memang, saat itu benar-benar kecapaian. Usia di atas 55 tahun dan lelah menempuh perjalanan lebih dari 20 jam serta lebih dari 14.000 kilometer membuat kami tumbang. Malah, karena itu, pagi hari sebelum tidur, kami pun membatalkan pertemuan kami dengan Mbak Imazahra dan Mas Risyan Nurhakim, dua sejoli  asal Bandung yang kala itu sedang “honeymoon backpacker”an ke sederet negara di Eropa dan saat itu sedang berada di Belanda. Apalagi, hari itu, menurut Mbak Imazahra, Metro Amsterdam sedang libur. Yah! 

“Assalamu’alaikum. Pak Rofi’, ini Imazahra. Kami kebingungan menuju Amsterdam. Ini karena hari ini Metro ternyata sedang ‘meliburkan diri’ karena perbaikan jalur metro.” Demikian bunyi short message (sms) dari Mbak Ima pagi hari itu. Namun, mengingat kami sore itu harus pergi ke Amsterdam RAI Exhibition and Convention Centre, alias RAI Congrescentrum dalam bahasa Belanda, tempat istri akan “mengaji” alias “sekolah”, kami pun segera bangkit. Dari tempat tidur.

Eh, ternyata begitu bangun, kami merasa lapar. Padahal, kami baru menikmati makan pagi sekitar empat jam sebelumnya. Mungkin, karena cuaca Amsterdam hari itu berkisar antara 14 derajat celcius sampai 20 derajat celcius, membuat kami cepat lapar.  Sambil bersiap-siap, meski telah menginjakkan kedua kakinya di lima benua, istri yang “anak rice cooker”, alias selalu harus makan dengan nasi, segera menanak nasi dengan rice cooker kecil yang ia bawa. Istri saya, memang, orang Indonesia banget.

“Dasar orang Indonesia. Makan harus selalu dengan nasi. Itu yang membikin beras mahal di sana,” canda saya kepadanya. Menggodanya.

“Biarin!” jawab istri saya memberengut. “Yang penting halâlan thayyiban.”

“Hehehe,” ucap saya sembari tersenyum. Dan, kemudian, membantu istri menyiapkan makan siang. 

Konon, Banyak Maling Sepeda

Segera, kami pun menikmati makan siang. Dengan menu darurat. Untung, di Amsterdam kita mudah mendapatkan beras. “Risjt Pandan”, alias beras merek Pandan Wangi, bisa didapatkan di mini market “Albert Heijn”. Mini market itu terletak empat rumah di sebelah hotel yang kami inapi atau tempat-tempat lainnya.

Perut lapar dan cuaca dingin membuat kami lahap menikmati makanan yang dibuat mendadak itu.  Dan, setelah semua siap, termasuk dua tas punggung yang berisi jaket dan payung (meski menurut ramalan cuaca hari itu ‘clear’), dan tentu saja paspor, kami pun segera turun dari kamar. Tentu saja, melewati tangga yang terdiri dari 48 anak  tangga. Asyik, kayak keluar dan masuk piramid di Mesir saja! 

Begitu berada di depan “C Hotel”, masih di Raadhuisstraat, kami lihat para pesepeda sedang berlalu lalang dengan nyamannya. “Betapa baik hati pemerintah Kota Amsterdam kepada para pesepeda. Mereka, di mana-mana, dibuatkan jalur sepeda nan sangat nyaman. Orang-orang yang naik mobil pun sangat menghormati mereka,” gumam saya melihat para pesepeda itu.

Yang menarik perhatian saya, sepeda-sepeda yang sedang ‘istirahat’. Di mana-mana. Semuanya dikunci dengan gembok-gembok gede. Konon, hal itu dilakukan karena di Belanda banyak maling sepeda. Waduh!

Berbeda dengan ketika datang pertama kali, dari pintu hotel kini kami melangkahkan kaki ke arah kanan. Tidak menuju Halte Westermarkt. Tapi, menuju Halte Dam. Oh, ternyata, tidak jauh dari situ tegak dengan megahnya Magna Plaza, sebuah mall terkenal di Kota Amsterdam. Dan, tidak jauh dari situ, di seberang jalan, tegak dengan tak kalah megahnya “Koninklijk Paleis”, alias Istana Kerajaan, dan “Nieuwe Kerk”, alias Gereja Baru. 

Begitu semakin mencermati peta yang saya bawa, saya pun kian menyadari, penginapan yang kami tempati ternyata dekat sekali dengan Dam Square. Cukup dengan jalan kaki. Padahal, Dam Square tidak jauh dari sebuah lokasi “merah” yang terkenal di seluruh penjuru dunia: Red Light District. Ya, tidak jauh dari Red Light District.  Astaghfirullâh!

“Neng. Ternyata, kita ini menuju Dam Square,” ucap saya kepada istri. “Lihat bangunan megah di depan kita itu. Itu kan “Koninklijk Paleis”, alias Istana Kerajaan. Sedangkan bangunan di samping kirinya adalah “Nieuwe Kerk”, atau Gereja Baru. Nah, di depan kedua gedung itu terdapat Dam Square. Tidak jauh dari situ terdapat Monumen Nasional. Dan, tidak jauh dari monumen itu terletak sebuah distrik terkenal di kota ini. Yaitu Red Light District.”

“Mas. Selepas dari Amsterdam RAI Congrescentrum,” sahut istri, penuh semangat, “bagaimana kalau kita ke Dam Square. Lalu, dari situ kita menuju Red Light District. Saya ingin tahu, apa bedanya ‘suasana’ di distrik merah itu dengan ‘suasana’ komplek “kupu-kupu malam” (meminjam istilahnya Titik Puspa dalam sebuah lagunya yang kondang) yang pernah saya teliti selama tiga bulan. Karena itu, saya  pernah hidup bersama mereka, selama tiga bulan, dan memahami a sampai z persoalan yang mereka hadapi dan rasakan. Apalagi, saya kan biasa menemukan dan menghadapi pasien-pasien yang terkena narkoba dan ‘terjebak’ dalam ‘kehidupan malam’. Seperti di Red Light District itu. Menurut Mas, bagaimana? ” 

“Entah kenapa, dalam benak saya tiba-tiba muncul ide: bagaimana kalau saya mencari seorang sahabat yang bisa di’komporin’ untuk menyusun  disertasi tentang Red Light District dari sudut pandang hukum Islam,” jawab saya. “Saya tidak ingin kita memvonisnya haram begitu saja. Namun, dalam disertasi itu dibahas dengan tinjauan yang benar-benar komprehensif dan luas. Sehingga, lewat kajian itu, dapat dicarikan solusi yang benar-benar tepat dan tuntas atas kasus serupa. Yang sebenarnya juga terdapat di mana-mana. Karena itu, sekarang kita lebih baik naik trem saja. Menuju Amsterdam Centraal.  Menghemat waktu. Lagi pula, kita punya kartu ‘sakti’ yang dapat digunakan naik trem dan bus GVB. Ke mana-mana.  Dari sana, kita menikmati Canal Cruises dulu. Setelah itu, kita menuju Amsterdam RAI Congrescentrum. Dan, pulangnya, kita naik trem lagi dan turun di Dam Square. Dari situ kita menuju ‘distrik merah’ itu.”

“Ayo!” 

Kami pun kemudian segera naik trem nomer 17 yang menuju Amsterdam Centraal, dengan menempelkan kartu, yang disebut dalam bahasa ‘londo’ dengan sebutan ‘Die GVB-Tageskarte’, di card reader. Kartu itu benar-benar  ‘sakti’ (saat ini, kesaktian itu sudah gak aneh lagi). Dengan menempelkan kartu itu di ‘card reader’, setiap kali naik dan turun trem atau bus, kita dapat pergi ke mana-mana. Sesuai dengan masa berlakunya kartu tersebut. Mirip dengan kartu ‘EZ-Link’ di Singapura atau kartu ‘Touch n Go’ di Kuala Lumpur.

Menengok Bangunan Kapal Kompeni

Setelah melintasi dua halte, kami pun tiba di Amsterdam Centraal. 

Stasiun pusat kereta api di Kota Amsterdam (seperti Stasiun Gambir di Jakarta) ini terintegrasi dengan bus, kapal, dan kereta api antarnegara. Di depan stasiun itu terdapat halte trem dan bus menuju ke berbagai penjuru Kota Amsterdam. Di samping terminal trem dan bus itu, terdapat terminal feri dan kapal yang menyusuri kanal-kanal dan laut di seputar kota nan cantik itu. Sedangkan di bagian belakang stasiun itu terdapat terminal bus-bus yang menuju luar kota, seperti ke Edam dan Vollendam. 

Dari Stasiun Amterdam Centraal itu pula kita dapat pergi menuju ke berbagai kota di Belanda, juga kota-kota di luar Belanda seperti Brussels, Berlin, dan Paris, dengan kereta api yang nyaman dan bersih. Bila Anda ingin naik kereta api dari stasiun ini, Anda dapat membeli tiket dengan mudah di ATM atau ke loket ‘Train Tickets & Services’. Di tempat itu, antara konter kereta api internasional dan konter kereta api domestik dipisahkan. Membeli tiket di situ mudah sekali kok. Jika Anda mau ke Paris, misalnya, Anda dapat membeli tiket kereta api Thalys di situ. 

Begitu turun dari trem nomer 17, kami kemudian menuju pangkalan kapal. Segera, kami menemukan sebuah pangkalan ‘cruise’ yang menyusuri kanal-kanal di seputar Kota Amsterdam dan Laut Utara. Segera pula, kami pun bergabung dengan para penumpang yang sudah mengisi kapal tersebut. Selama perjalanan sekitar satu jam, saya pun menjadi tour guide istri yang tak henti-hentinya bertanya tentang banyak hal: menjelaskan berbagai bangunan dan sejarahnya. Ketika kami melihat bangunan ‘Kapal Kompeni’, saya pun berkomentar, “Ini dia kapal yang mengantarkan para kompeni ke Indonesia. Dengan kapal ini pula, mereka menjajah Indonesia. Selama sekitar 350 tahun.”

Puas menikmati ‘canal cruise’, kami kemudian menuju pangkalan trem. Kali ini, kami mencari trem nomer 4, trem yang menuju Halte Amsterdam RAI. Sepanjang perjalanan, di sebelah kanan dan kiri jalur trem,  bangunan-bangunan lama dan baru tertata rapi. Di dekat salah satu halte, tepatnya di dekat Halte Rembrandtpleine, terlihat oleh kami sebuah patung seorang pelukis kondang Belanda: Rembrandt Harmenszoon van Rijn (1606-1669). Atau lebih terkenal dengan panggilan Rembrandt saja. 

Naik trem jalur tersebut, mengingatkan kami ketika ‘ngluyur’ di seputar Kota Vienna, Austria, beberapa tahun yang lalu, dengan tujuan yang sama: “mengaji” ilmu penyakit jantung dalam kongres yang juga diselenggarakan European Soceity of Cardiology.  Dan, selepas melintasi sejumlah halte, akhirnya trem yang naiki berhenti di Halte Amsterdam RAI Congrescentrum.

Apa itu Amsterdam RAI?

Amsterdam RAI, atau nama lengkapnya The Amsterdam RAI Exhibition and Convention Centre, merupakan komplek gedung-gedung konferensi, kongres, dan pameran paling bergengsi di Belanda. Malah, juga di seluruh Eropa. Komplek ini terletak di kawasan bisnis terkenal di Amsterdam yang terkenal dengan sebutan Distrik Zuidas.  Di sinilah, Kongres ESC 2013 diselenggarakan.

Mengapa istri memilih “mengaji” ilmu penyakit jantung di ESC?

Menurut Mas dr. Muhammad Toyibi Sp.JP, dokter spesialis penyakit jantung yang kala itu juga anggota Indonesian Medical Council, di dunia ini ada dua kegiatan yang paling bergengsi yang berkaitan dengan ilmu penyakit jantung. Salah satunya adalah kegiatan ilmiah yang diselenggarakan ESC itu. Tidak aneh jika Kongres ESC 2013 dihadiri sekitar 43 ribu dokter (khususnya dokter spesialis penyakit jantung, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis anak) dari berbagai penjuru dunia. Ya, 43 ribu dokter. Luar biasa!

Tak aneh, jika ke kongres ini pula istri akan “mengaji”. Selama beberapa hari. Bukankah “mengaji”, meminjam ungkapan Gus Mus, ketika  memberikan tausiyah di Pondok Pesantren As-Salam, Cepu, Jawa Tengah, pondok pesantren yang didirikan kakek saya, Kiai Usman, ‘tidak hanya tentang ilmu-ilmu yang dewasa ini disebut dengan sebutan ilmu-ilmu agama saja’. Mendalami ilmu kedokteran juga “mengaji” kok

Kados mekaten, nggih, Gus Mus. Bukankah begitu, Gus Mus? (Bersambung)