Sepenggal Kisah Kluyuran di Seputar Jembatan Bosphorus, Istanbul

Melongok Perbatasan antara Eropa-Asia

Melongok Perbatasan antara Eropa-Asia

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“OH. Ini kan Jembatan Bosphorus. Jembatan yang menghubungkan dua benua, Asia dan Eropa!”

Demikian gumam bibir saya. Tiga hari yang lalu. Hari itu, saya sedang asyik menghimpun kembali foto-foto perjalanan saya ke Turki: sebuah negara yang pernah saya tengok sebanyak 22 kali. Sejak 2009 hingga kini.

Melihat foto-foto tersebut, segera benak saya pun “melayang-layang”. Jauh. Ke Istanbul pada Maret 2010. Kala itu, waktu baru menunjuk pukul tujuh pagi. Ketika itu, bus yang saya naiki, bersama 22 orang dari Indonesia, baru saja bergerak pelan. Bergerak pelan meninggalkan hotel yang terletak di samping Stasiun Trem Pazartekke, Istanbul. Tujuan kami pagi itu adalah Bursa. Kota yang terletak sekitar 150 kilo meter di sebelah tenggara Istanbul ini adalah sebuah kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan Dinasti Usmaniyah sebelum berhasil menguasai Istanbul.

Kala itu sendiri, kabut masih “berenang”. Ke mana-mana. Udara pun masih mampu membuat tubuh menggigil. Kemudian, ketika bus itu melintas di samping Stasiun Trem Aksaray, segera saya tersadarkan kalau tidak jauh dari situ, lewat Gençtürk Cd, di seberang Gedung İstanbul Büyükşehir Belediyesi, alias Pemerintah Kota Metropolitan Istanbul, tegak Masjid Sehzade. Masjid ini, ternyata, merupakan salah satu karya puncak seorang arsitek terkemuka Turki pada Masa Mertengahan: Mimar Sinan Pasha.

Masjid Sehzade dirancang oleh Mimar Sinan atas perintah Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Masjid itu sendiri mulai dibangun pada 954 H/1547 M, ketika Sinan berusia 58 tahun dengan tiga bangunan utama: bangunan dalam, bangunan luar, dan pelataran. Bangunan dihiasi kubah utama yang tingginya mencapai 37 meter. Garis tengah kubah itu memiliki panjang18.42 meter. Kubah utama itu dikitari empat kubah yang lebih kecil ukurannya. Setiap separuh dari kubah-kubah kecil itu dinding kubah utama, untuk membuat masjid itu kian luas. Untuk mengurangi kesan berat masjid itu, dibangunlah ruang-ruang di samping bangunan dalam itu. Di sisi lain, pembangunan masjid itu mengantarkan Sinan pada masjid dengan kubah raksasa. Dan, masjid itu sendiri merupakan langkah pertamanya dalam melahirkan karya-karya besar.

Selepas menyusuri Turgut Ozal Cd. dan melintasi Stasiun Trem Aksaray, bus yang kami naiki kian bergerak cepat. Melintasi berbagai jalan di berbagai penjuru Kota Istanbul. Musim semi yang ditingkahi gerimis tampaknya membuat warga kota itu masih enggan meninggalkan tempat kediaman mereka masing-masing. Karena itu, jalan-jalan masih tampak agak lengang.

Keadaan lengang yang demikian itu memberikan kesempatan bagi saya untuk mencermati berbagai bangunan yang menghiasi kota itu. Ternyata, menurut pengamatan saya, bangunan-bangunan yang ada di kawasan Old City, Istanbul, tidak lebih dari lima lantai. Dengan kata lain, di kawasan itu tiada bangunan yang tinggi menjulang. Berbeda dengan bangunan-bangunan yang menghiasi Kota Kairo yang kusam, karena jarang disiram hujan, bangunan-bangunan di kawasan Old City, Istanbul cukup terawat baik dan bersih.

Tidak lebih dari setengah jam kemudian, Jembatan Bosphorus (Bosphorus Bridge atau dalam bahasa Turki disebut Boğaziçi Köprüsü) telah kelihatan. Dalam pandangan mata. Melihat jembatan itu, segera saya tersadarkan, di lokasi itulah, pada 512 sebelum Masehi, Raja Darius dari Persia membuat jembatan dari sederet kapal (pontoon) untuk menyeberangkan pasukannya menuju kawasan Eropa. Namun, jembatan yang ada dewasa ini bukanlah warisan dari sang raja. Namun, merupakan “warisan” dari sebuah konsorsium sejumlah perusahaan Eropa dan pemerintah Turki.

Lembaran sejarah menorehkan, yang pertama kali berusaha membangun jembatan antara Benua Asia dan Benua Eropa, dengan melintasi Selat Bosphorus, adalah Raja Darius (522-485 sebelum Masehi). Nah, kala ia menggerakkan pasukannya untuk menaklukkan Macedonia, ia membangun jembatan pontoon di antara dua benua itu. Selepas itu, sederet usaha telah dilakukan untuk “membentangkan” jembatan panjang di antara kedua benua itu. Pada abad ke-18 M, misalnya, sejumlah insinyur Perancis telah mengajukan rancangan sebuah jembatan yang menghubungkan dua benua itu. Selepas itu, pada 1323 H/1905 M, rancangan lain diajukan sebuah tim dari Jerman. Lantas, pada tahun-tahun 1930-an sebuah tim lain dari Eropa mengajukan rancangan lain lagi. Dan, pada 1372 H/1953 M, pemerintah Turki membuat rancangan lain lagi. Namun, seperti rancangan-rancangan sebelumnya, rancangan itu pun tinggal rancangan.

Kemudian, ketika tahun 1383 H/1963 M menampakkan dirinya, keinginan untuk membangun jembatan panjang yang membentang di antara Benua Asia dan Benua Eropa membara kembali.

Mengapa? 

“Ada dua faktor yang berubah,” jawab Robert Arndt dalam sebuah tulisannya berjudul “Bridge Across The Bosporus” (Saudi Aramco World, September/Oktober 1973), “Salah satunya adalah Istanbul sendiri. Kedua sisi Selat Bosphorus, selama sepuluh tahun terakhir, telah berkembang seperti diperkirakan para perencana akan terjadi selama seperempat abad ke depan. Lalu lintas dua jembatan yang membentang di atas Golden Horn telah mencapai puncak titik kepadatannya. Untuk menyeberang menuju kota dapat memakan waktu dua hingga enam jam. Ini bila naik feri menyeberangi Selat Bosphorus juga dihitung.

Perubahan yang satunya lagi adalah teknologi pembangunan jembatan mengalami perkembangan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Seluruh lima jembatan gantung yang dibangun di antara 1953 dan 1963 telah memecahkan rekor atau meraih kemajuan dalam seni pembangunan jalan raya yang setengah menggantung di bentangan baja ulir. Karena itu, ketika Freeman Fox & Partners dari London, sebuah perusahaan paling berpengalaman dan inovatif di bidang tersebut, mendapatkan kerja (pada 1968) untuk merancang sebuah jembatan Bosphorus baru, impian itu akhirnya terwujud.”

Lima tahun kemudian, tepatnya pada Selasa, 3 Syawwal 1393 H/30 Oktober 1973 M, dilakukan peresmian jembatan yang dibangun oleh sebuah perusahaan Turki, Enka Construction & Industry Co., bersama sebuah kontaktor Inggris, Cleveland Bridge & Engineering Co. Ltd., dan sebuah kontraktor Jerman, Hochtief AG. Itulah jembatan pertama yang dibangun di atas Selat Bosphorus. Sebuah jembatan yang menghubungkan antara Asia dan Eropa, semenjak dibikinnya jembatan pontoon oleh Raja Darius.

Selepas melintasi Jembatan Galata, yang trotoarnya belum lagi dipenuhi para pemancing, tidak lama kemudian Jembatan Bosphorus kian dekat di depan mata. Bosphorus, yang secara harfiah berarti “iring-iringan sapi”, adalah muara Laut Hitam yang arusnya bergerak menuju Laut Marmara. Selat itu memiliki panjang sekitar 32 kilometer. Lebarnya beragam. Di Büyükdere, lebarnya sekitar 3.4 kilometer. Sedangkan di sekitar Rumeli Hisari, lebarnya hanya sekitar 660 meter. Di bagian tertentu dari selat itu, lebarnya ada yang mencapai 4.7 kilometer. Kedalaman selat itu juga beragam. Rata-rata dalamnya 70 meter. Namun, ada bagian tertentu dari selat itu yang memiliki kedalaman 100 meter.

Dengan karakteristik Selat Bosphorus yang demikian, tidak aneh bila Selat Bosphorus amat kondang sebagai kawasan turis dan kawasan pelayaran internasional yang menghubungkan Eropa dengan Timur Tengah. Dengan melintasi selat itu pula, truk-truk mengangkut berbagai barang menuju Timur Tengah. Demikian halnya kapal-kapal tanker raksasa yang mengangkut minyak dari Irak dan Iran menuju Eropa juga harus melintasi selat itu. Karena itu kerap dikatakan, Istanbul merupakan pintu gerbang Eropa dari Timur Tengah. Ya, pintu gerbang Eropa dari Timur Tengah!

Tidak pelak lagi, Selat Bosphorus tidak hanya menyajikan keindahan semata. Namun, juga merupakan sumber pendapatan bagi Turki. Bila musim panas tiba, turis-turis mancanegara-terutama dari Eropa-ramai berdatangan. Untuk menyaksikan keelokan Istanbul dan kawasan sekitarnya. Bagi orang-orang Eropa, pusaka historis Istanbul sejatinya tidak terlalu asing. Pusaka historis itu memang merupakan cikal bakal peradaban mereka. Mereka datang tidak hanya dengan naik pesawat terbang. Namun, mereka juga dengan menggunakan jalan darat. Malah, banyak pelancong Eropa yang datang ke Istanbul dengan naik sepeda. Karena itu kerap dikemukakan, Istanbul merupakan “Serambi Eropa” atau “Pintu Gerbang Eropa”. Memang, secara geografis Istanbul adalah bagian dari Eropa.

Ketika bus  yang kami naiki mendekati Jembatan Bosphorus, ohoi ternyata antrian berbagai jenis kendaraan telah mengular panjang. Terutama antrian kendaraan yang berasal dari arah yang berlawanan dengan bus yang kami naiki: dari Benua Asia. Saat itu, memang, saat orang-orang berangkat kerja. Karena itu, bus itu hanya kuasa beringsut pelan, meniti jalan menanjak ke arah jembatan. Di bawah jembatan, baik kanan maupun kiri, bercuatan berbagai istana, rumah, gedung, maupun masjid. Melihat tampilan indah berbagai istana, rumah, dan gedung yang menghiasi kedua sisi selat itu, dapat diperkirakan hanya kelas masyarakat tertentu saja yang mampu membangun dan memilikinya.

“Mas,” urai saya kepada seorang sahabat yang duduk di samping saya, “di depan kita, di ujung jembatan, kita nanti dapat melihat billboard warna kuning bertuliskan ‘Selamat Datang di Asia!’ (Welcome to Asia!). Dengan kata lain, selepas melintasi tulisan itu, kita tidak lagi berada di Benua Eropa. Namun, kita berada di Benua Asia. Sebaliknya, ketika nanti melintasi jembatan yang sama, tapi dari arah yang berlawanan,  di ujung yang berlawanan, juga terdapat billboard yang sama dengan tulisan lain, ‘Selamat datang di Eropa!’ (Welcome to Europe!).”

Begitu bus yang kami naiki sampai di ujung Jembatan Bosphorus, di sisi kanan bus terdapat billboard berwarna kuning dengan tulisan “Welcome to Asia!” Segera saja, banyak di antara para penumpang bus yang “mengabadikan”nya dengan bidikan kamera-kamera mereka. Dengan melintasi billboard tersebut, kami pun  berada di Distrik Üsküdar. Yang berada di Benua Asia.

“Selamat datang di Asia dan Eropa!” gumam saya dalam hati. Entah kenapa, selepas bergumam demikian, segera saya teringat sebuah puisi Johann Wolfgang von Goethe, seorang sastrawan Jerman:

Gottes ist der Orient!

Gottes ist der Okzident!

Nord und Sudliches Gelande

Ruht im Freiden seiner Hande.

Punya Tuhanlah Timur!

Punya Tuhanlah Barat!

Benua Utara dan Selatan

Terhampar damai di tangan-Nya.

Benar, memang, ucapan Goethe itu. Timur dan Barat adalah milik Tuhan. Ke mana pun menghadap, di situ Tuhan berada!