Massa Berbaju Hitam Bawa Bom Molotov dan Rusak Fasilitas Umum Susupi Demo PPKM

Massa Berbaju Hitam Bawa Bom Molotov dan Rusak Fasilitas Umum Susupi Demo PPKM
Foto-kompas.com

BANDUNG, SENAYANPOST.com - Demo penolakan dilanjutkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Balai Kota Bandung, Kamis (21/7/2021) diwarnai kericuhan akibat masuknya sekelompok massa berbaju hitam. 

Unjuk rasa ini berawal dari aksi di media sosial mengajak para mahasiswa, ojek online (Ojol), dan pedagang kaki lima untuk melakukan demo. Demonstran meminta rumah makan bisa buka hingga pukul 21.00 WIB, dan mendapatkan izin akses jalan apabila ada penyekatan selama ada izin petugas.  

"Namun kita ketahui bahwa ojol dan kaki lima tidak akan ikut campur karena ini urusannya akan mengganggu Kamtibmas Kota Bandung sehingga mereka memisahkan diri," ungkap Polrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya di Gedung Sate, Rabu. 

Setelah massa Ojol dan PKL membubarkan diri mengikuti arahan petugas kepolisian sekitar pukul 13.00 dan menghindari massa berbaju hitam yang mulai menyusup. 

"Adapun mahasiswa yang unjuk rasa itu sekitar 150 orang dan itu ditunggangi pihak lain yang akan membuat Kota Bandung ini tidak kondusif," ungkapnya. 

Demo sempat berlangsung ricuh pada pukul 13.00 WIB antara pihak kepolisian dan massa berbaju hitam. Namun, kericuhan hanya berlangsung sekitar lima menit. 

"Mereka melakukan long march ke Gedung Sate, tetapi sesampainya di perempatan jalan mereka melakukan penutupan jalan, dengan melakukan orasi, sehingga menjadi kemacetan panjang," ungkapnya.   

Di antara sebanyak 150 orang itu, petugas menemukan bom molotov yang diduga dipersiapkan oknum pada kelompok itu untuk membuat kondisi Kota Bandung tak kondusif. Ratusan orang yang diamankan tersebut terdiri dari mahasiswa, pelajar SMA, SMP, putus sekolah, hingga pengangguran. 

"Alhamdulillah mereka tertangkap dan barbuk (barang bukti) bom molotov sudah kita sita semua. Ada lima orang yang bawa bom molotov dan kita lakukan pemeriksaan oleh reskrim (reserse kriminal), serta di tes swab," ungkapnya. 

Selain itu, oknum kelompok berbaju hitam juga melakukan perusakan fasilitas umum di sekitar jalan yang dilalui mereka saat long march tersebut. 

"Kemudian mereka melakukan perusakan-perusakan di sekitarnya, ada 60 pot yang dirusak," ungkapnya. 

Guna menghidari perusakan dan tindakan anarkis yang lebih luas lagi, petugas kepolisian langsung melakukan pembubaran kelompok massa anarkis kala itu.   Ada yang reaktif, tak patuh prokes Ulung juga menambahkan, kelompok massa itu tidak mematuhi protokol kesehatan (Prokes) seperti tak menggunakan masker. 

"Kita bubarkan mereka karena tidak mematuhi prokes, tidak memakai masker, menutup jalan sehingga terjadi kemacetan panjang, kemudian mereka melakukan perusakan," terang Ulung. 

Mereka lalu di kumpulkan di halaman gedung sate, tepatnya di depan kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jabar, Gedung B. 

Kemudian, dari ratusan pemuda ini dilakukan tes swab antigen untuk memastikan kesehatan mereka. Namun hasilnya ada beberapa orang yang dinyatakan reaktif. 

"Dan hasil sementara untuk swab antigen ternyata baru dimulai, sudah tiga orang dinyatakan reaktif, artinya memang kerawanan dalam kerumunan itu sangat tinggi sekali, menyebarkan penyebaran Covid-19 itu, mereka seolah-seolah tidak ada Covid-19, dan tidak pakai masker," ungkapnya. (Jo)