Klaster Terawih di Bulan Ramadhan

Klaster Terawih di Bulan Ramadhan
Amir Uskara

Oleh: H.M. Amir Uskara

MENGAGETKAN! Seorang pria bermasker yang akan salat di masjid Al Amanah, Kawasan Harapan Indah, Kota Bekasi, diusir pengurus takmir masjid, Selasa (27/4/021). Alasannya, orang di dalam masjid akan dijamin keselamatannya oleh Allah. Jadi kalau berada dalam masjid, tidak boleh pakai masker.

"Bermasker di pasar saja. Di masjid tidak perlu. Masjid bukan pasar," kata salah seorang pengurus masjid Al-Amanah. Ia merasa peraturan nirmasker dalam masjid itu sudah benar, sesuai Alquran.

Video perdebatan antara pria bermasker dan pengurus takmir di atas viral di sosmed. Netizens pun terkejut. 

Kok ada takmir masjid  seperti itu? Jelas ada. Bahkan mungkin, tak sedikit. Hanya belum terpantau saja. Ingat, Indonesia itu sangat luas. Sulit memantau kasus per kasus di daerah. 

Beruntung, setelah kasusnya viral, polisi datang ke masjid Al Amanah. Masalah pun selesai dan mereka saling memaafkan.

Peristiwa mengejutkan lain, terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah; 44 orang jamaah salat terawih di masjid  desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, Banyumas terpapar corona.  

Sedangkan di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Banyumas,  tujuh jemaah shalat tarawih  positif Covid-19. Dengan demikian, 51 orang di Banyumas yang terpapar virus tersebut, bisa disebut "klaster terawih."

Berita dua kluster terawih di Desa Pekaja dan Tanggeran, Banyumas yang terpapar Covid-19 di atas, memang mengejutkan. Tapi kalau kita kaji mendalam, kasus tersebut adalah niscaya.

Kok niscaya? Betul. Karena dua kasus di atas terpicu kelalaian jamaah terawih sendiri. Pertama, mereka  yang salat terawih tidak pakai masker. Kedua, ada orang yang terinfeksi corona, tidak mau mengisolasi diri. Malahan, ikut salat terawih. 

Mungkin masih ada orang berpikir, virus tak akan menyerang jamaah terawih -- seperti pernyataan takmir masjid Al Amanah, Bekasi -- yang berada dalam masjid. Tapi faktanya, penularan terjadi. Karena memang sunnatullahnya begitu.  

Dua kasus di Bekasi dan Banyumas di atas menunjukkan bahwa masih ada masyarakat yang abai terhadap pandemi Covid-19. Jika di Bekasi, pengurus takmir melarang jamaah salat pakai masker di dalam masjid; di Banyumas orang yang jelas-jelas positif covid tetap ikut salat terawih. Ia tak peduli sedikit pun bahwa virus corona yang berada di saluran pernafasannya akan mudah sekali menular kepada orang lain.

Bupati Banyumas, Achmad Husein,  mengatakan, dua klaster shalat tarawih tersebut diketahui setelah ada dua jemaah dari dua masjid tersebut yang dinyatakan positif Covid-19. 

"Kluster terawih di mushala, bermula dari satu orang jemaah yang sudah sakit di awal Ramadhan, tetapi masih tetap berangkat tarawih," ujar Husein kepada wartawan di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis (29/4/2021).

Dua peristiwa  di atas -- kemungkinan besar -- bukan hanya terjadi di Bekasi dan Banyumas. Tapi juga di daerah lain. Terutama di desa-desa dan daerah terpencil. 

Kenapa? Ya, jika di Bekasi saja ada pengurus masjid yang bersikap seperti itu (merasa benar karena konon sesuai Alquran), bisa diduga -- di daerah lain pun tak sedikit orang seperti itu. Abai pandemi dan abai protokol kesehatan. Lalu mereka merasa benar karena berpikir sudah melaksanakan aturan agama. 

Kondisi ini jelas sangat berbahaya. Karena kedua peristiwa tersebut, memicu terbentuknya banyak  super  spreader  baru. Terutama di daerah. Munculnya super spreader baru di desa-desa ini sangat riskan. Karena bisa menimbulkan "percepatan" penularan virus di daerah yang luar biasa. Bayangkan, jika seorang seorang super spreader bisa menularkan virus ke 50 orang tiap hari -- berapa banyak pertambahan jumlah kasus positif tiap hari di Indonesia? Mengerikan. Karena pertambahannya sangat besar, mengikuti deret ukur.

Pertanyaannya, kenapa sosialisasi Prokes tidak sampai kepada mereka? Atau mereka memang abai terhadap Prokes? Di sinilah letak pentingnya ulama dan umara dalam menyosialisasi pemakaian masker, kemudian  bahaya dan penularan corona. Di desa-desa dan kampung-kampung, penekanan terhadap keharusan pakai masker ini, tampaknya masih longgar. Bahkan sering terabaikan. Dalam hal ini, ulama dan perangkat desa, juga warga terdidik hendaknya bekerjasama untuk terus menyosialisasilan Prokes 3 M (memakai masker, menyuci tangan, menjauhi kerumunan)  terus menerus dan simultan. 

Di pihak lain, klaster perkantoran yang sebelumnya sudah terkendali, kini membuncah lagi. Terutama di bulan Ramadhan 2021. Corona DKI, misalnya,  naik lagi hingga tiga kali lipat.  Pemprov DKI Jakarta mengungkap salah satu penyebabnya adalah kondisi ruangan kantor yang padat. Lalu aktivitas penularan di luar perkantoran selama Ramadhan. Misal buka bersama.

"Masih ada yang lengah. Orang-orang kantoran hanya menerapkan protokol kesehatan saat di kantor saja. Artinya setelah dari kantor ada aktivitas di luar kantor, seperti berdesakan di transportasi umum, buka puasa bersama, dan terawih bersama," jelas Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi, SpOT dalam diskusi secara virtual, Selasa (27/4/2021).

Meski kantor merupakan tempat dengan risiko penularan corona tinggi, beberapa orang mungkin tak menyadari risiko tinggi di beberapa tempat saat bekerja di kantor. Berikut  tempat-tempat potensial yang menimbulkan risiko penularan Vovid-19. 

1. Dapur kantor

Salah satu tempat yang paling berisiko di kantor adalah dapur. Sebab, tempat ini kerap menjadi fasilitas bersama. Penularan corona terjadi tanpa disadari saat menyentuh permukaan yang dipakai banyak orang, dengan kemungkinan besar terkontaminasi COVID-19. Sebisa mungkin selalu membawa peralatan makan sendiri, demi meminimalisir risiko penularan COVID-19. Jika terpaksa menggunakan alat makan bersama, selalu pastikan kondisi alat sudah dicuci bersih terlebih dahulu.

2. Ruangan sempit

Saat rapat dengan karyawan, beberapa orang memilih berada di suatu ruangan berventilasi buruk. Padahal, ada risiko penularan corona melalui airborne, sehingga besar kemungkinan lebih mudah terpapar Covid-19. Terlebih jika ruangan tersebut memiliki AC, penyebarannya akan lebih mudah. Lebih baik rapat di ruangan outdoor agar risiko transmisi Covid-19 bisa ditekan.

3. Toilet

Wajib selalu memakai masker saat pergi ke toilet, baik untuk buang air besar hingga buang air kecil. Waspadai risiko penularan dari kemungkinan aerosol saat seseorang yang terinfeksi corona menyiram feses mereka tanpa menutup toilet. Sejumlah partikel dari feses bahkan bisa menyebar sejauh 1 meter.

4. Tombol lift 

Tombol lift dan gagang pintu ruangan juga menjadi fasilitas yang paling banyak disentuh karyawan. Ada baiknya, mulai mengganti fitur tombol lift menjadi 'contactless'.   Agar tak perlu menyentuh permukaan yang terkontaminasi Covid-19.  

5. Etika Batuk

Kita harus memperhatikan etika batuk, penggunaan masker yang baik, dan menyimpan masker di tempat steril. 

Kelima faktor tersebut kelihatan sepele. Padahal justru di tempat-tempat seperti itulah awal virus corona "menggigit" kita. Tanpa kita sadari. (*)

Penulis Anggota DPR RI