Mengenal Selintas tentang Bapak Tahfizh Alquran Indonesia

K.H. Mohammad Moenawwir

K.H. Mohammad Moenawwir
Ahmad Rofi'Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

KAPAN, ya, kita jalan-jalan ke Yogyakarta?”

Demikian ucap seorang ustadz jebolan Universitas Al-Azhar, Mesir di sebuah whatsapp group. Beberapa waktu yang silam. Mendengar ucapannya yang demikian, tiba-tiba benak saya “melesat cepat”. Ke sebuah kampung yang terletak di sebelah barat Masjid Besar Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

Ada apa dengan kampung itu?

Kampung tersebut, menurut lembaran sejarah, terkenal sebagai tempat lahir seorang kiai yang mendirikan sebuah organisasi keagamaan besar di negeri ini: Muhammadiyah. Kiai tersebut tidak lain adalah K.H. Ahmad Dahlan. Tokoh yang ketika kecil bernama Muhammad Darwis itu adalah putra seorang khatib masjid besar tersebut dan cucu seorang penghulu: K.H. Ibrahim.

Di sisi lain, mungkin tidak banyak orang yang tahu, dari Kampung Kauman Yogyakarta itu pula lahir seorang anak yang kelak menjadi Bapak Tahfizh Alquran Indonesia. Malah, kemudian, lewat pondok pesantren yang ia dirikan, lahir sederet ulama dan pakar tentang Alquran. Pondok pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren “Al-Munawwir” Krapyak, Yogyakarta.

Kini, mari kita tengok pondok pesantren yang tegak di bagian selatan Kota Pelajar tersebut. Untuk menuju lokasi pesantren tersebut, mari kita naik sepeda saja. Kita berangkat dari depan Gedung Agung: sebuah gedung megah yang terletak di pusat keramaian Kota Yogyakarta. Tepatnya di ujung selatan Jl. Jenderal Ahmad Yani. Dari depan gedung tersebut, sepeda tersebut kita kayuh ke arah selatan.

Setelah melintasi perempatan Jl. K.H. Ahmad Dahlan dan Jl. Panembahan Senopati, kita bergerak lurus saja ke arah Alun-Alun Utara. Setelah sampai di alun-alun tersebut, kita belok ke kanan menuju ke arah Jl. Kauman. Dengan melintasi Masjid Besar Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Nah, setelah berada di Jl. Kauman, sepeda yang kita naiki kita arahkan ke arah selatan, dengan melintasi Jl. Ngasem dan Jl.Taman Sari. Dari situ, tanyakan ke mana arah menuju Alun-Alun Selatan. Dari alun-alun tersebut, bergeraklah menuju ke arah selatan: menuju ke arah Jl. DI Panjaitan dengan melintasi Plengkung Gading. Setelah berada di Jl. DI Panjaitan, kayuhlah sepeda Anda ke selatan sampai di sebelah kiri Anda menemukan sebuah plang yang bertuliskan Pondok Pesantren “Al-Munawwir”. Ya, di situlah Pondok Pesantren “Al-Munawwir” Krapyak, Yogyakarta berada.

Usia pondok pesantren ini sejatinya cukup lama: 109 tahun. Ini karena awal perjalanan pondok pesantren ini bermula pada 1911. Kala itu, perintis dan pendiri pondok pesantren ini, K.H. Mohammad Moenawwir, mulai membuka pengajian di Kampung Kauman, tidak lama selepas pulang dari Makkah Al-Mukarramah dan menimba ilmu di Tanah Suci itu selama 21 tahun. Ya, 21 tahun. Bukan hanya satu atau dua tahun saja. Karena jumlah para santrinya kian banyak, maka tempat pengajian itu kemudian dipindahkan ke Desa Krapyak Kulon. Tempat pengajian itu kemudian kian berkembang dan akhirnya menjadi sebuah pondok pesantren besar. 

Pada awal berdirinya, pesantren ini menekankan pengajaran Alquran. Baik dengan membaca langsung (bi al-nadzar) atau dengan hapalan (bi al-ghaib). Kemudian, dari pelajaran Alquran bi al-ghaib tersebut dilanjutkan dengan pelajaran qirâ’at sab‘ah, tujuh macam bacaan Al-Quran oleh Nafi‘ bin Na‘im (berpulang pada 109 H) dari Madinah, Abu Ma‘bad ‘Abdullah bin Katsir atau Ibn Katsir  (berpulang pada  120 H/738 M) dari  Makkah, ‘Abdullah bin ‘Amir (berpulang pada 118  H/736 M)  dari Syam, Abu ‘Amr bin Al-A‘la (berpulang pada 154  H/771 M) dari Bashrah, Abu Bakar ‘Ashim bin Abu  Al-Nujud  (berpulang pada 127 H/745 M),  Abu  ‘Imarah Hamzah  bin  Habib  (berpulang pada 216 H/831  M), dan ‘Abdul Hasan  ‘Ali bin  Hamzah Al-Kisa’i (berpulang pada 189 H/805 M),  dari Kufah.

Melengkapi pelajaran Alquran, diberikan pula pelajaran berbagai kitab fikih, tafsir, dan kitab-kitab agama lainnya.  Karena itu, dapat dikatakan, pendiri Pondok Pesantren Krapayak ini sebagai perintis pendidikan penghapalan Alquran secara sistematis di Indonesia. Dan, juga, sebagai Bapak Tahfizh Alquran Indonesia.

Kini, bagaimanakah perjalanan hidup K.H. Mohammad Moenawwir?

K.H. Mohammad Moenawwir, kiai yang pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Krayak, Yogyakarta ini, seperti telah dikemukakan di muka, lahir di Kauman, kampung para  santri di belakang  Masjid  Besar Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Selepas menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain  kepada  Syaikhona Cholil Bangkalan, Madura dan  K.H. Saleh Darat, Semarang, putra kedua pasangan K.H. Abdullah Rosyad dan Khodijah ini bertolak ke Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi.  Untuk menimba ilmu. Selama menimba ilmu di Tanah Suci, selama  sekitar 21 tahun, kiai yang telah hapal Alquran ketika berusia 10 tahun itu berguru kepada sejumlah ulama kondang di Makkah dan Madinah. Antara lain ia menimba ilmu qira’ah sab‘ah kepada Syeikh Yusuf Hajar.

Selepas tiba kembali di Tanah Air pada 1327 H/1909  M, adik kandung K.H. Mudzakkir ini, ayah Prof. Abdul Kahar Mudzakkir, yang kelak menjadi  tokoh Muhammadiyah dan salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia, lantas membuka pengajian Alquran di rumah asalnya, Kauman, Yogyakarta. Ketika pengajiannya kian berkembang, cucu Kiai Haji Hasan Bashari yang  dikenal pula dengan sebutan Kasan Besari, ajudan dan sekaligus komandan pasukan Pangeran Diponegoro untuk Daerah Kedu ketika menghadapi pasukan Belanda, ini memindahkan tempat pengajiannya ke luar kota. Pilihannya jatuh pada Desa Krapyak, sekitar lima kilometer arah selatan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

Pada 1328 H/1910 M kiai yang pernah mendapat pesan dari  gurunya, Syaichona  Cholil Bangkalan, Madura, “Jadilah  engkau  bagaikan air, diperlukan oleh siapa pun dan kapan pun. Dan janganlah engkau menjadi bagaikan kalajengking, siapa yang  melihatnya akan ketakutan” ini pun mulai menempati tempat baru. Tempat baru tersebut kemudian terkenal dengan nama Pondok Pesantren Krapyak yang  pembangunan pertamanya rampung  pada 1346 H/1927 M.  Segera, pesantren yang semula  mengkhususkan pada kajian Alquran, yang qiraahnya berdasarkan qiraah Imam ‘Ashim (Abu Bakar ‘Ashim bin Abu Al-Najudi Al-Kufi bin Bahdalah) menurut riwayat Imam Hafsh (Abu ‘Umar Hafsh bin Sulaiman bin Al-Mughirah Al-Bazzaz), ini berkembang pesat. Dan pengasuh pondok pesantren ini kembali kepada Sang Pencipta pada 12 Jumada Al-Tsaniyyah 1361 H/26 Juni 1942 M selepas melaksanakan shalat Jumat dalam kompleks pesantren yang ia dirikan.

Kini, dapat dikatakan, beberapa pesantren besar tahfizh Alquran di Indonesia bermuara kepada K.H. Mohammad Moenawwir. Misalnya: Pesantren Yanbu‘ Alquran, Kudus (didirikan oleh K.H. Arwani Amin), Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Solo (didirikan oleh K.H. Ahmad Umar), Pesantren Al-Asyariyah, Kalibeber, Wonosobo (didirikan oleh K.H. Muntaha), Pesantren Kempek, Cirebon (didirikan oleh K.H. Umar Sholeh), Pesantren Benda Bumiayu, Brebes (didirikan K.H. Suhaimi), dan Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta. Dan “taburan” benih pengajaran Alquran yang dirintis K.H. Mohammad Moenawwir kini telah membuahkan hasil yang luar biasa dan ribuan penghapal Alquran bermunculan di Indonesia.

Rintisan dan teladan kehidupan yang indah!