Kunci Sukses Hadapi Radikalisme-Terorisme

Kunci Sukses Hadapi Radikalisme-Terorisme

BANYAK komunitas internasional bertanya, bagaimana sebuah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dianggap berhasil menangani terorisme dibanding negara Muslim lainnya.

Phil Caruso berusaha membedah rahasia itu. Sangat menarik membaca tulisan Caruso, mahasiswa Tillman Scholar-Harvard, tentang penanganan radikalisme di Indonesia. Menurutnya, penanganan radikalisme dan terorisme di Indonesia dirasa efektif karena melibatkan akulturasi agama dan kebudayaan lokal. 

Mitigasi penting dari kontra-terorisme itu terletak pada evolusi unik Islam yang melebur dalam budaya lokal (Islam Nusantara) dan ideologi Pancasila yang menjadi perekat kuat pluralitas. Faktor penting dari terciptanya sinergi raksasa itu adalah dua ormas keagamaan besar; Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Caruso menggaris-bawahi; sepanjang dua entitas ini sanggup menjaga keaslian ideologisnya, Indonesia akan tetap terjaga dari pengaruh radikalisme global.

Tidak lama pasca Reformasi, kelompok jihadis seperti Jamaah Islamiyah (JI) kembali ke Indonesia dengan memanfaatkan situasi politik yang baru saja siuman. Kebebasan bermanuver memungkinkan JI untuk mengeksekusi serial Bom Bali. Namun itu tidak lama. Secara bertahap pemerintah dan masyarakat berhasil mengoptimalkan ikatan agama dan budaya lokal yang guyub.

Ironisnya, belakangan ini negara kita diserbu oleh ideologi berbasis "Takfiri" yang berkedok sebagai pembaharu ajaran Islam. Mereka mengembangkan tafsir berbasis intoleran yang menjadi embrio radikal-ekstrimisme. Mereka secara aktif menyebarkan agitasi yang bisa memicu ledakan sosial kapan saja. Suriah, Afghanistan, Somalia dan Libya adalah contoh negara-negara yang telah hancur dan dimulai dengan cara ini. 

Mereka melakukan stigmatisasi berkedok tafsir agama untuk merobohkan pilar budaya kebangsaan kita - yang diharapkan akan melemahkan negara agar bisa dikuasai dengan mudah. Pengasong Khilafah dan Wahabi-Takfiri (yang secara amaliyah sama persis dengan Al-Qaeda, ISIS dan Taliban) adalah yang paling getol menyerang tiga pilar utama kita, terutama NU sebagai Ormas Islam terbesar. NU sering dimaki untuk dilemahkan sebagai "ahli bid'ah" melalui mimbar "tidak bid'ah" bernama: "Ibnu Android." 

Analisis Caruso itu bukan mengada-ada.  Kita merasakan gerakan radikalisme terus digancarkan melalui jalan dan politik, ekonomi, dan sosial budaya. Tapi selalu kempes oleh ketahanan ideologi bangsa ini. Meminjam istilah KH Ma’ruf paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila selalu tertolak.

Bangsa kita dipelopori oleh NU dan Muhammadiyah sejak dulu menganggap Pancasila sebagai mitsaqan ghalidha tak mau menerima ideologi yang diimpor dari mana pun.  Perpaduan antara nilai tradisi bangsa dengan nilai-nilai universal sudah menyatu jauh sebelum Indonesia merdeka dan kemudian menjadi kesepakatan luhur itu.

Saat bangsa-bangsa di Timur Tengah maupun Eropa-Amerika tertatih menghadapi terorisme dan radikalisme, bangsa kita relatif mudah mengatasinya. Garisnya sudah jelas, terutama konsistensi sikap ormas-ormas keagamaan dan masyarakat adat yang tak pernah berubah dalam mempertahankan keragaman dalam kesatuan.

Salam NKRI.