Ledakan Besar Gunung La Soufriere di St Vincent, 16 Ribu Orang Dievakuasi

Ledakan Besar Gunung La Soufriere di St Vincent, 16 Ribu Orang Dievakuasi
Abu naik ke udara saat gunung berapi La Soufriere meletus di Pulau Karibia timur St Vincent, dilihat dari Chateaubelair, Jumat (9/4/2021).(AP)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - La Soufriere menyemburkan abu vulkanik dan udara panas dalam jumlah besar, Senin (12/4/2021), yang merupakan erupsi terbesar sejak gunung berapi tersebut mulai aktif pekan lalu di kawasan Karibia. 

Sejumlah pakar menyebut erupsi tersebut sebagai sebuah "ledakan besar" yang memicu aliran lava solid di bagian selatan dan barat daya gunung tersebut.
 
"(Lava) menghancurkan segala yang dilewatinya," kata Erouscilla Joseph, Direktur University of the West Indies' Seismic Research Center.
 
"Orang yang belum mengungsi ke pusat evakuasi, sebaiknya segera melakukannya sekarang juga," sambung dia, dikutip Medcom dari laman Shine, Selasa (13/4/2021).

Sejauh ini belum ada laporan korban tewas maupun luka terkait erupsi La Soufriere, namun otoritas St Vincent bergegas merespons erupsi terbaru ini yang kekuatannya jauh lebih besar dari Jumat pekan kemarin.
 
Sekitar 16 ribu orang yang tinggal di area dekat La Soufriere di St Vincent telah dievakuasi sejak Kamis kemarin. Namun hingga kini masih ada sejumlah orang yang menolak dipindahkan.
 
Kekuatan dari rrupsi terbaru di La Soufriere disebut-sebut setara dengan peristiwa di tahun 1902 yang telah menewaskan sekitar 1.600 orang. 

Pada 1979, La Soufriere juga meletus dan abu vulkaniknya menyelimuti Barbados dan beberapa pulau di sekitarnya,.
 
Bantuan darurat seperti makanan, minuman, tenda, dan kebutuhan pokok lainnya disalurkan dari sejumlah negara ke St Vincent. Saat ini juga ada setidaknya empat kapal pesiar di pesisir St Vincent yang siap mengevakuasi warga dari ancaman La Soufriere.
 
Perdana Menteri St Vincent Ralph Gonsalves mengatakan kepada NBC Radio bahwa pemerintahannya akan melakukan apapun untuk membantu masyarakat yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.