Catatan dari Senayan

"Kitorang Papua, Kitorang Indonesia"

"Kitorang Papua, Kitorang Indonesia"
Alinea

LIHATLAH kemeriahan di Pembukaan PON XX di Jayapura 2 Oktober lalu. Stadion Lukas Enembe dipenuhi dengan atraksi yang memikat oleh putra-putra Papua. Pesiden Joko Widodo terlibat dalam permainan sepakbola. Seisi stadion menampakkan kegembiraan. Menyanyi, menari, dan menunjukkan jatindiri. "Akulah Papua."  "Kitorang Bisa."

Dari luar stadion kita dapat menyaksikan kemeriahan dan antusiasme putra-putri Irian dalam pesta olahraga nasional itu.

Papua adalah Indonesia. Bumi Cendrawasih bagian tak terpisahkan dari NKRI. Ini dibuktikan dengan keberhasilan kontingen Papua di hari-hari awal PON, menyabet banyak medali dan menduduki peringkat kedua perolehan medali setelah kontongen DKI Jakarta.

Memang ada gangguan. Tapi jauh di luar Jayapura, lebih dari 280 km. Terjadi kericuhan di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo. Enam orang tewas, puluhan luka-luka diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Sejumlah bangunan dibakar. Meski kita prihatin, kita bersyukur, kericuhan itu tak mengganggu kemeriahan PON Papua. Semua pertandingan hingga hari ketiga tetap berlangsung aman dan lancar.

Sejumlah catatan dapat kita berikan. Bahwa penyelenggaraan PON Papua menjadi bukti, kesungguhan pemerintah membangun Papua. Keseriusan pemerintah menjadikan Papua sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI. Mustahil kawasan terluas di Indonesia itu mampu menyelenggarakan PON jika pemerintah setengah hati membangun Papua. Bukan hanya stadion dan venu disiapkan. Sarana akomodasi dan beebagai fasilitas pun disediakan dan bersifat permanen. Artinya pasca PON, masyarakat Papua tetap dapat memanfaatkan hasil pembangunan. Lebih dari itu, PON dapat membangkitkan gairah warga Papua untuk berprestasi di bidang olah raga dan bidang lainnya.

Dengan PON Papua itu kita juga menunjukkan kepada dunia, bahwa isu-isu rasialisme, pengeksploitasian tanah Papua hanyalah fitnah belaka. Bahwa tidak hanya wujud penyelenggaraan PON saja yang bisa dilihat. Berbagai sarana telah dibangun sebelumnya di hampir seluruh bumi Papua. Jalan Trans Papua sudah mencapai lebih dari 3000 km. Pusat-pusat pendidikan dari dasar sampai perguruan tinggi diwujudkan. Putra-putra daerah diberi kesempatan untuk memimpin daerah masing-masing. Juga jabatan-jabatan sipil dan militer di Papua diutamakan untuk putra-putri daerah.

BBM satu harga adalah kebijakan yang sangat nyata, agar tidak terjadi disparitas yang menghambat laju pembangunan di Papua. Kebijakan ekonomi, politik, sosial, dan budaya yang dilakukan pemerintah menunjukkan Papua adalah Indonesia, bukan kawasan yang dieksploitasi kekayaan alamnya. Perbedaan ras, warna kulit dan budaya adalah keniscayaan dari  bangsa yang berbhineka. Bukan untuk disesali tapi untuk disyukuri.

Jika masih ada provokasi dan suara sumbang dari dalam maupun luar tentang Papua, anggap saja sebagai pemicu bagi pemerintah dan bangsa Indonesia untuk menggairahkan  membangun Papua menyejajarkan dengan semua kawasan lain di negeri ini. Pada saatnya putra-putri Papua tak hanya menggaungkan semangat "Kitorang Papua, Kitorang Bisa,"  tapi "Kitorang Indonesia, Kitorang Bisa."

Selamat sukses PON XX Papua.