Membuang Kerikil di Sepatu KPK

Membuang Kerikil di Sepatu KPK
Ilustrasi

Oleh: Imas Senopati

KERIKIL itu batu kecil. Andai ada orang kejatuhan kerikil tak terasa sakit. Mungkin hanya kaget. Tapi jika kerikil itu berada dalam sepatu, si pemakai sepatu akan merasakan ketidaknyamanan yang sangat. Dari sekadar terganggu sampai rasa nyeri. Diipakai jalan kaki biasa tak nyaman. Apalagi untuk berlari. Maka begitu kerikil dikeluarkan dari sepatu, plong rasanya...

Itulah pengandaian yang pas untuk pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari-hari ini. Setidaknya yang digambarkan oleh mereka yabg tidak setuju adanya pemecatan terhadap 57 pegawai KPK tela 57 pada 30 September 2021.

Berbagai upaya penghalangan pemberhentian itu rame-rame dilakukan. Ada demo besar di  Jakarta dan berbagai daerah. Ada aksi penggalangan tanda tangan menolak pemberhentian. Ribuan suara imbauan. Pernyataan sikap para akademisi dan pegiat anti korupsi. Puluhan ribu surat dilayangkan kepada Presiden Joko Widodo.

Mulai 1 Oktober hari ini mungkin kerikil itu, sudah lepas dari sepatu pimpinan KPK. Mereka tak lagi berjalan terseok. Kaki tak lagi terganjal dalam sepatu. Mestinya mereka bisa berjalan normal tanpa menahan rasa sakit. Ya, berjalan tegak melaksanakan program-programnya. Tak ada lagi alasan yang menjadi dalih mengapa kinerja KPK menurun, mengapa sering kecolongan. Harun Masiku lari tak terkejar, misalnya. Banyak petinggi negara disebut-sebut dalam sidang-sidang korupsi tapi tak disentuh.

Publik sebaiknya jeli mengikuti perjalanan lembaga antirasuah itu sedikitnya setahun ke depan. Apakah KPK semakin baik kinerjanya atau semakin jeblok? Atau biasa-biasa saja, tanpa prestasi menonjol. Bagaimana hasil penelitian lembaga-lembaga survei, apakah tingkat kepercayaan masyarakat semakin melorot? Ya, waktulah yang akan bicara.

Itu cara pandang yang obyektif tanpa prasangka buruk. Kita lihat KPK apakah sudah bekerja sesuai planning dan target. Kita ukur setahun kemudian. Kalau bagus ya, kita support untuk lebih bagus lagi. Artinya pelepasan 57 pegawai dari "sepatu" KPK sudah sesuai dengan ekspekstasi. 

Sebaliknya kalau ternyata kinerja KPK jeblok. Bukan salah "kerikil" yang masuk "sepatu KPK" Bisa jadi sesungguhnya nggak ada kerikil yang merecoki mereka. Bisa jadi sepatu yang mereka pakai kebesaren atau kesempitan. Pimpinan KPK hanya takut hantu yang mereka ciptakan sendiri. 

Kita perlu mengubah pendekatan dari terus bersuuzon dan mempressure  pimpinan KPK menjadi husnuzon. Kita beri kesempatan kepada mereka untuk melakukan pembuktian. Tak  perlu lagi meminta-minta Pak Jokowi untuk campur tangan. Tak guna lagi demonstrasi berjilid-jilid. Banyak masalah lain yang mesti diurus.

Kapolri sudah memanggil mereka menjadi ASN dI Polri. Toh kalau memang niatnya berbakti kepada negara, tetap ada ruang pengabdian.*