Menelisik Sejarah Masjid di Madinah Al-Munawwarah:

Masjid Bi’r ‘Ali

Masjid Bi’r ‘Ali
Madinah Al-Munawwarah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“MASYAALLAH. Jadi, penisbatan nama itu, selama ini, salah ya!”

Demikian gumam bibir saya. Kemarin. Ya, bibir saya bergumam demikian ketika menyimak sebuah tulisan yang mengemukakan bahwa, ternyata, penisbatan nama sebuah masjid kondang di Madinah Al-Munawwarah, Masjid Dzulhulaifah, kepada seorang sahabat kondang yang juga menantu Rasulullah Saw., ‘Ali bin Abu Thalib, keliru. Duh!

Selama ini, masjid yang tegak di antara Hijrah Road (dalam bahasa Arab disebut “Tharîq Al-Hijrah”) dan Omar Bin Al Khattab Road (dalam bahasa Arab disebut “Tharîq ‘Umar bin Al-Khaththâb”) di bagian barat Lembah Al-‘Aqiq ini juga disebut Bi’r (yang berarti “sumur’) ‘Ali, atau Abyar (yang berarti “sumur-sumur”) ‘Ali. Disebut demikian, karena di daerah tersebut, menurut penuturan yang berkembang selama ini, pernah ada beberapa sumur milik ‘Ali bin Abu Thalib, seorang menantu tercinta Rasulullah Saw. yang juga sepupu beliau. Menurut penuturan tersebut, tidak jauh dari masjid itu, konon, terdapat sumur-sumur milik ‘Ali bin Abu Thalib. Karena itu, masjid itu kemudian juga terkenal dengan sebutan Masjid Bi’r ‘Ali atau Masjid Abyar ‘Ali.

Kini, jika penisbatan itu keliru, lantas siapakah sosok ‘Ali yang namanya dinisbatkan pada masjid yang menjadi mîqât bagi para jamaah haji dan umrah yang berasal dari kawasan Madinah itu?

 Penguasa Asal Sudan

Ternyata, ‘Ali tersebut adalah seorang penguasa Darfur, Sudan. Nama lengkapnya adalah ‘Ali bin Dinar. Berkenaan dengan tokoh ini, ‘Abdullah ‘Umar Khayyath, seorang penulis Arab Saudi, dalam sebuah tulisannya berjudul “Haqîqah Mu’tsirah ‘an ‘Abyâr ‘Alî’” (lihat https://www.okaz.com.sa/articles/na/1655708), mengemukakan:

“Mungkin sebagian orang berpendapat, nama Abyar ‘Ali diambil dari nama ‘Ali bin Abu Thalib r.a. Padahal, ini tidak benar. Yang benar, subutan itu diambil dari nama ‘Ali bin Dinar.

‘Ali bin Dinar  ini datang ke Miqat (Dzulhulaifah) pada 1315 H / 1898 M sebagai seorang peziarah (lebih dari dari 113 tahun yang lalu). Kala itu, ia menemukan kondisi Miqat Dzulhulaifah sangat menyedihkan. Karena itu, ia kemudian menggali beberapa sumur untuk menyediakan minum bagi para peziarah. Selain itu, ia juga menyajikan mereka makan dan memperbarui Masjid Dzulhulaifah, masjid tempat Nabi Saw.  melaksanakan shalat sebelum beliau berangkat (menuju Makkah) naik haji dari Madinah.  Sehingga, karena langkah-langkahnya tersebut, masjid itu menjadi semarak kembali. Itulah sebabnya tempat itu disebut Abyar ‘Ali, sebutan yang dinisbatkan kepada ‘Ali bin Dinar.

Siapakah ‘Ali bin Dinar ini?

Ia adalah penguasa Darfur, wilayah yang mungkin baru kita dengar. Semula, kami mengira, Darfur merupakan suatu kawasan tandus dan kering kerontang di Sudan Barat. Ternyata, dari tahun 1898 M hingga 1916 M, Darfur merupakan sebuah kesultanan Muslim dengan penguasanya bernama ‘Ali bin Dinar. Sultan ini, ketika Mesir terlambat mengirimkan Kiswah (penutup Ka'bah), lantas mendirikan sebuah pabrik pembuatan Kiswah di kota el-Fasher (ibu kota Darfur). Selama hampir 20 tahun, sejak itu, ia mengirimkan Kiswah ke Makkah Al-Mukarramah dari El Fasher, ibu kota Darfur.

Kesultanan Muslim ini, ternyata, memiliki luas yang sama dengan luas Republik Perancis, dengan populasi 6 juta orang. 99% di antara mereka memeluk Agama Islam (ini merupakan persentase tertinggi para pemeluk Islam di antara di negara-negara Muslim. Selain itu, lebih dari 50% penduduk Darfur hafal Alquran). Tidak aneh jika kaum Muslim Afrika menyebut negeri ini dengan sebutan “Dua Sampul Alquran.” Hingga belum lama ini, ada sebuah ruwaq (asrama para mahasiswa) dengan bernama “Ruwaq Darfur” di lingkungan Al-Azhar Al-Syarif, Kairo, Mesir. Di ruwaq tersebut, banyak warga Darfur bermukim untuk menimba  ilmu di Al-Azhar.”

Sultan ‘Ali bin Zakariyya bin Muhammad Al-Fadhl ini lahir pada 1856 M. Ia menjadi penguasa Kesultanan Darfur dari Dinasti Keira.Tokoh yang mendukung Turki dalam Perang Dunia I (1914-1916) ini tewas pada 6 November 1916, dalam pertempuran melawan pasukan Inggris.

Kini, kita kembali ke Masjid Bi’r ‘Ali. Lokasi masjid ini sendiri cukup unik. Bila dilihat dari kejauhan, masjid ini seolah berada di lembah dengan menaranya yang memiliki tinggi 64 meter dan mencuat dari balik pepohonan yang rimbun di tengah bukit bebatuan ini terletak di jalan raya Madinah-Makkah. Karena sebagai tempat mengambil mîqât, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Al-Miqat. Ada juga yang menyebutnya Masjid Al-Ihram.

Selain itu, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Syajarah (pohon). Nama terakhir itu merujuk peristiwa sejarah: Rasulullah Saw. pernah duduk di bawah pohon saat menuju Makkah. Di dekat pohon itulah masjid ini dibangun dan beliau shalat di dalamnya. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Dzulhulaifah, karena itulah nama distrik atau daerah tempat masjid ini berada.

Hasil Rancangan Seorang Arsitek Kondang

Dewasa ini, arsitektur masjid indah yang terletak pada koordinat geografi: 24°24'49.314" LU, 39°32'34.694" BT ini merupakan hasil rancangan seorang arsitek terkemuka asal Mesir, Abdel Wahed El-Wakil.

Siapakah arsitek yang hinggga kini berhasil meraih sederet penghargaan, antara lain King Fahd Award for Research in Islamic Architecture, Aga Khan Award for Architecture dan Richard H. Driehaus Prize ini?

Ketika para jamaah haji atau umrah berziarah ke Madinah, mereka pada umumnya juga berziarah ke beberapa masjid yang tegak di Kota Nabi itu. Misalnya, ke Masjid Quba’, Masjid Qiblatain, atau Masjid Dzulhulaifah. Ketika berada di masjid-masjid tersebut, untuk beribadah, mungkin tidak banyak di antara mereka yang tahu, sejatinya  rancangan tiga masjid indah yang menghiasi Kota Nabi itu lahir dari satu tangan: seorang arsitek kondang. Itulah Abdel Wahed El-Wakil.

Arsitek kondang yang satu ini lahir pada Sabtu, 5 Sya‘ban 1362 H/7 Agustus 1943 M di Kairo, Mesir. Sejak lama, ia terkenal sebagai arsitek kontemporer yang konsisten menggeluti arsitektur Islam. Ia mengenyam pendidikan tinggi di Universitas ‘Ain Shams, Kairo. Di universitas yang berdiri pada Ramadhan 1369 H/Juli 1950 M dengan nama Universitas Ibrahim Pasha itu, ia belajar arsitektur dan lulus pada 1385 H/1965 M.

Selepas itu, arsitek yang karya-karya arsitekturnya bertebaran di berbagai negara, antara lain di Bahrain, Brunei Darussalam, dan Inggris ini diangkat sebagai dosen di universitas tersebut. Dua tahun selepas itu, pemikirannya tentang aristektur mengalami perubahan mendalam selepas bertemu dengan Hassan Fathy, seorang arsitek terkemuka Mesir. Jalinan kontak dengan Hassan Fathy membuat ia tertarik pada gaya arsitektur tradisional. Padahal, sebelumnya, ia hanya mengacu pada rancangan-rancangan modern.

Konsistensi dalam menggunakan teknik dan bentuk arsitektur tradisional mengantarkan arsitek yang juga dikenal sebagai perancang bangunan Oxford University Centre for Islamic Studies itu sebagai pemenang Richard H. Driehaus Prize pada 1430 H/2009 M.  Hadiah itu diberikan University of Notre Dame School of Architecture, Amerika Serikat. Selain penghargaan tersebut, ia juga menerima sederet penghargaan lain. Antara lain, dua penghargaan Aga Khan Awards untuk bidang arsitektur pada 1400 H/1980 M dan 1409 H/1989 M serta King Fahd Award for Research in Islamic Architecture pada 1405 H/1985 M.

Di sisi lain, lewat sentuhan tangan Abdel Wahed El-Wakil, lahir sederet masjid dengan desain-desain tradisional.  Termasuk Masjir Kerk Street di Johannesburg, Afrika Selatan, dan sejumlah masjid lainnya di Jeddah, antara lain Masjid Corniche, Masjid Al-Haritsi, Masjid Aziziyah, Masjid Al-Jufalli, dan Masjid Raja Saud.

Masjid Dzulhulaifah, yang dirancang Abdel Wahed El-Wakil dan dibangun pada 1407 H/1987 M,  istimewa. Masjid ini memiliki banyak lorong terbuka atau galeri di dalamnya. Di tengah lorong itu ada pepohonan. Di situ, para jamaah dapat beristirahat sejenak dan menyaksikan pemandangan sekitar. Masjid ini juga ditopang areal parkir dan kamar mandi yang banyak. Bagi yang belum sempat mandi ihram, di sini masih dimungkinkan.

Masjid ini pertama kali dibangun pada masa pemerintahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, saat ia menjabat Gubernur Madinah, antara 86-91 H/705-709 M. Dinasti Usmaniyah di Turki juga sempat memugar masjid ini pada tahun 1090 H/1679 M. Lantas, perluasan Masjid Dzulhulaifah alias Masjid Bi’r ‘Ali dilakukan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz. Lahan di sekitar masjid dibongkar untuk mendukung fasilitas masjid, seperti lahan parkir, dan penunjang lain.

Dengan renovasi itu, luas areal masjid menjadi sekitar 90 ribu meter persegi. Termasuk di dalamnya ruang terbuka di sekitar masjid. Luas bangunan masjid 26 ribu meter persegi. Sisanya, 34 ribu meter persegi terdiri dari jalan, areal parkir, pepohonan, serta paviliun. Lorong-lorong di dalam masjid sendiri memiliki luas enam meter. Galeri itu ditutup dengan kubah panjang di atas mihrab dengan tinggi 28 meter. Lantai masjid terbuat dari marmer dan batu granit. Pintunya dari kayu dengan ruangan dilengkapi fasilitas pendingin ruangan.

Di masjid ini terdapat 512 toilet dan 566 kamar mandi. Hal itu untuk menunjang para jamaah yang belum sempat mandi ihram dari tempat menginap. Ada juga kamar mandi dan tempat wudhu khusus bagi perempuan, jamaah cacat fisik, dan juga orang tua. Areal parkirnya mampu menampung 500 kendaraan kecil dan 80 kendaraan besar.

Nah, jika Anda naik haji dan umrah, dan ketika berada di  Masjid Bi’r ‘Ali, nikmatilah sejenak arsitektur indah masjid yang satu itu. Semoga demikian!