Lebih Utama Ketimbang Beriktikaf Sepuluh Tahun

Lebih Utama Ketimbang Beriktikaf Sepuluh Tahun

KEHADIRAN bulan Ramadhan tak pernah sepi dari sambutan kaum Muslim. Demikian pula yang dilakukan ‘Abdullah bin Al-‘Abbbas, seorang sahabat dan saudara sepupu Rasulullah Saw. yang terkenal sebagai seorang ahli tafsir dan bernama lengkap Abu Al-‘Abbas ‘Abdullah bin Al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib bin Hasyim bin ‘Abd Manaf.

Putra pasangan suami-istri Al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib dan Ummu Fadhil Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits ini lahir tiga tahun sebelum Hijrah di Makkah, kala Bani Hasyim sedang diboikot kaum Quraisy di Al-Syi‘b. 

Ia lebih dahulu memeluk Islam daripada ayahnya. Di samping cerdas, sahabat yang baru berusia 13 tahun kala Rasulullah Saw. wafat ini juga dikenal memiliki ingatan sangat kuat. 

Selain itu, tokoh yang pernah menjabat sebagai Gubernur Basrah pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abu Thalib ini juga dikenal sebagai ilmuwan yang berwawasan luas dan “Bapak Ahli Tafsir (Al-Quran)”. Ini karena ia adalah sahabat Rasulullah Saw. yang pertama kali menyusun tafsir Alquran.

Nah, hari itu, ‘Abdullah bin Al-‘Abbas sedang berikikaf di Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah. Ketika ia sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba seorang pria datang menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya.

“Saudaraku,” ucap ‘Abdullah bin Al-‘Abbas selepas menjawab ucapan salam tamunya itu. “Kulihat engkau begitu resah dan gelisah. Ada apa?”

“Benar, wahai putra Al-‘Abbas! Aku memiliki utang kepada seseorang. Demi penghuni makam itu (maksudnya Rasulullah Saw.), aku tak mampu melunasi utang itu!” jawab pria itu. Dengan perasaan perih dan malu.

“Saudaraku! Bolehkah aku berbicara kepada orang itu?” ucap cucu ‘Abdul-Muththalib yang kelak wafat di Thaif itu. 

“Tentu! Silakan, jika hal itu menurutmu pantas,” jawab pria itu sambil berterima kasih.

‘Abdullah bin Al-‘Abbas pun keluar dari Masjid Nabawi dan mengenakan sandalnya. Melihat hal itu, seseorang menegurnya, “‘Abdullah bin Al-‘Abbas! Mengapa engkau keluar dari masjid? Lupakah engkau bahwa engkau sedang beriktikaf?”

“Tidak, Saudaraku!” jawab tokoh yang mendapat sejumlah gelar, antara lain “Al-Bahr” (Samudera), “Al-Hibr” (Yang Tampan), dan “Tarjuman Al-Qur’an” (Juru bicara Al-Qur’an) itu. “Akan tetapi, aku pernah mendengar penghuni makam itu berpesan, ‘Barang siapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya dan berupaya sungguh-sungguh untuk memenuhi keperluan itu, hal itu lebih utama baginya ketimbang sepuluh tahun beriktikaf. Dan barang siapa beriktikaf satu hari karena mengharapkan ridha Allah, Allah Swt. akan menjauhkan antara dirinya dan neraka sejauh tiga parit, yang jarak antara satu parit dengan parit lainnya lebih jauh ketimbang jarak antara langit dan bumi.’” (*)