'KO-nya Petinggi Satgas Covid'

'KO-nya Petinggi Satgas Covid'
Ilustrasi

Oleh: Imas Senopati

KABAR mengagetkan: Prof Wiku Adisasmito jubir Satgas Covid-19 terpapar Covid-19. Lo kok bisa? Ya faktanya begitu. Sebelumnya Letjen TNI  Doni Monardo juga terkena sebelum pensiun. Bukankah dua orang itu yang selalu wanti-wanti agar masyarakat pakai masker, jaga jarak, hidup bersih, makan bernutrisi, hidup sehat bugar, dan sebagainya dan sebagainya.

Kurang apa Prof Wiku. Dia seorang dokter, hidup sehat bugar, nutrisi pasti terjamin. Doni Monardo juga. Seorang jenderal bintang tiga, ketika itu belum pensiun. So pasti berbadan bugar, syarat-syarat prokes tentu tak diabaikan. Berdua selalu mengingatkan masyarakat agar tidak terpapar Covid. Kok masih juga kena Covid. Barangkali itulah namanya takdir. 

Tapi terpaparnya Prof Wiku tak bisa dilepaskan dari kondisi melonjaknya angka warga yang terpapar Covid-19 secara nasional. Ahad (20/6/2021) kemarin saja yang terpapar Covid mencapai angka 13.000 lebih. Padahal dalam sebulan terakhir capaiannya tak sampai 7.000 orang yang terpapar. Lonjakan ekstrem itu konon dipicu oleh merebaknya varian Covid baru asal India. Varian ini mengamuk di kawasan Jawa Tengah terutama Kudus dan Bangkalan, Madura. Prof Wiku sebelum terpapar Covid kabarnya habis berkunjung ke zona merah, Kudus dan Bangkalan.

Nah, terasa aneh, juru bicara Satgas Covid pusat terpapar Covid dan sebelumnya didahului oleh Kepala Satgasnya. Dua tokoh itulah yang sehari-hari wanti-wanti untuk waspada Covid. Dua tokoh itu juga yang paham peta pandemi covid secara nasional kemudian menetapkan pendistribusian alokasi alkes, obat-obatan, vaksinasi dan seterusnya. Jika keduanya kemudian tepapar tentu mempunyai makna yang dalam.

Pertama, bahwa serangan Covid-19 sudah sedemikian gencarnya, pengendali tertinggi Covid pun jebol pertahanannya dan tumbang. Kurang apa kedua tokoh dalam menjaga prokes, kurang apa keduanya menjaga pertahanan dengan asupan makanan yang memadai. Barangkali yang kurang hanya dalam menjaga istirahat dan kegembiraaannya. Ya, dipastikan kedua bekerja dalam suasana under pressure. Sulit bagi keduanya curi-curi waktu untuk ber-happy-happy

Kedua, merebak dengan cepatnya varian baru Covid 19 ini sangatlah serius. Tidak bisa disikapi dengan biasa-biasa saja. Apalagi masih banyaknya pejabat dan pemuka masyarakat yang kurang menunjukkan bekerja serius, misalnya membolehkan pesta perkawinan tanpa pembatasan yang ketat. Masih menggunakan sepotong dalil-dalil agama untuk tidak perlu takut terhadap Covid-19. Juga sikap sebagian masyarakat yang tidak mematuhi ketentuan dari pemerintah dan bahkan ada yang merasa kebal terhadap Covid-19.

Ketiga, siapa pun tetap perlu berhati-hati berada di zona merah bisa terkena pukulan Knock Out alias KO. Berhati-hati seperti apa pun tetap ada celah masuknya virus asal Wuhan itu. Eling lan waspodo ternyata menjadi kunci menghadapi ganasnya virus Covid-19.

Terpaparnya para petinggi Satgas Covid adalah alert atau warning yang sangat jelas yang meminta kepada kita semua, terutama kepada pemerintah untuk bertindak tegas. Tidak ragu lagi dengan kredo "keselamatan rakyat yang tertinggi". Tidak usah lagi mendua dengan kepentingan-kepantingan lain, termasuk pemulihan ekonomi yang tidak pro pencegahan Covid. Misalnya membolehkan dibukanya obyek-obyek wisata, pembukaan gedung bioskop dan lainnya.

Bergidik juga membaca pernyataan  epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Pandu Riono menyebut saat ini Indonesia sudah masuk gelombang kedua lonjakan kasus Virus Corona (covid-19) dan bersiap menuju puncaknya. Ia memprediksi kenaikan kasus konfirmasi positif Covid-19 di puncak gelombang kedua kali ini akan lebih tinggi dari apa yang terjadi akhir Januari 2021 lalu.

Saatnya kita fokus kepada pencegahan meluasnya pandemi Covid-19, percepatan vaksinasi, dan kebijakan pro keselamatan rakyat. Untuk mencapai itu  diperlukan kesadaran dan kesungguhan bersama para pemimpin formal dan nonformal serta rakyat secara keseluruhan.

Salam sehat.