Mengadu ke Ombudsman, Eks Napi Mengaku Disiksa hingga Dipaksa Masturbasi

Mengadu ke Ombudsman, Eks Napi Mengaku Disiksa hingga Dipaksa Masturbasi
Mengadu ke Ombudsman, Eks Napi Mengaku Disiksa hingga Dipaksa Masturbasi (ANTARA FOTO)

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com - Menjalani kehidupan sebagai narapidana, ternyata juga harus menghadapi berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh petugas lapas.

Tak hanya dicambuk dengan menggunakan pipa plasttik atau dengan menggunakan kayu, tetapi juga menggunakan kemaluan sapi yang dikeringkan.

Tak hanya tidak diberi jatah makan, tetapi juga harus memakan muntahan sendiri. Bahkan harus melakukan onani dengan menggunakan mentimun yang diisi sambal.

Itulah yang disampaikan belasan mantan narapidana Lapas Narkoba Yogyakarta. 

Setelah mereka selesai menjalani pemidanaan, mereka kemudian mengadu ke Ombudsman RI Perwakilan DIY di Gejayan, Sleman, Senin (1/11).

Baca Juga

Mantan napi mengadu ke ombudsman (Atan S)

Bersama belasan mantan narapidana Lapas Narkoba lainnya, Vincentius Titihita Rupadatu mengemukakan, para narapidana, termasuk dirinya saat menjalani pidana di Lapas Narkoba,  selalu mendapat perlakukan buruk. 

“Dipukuli dengan menggunakan selang atau pipa plastic, bahkan ada yang dengan kawat berduri atau dengan kemaluan sapi yang dikeringkan,” katanya.

Vincen sendir selama 17 bulan menghuni di Blok Edelweis. Ia mengaku sering pula menyaksikan teman-temannya sesame narapidana yang mendapat perlakukan yang sama.

Bahkan, ujarnya, jika ada narapidana yang muntah, maka wajib bagi narapidana tersebut untuk memakan kembali bekas muntahannya.

Pada pengaduan tersebut, para pengadu juga menunjukkan bekas-bekas luka di sekujur tubuh mereka.

Selain mengadukan apa yang mereka terima, mereka juga menyampaikan beberapa nama petugas Lapas yang sering melakukan aksi kekerasan terhadap narapindana antara lain berinisial AG, BP, DA dan Ibn.

Menanggapi pengaduan ini, Ketua Ombudsman RI Perwakilan DIY Budhi Masturi mengatakan akan segera mengambil langkah termasuk konfirmasi ke pihak-pihak yang diadukan. 

“Kalau ada pembantahan akan kami pertemukan,” katanya.
Budhi mengaku belum dapat banyak berkomentar, karena sebelumnya sudah menerima pengaduan yang serupa dari mantan narapidana Lapas Wirogunan (Kota Yogyakarta) dan Lapas Wanita di Wonosari.

“Kami sudah menerima pengaduan sejak tiga bulan lalu dan ini sudah ada yang mendekati kesimpulan,” katanya.