Memperingati Maulid Nabi di Masa Pandemi

Memperingati Maulid Nabi di Masa Pandemi
Syihabuddin Qalyubi

Oleh: Syihabuddin Qalyubi

DI musim pandemi ini sudah bukan saatnya lagi memperbincangkan hukum memperingati Maulid Nabi, karena jauh-jauh hari Dar Al Iftâ Mesir sudah menjelaskan bahwa perayaan  Maulid Nabi adalah manifestasi rahmat ilahi bagi seluruh sejarah manusia. Al-Qur'an mengungkapkan keberadaan Nabi saw, sebagai rahmat bagi umat manusia di dunia dan akhirat, rahmat yag tidak terbatas, karena telah mendidik dan membimbing manusia menuju jalan yang lurus untuk mencapai kesejahteraan material dan spiritual.

Merayakan hari lahir junjungan kita Muhammad saw adalah merupakan ekspresi kegembiraan dan kecintaan. Cinta kepada Nabi saw adalah salah satu dasar keimanan. Rasul saw sendiri bersabda : “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya, dan semua manusia. (HR Al-Bukhari). Ibnu Rajab berpendapat bahwa mencintai Nabi Muhammad saw merupakan salah satu pondasi iman, dan sebagai langkah untuk mendekatkan diri kepada mahabbah Allah swt

Rasulullah saw, telah memberikan contoh  kepada kita tentang bersyukur kepada Allah atas kelahirannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwasanya beliau biasa puasa di hari Senin, Beliau bersabda bahwa hari Senin adalah hari kelahiranku. Berpuasanya pada hari kelahirannya merupakan manifestasi kesyukurannya atas anugerah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Maka merupakan suatu keharusan bagi umatnya untuk meneladaninya.

Syaikh al-Azhar baru-baru ini memberikan penyataan. Kita merayakan maulid Nabi dan Rasul penutup, bukanp merayakan tokoh yang sejarah mencatat sedikit atau banyak tentang peran mereka  lalu segera menghilang dan orang-orang pun meninggalkannya.  Tetapi suatu perayaan dari macam yang berbeda, peryaan tentang kenabian, wahyu Ilahi dan duta langit ke bumi, sosok manusia yang mulia dari derajat dan kedudukan yang paling tinggi, paling agung dalam budi pekertinya. Ini merupakan perayaan bagi sosok karena pencapaiannya mendekati akhlaq Allah swt, sejauh manusia bisa mencapainya.

Sudah barangtentu maulid di musim pandemi ini, di samping pembacaan shalawat dan kegiatan-kegiatan lainnya sebagai manifestasi kecintaan kita kepada baginda Rasulullah, juga melaksanakan perintah-perintahnya yang kontekstual dengan masa pandemi ini. Antara lain menjaga Protokol Kesehatan. Secara sepintas kegiatan itu melulu melaksanakan perintah pemerintah, padahal jika ditelusuri dalam berbagai sabda Rasulullah saw bisa kita jumpainya dalam berbagai hadits.. Antara lain, sabda Rasulullah saw : “lá dlarara wa lá dlirâra” (janganlah kamu mencelakakn dirimu dan jangan pula mencelakakan diri orang lain).

Tidak  mencelakakan diri kita sendiri manifestasinya pada musim pandemi ini adalah dengan cara sering mencuci tangan dengan sabun, karena jika tidak dicuci dikawatirkan kita akan terkena virus, dan menjauhi dari kerumunan. Jika kita merasa kurang sehat hindari berinteraksi dengan orang lain, gunakanlah masker karena bisa jadi penyakit  yang kita derita bisa menulari orang menyebabkan orang lain sakit. 

Sekalipun, sesuai dengan informasi dari bapak presiden bahwa covid-19 sekarang sudah melandai, kewaspadaan akan virus tersebut jangan abai. Mari kita laksanakan acara memeperingati maulid Nabi saw sebagai manifestas kecintaan kita kepadanya, namun jangan sampai abai terhadap sabda-sabdanya yang menganjurkan umatnya agar senatiasa memperhatikan kesehatan diri, orang lain, serta alam sekitar. (*)

*Prof Dr KH Syihabuddin Qalyubi, Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga.