Kelindan Terorisme dan Ormas di Indonesia

Kelindan Terorisme dan Ormas di Indonesia
Ansyaad Mbai

Oleh:  Ansyaad Mbai

DARI fakta-fakta terakhir yang paling aktual, dari rentetan bom bunuh diri suami-istri di Gereja Katedral Makassar, kemudian aksi Zakiah Aini di Mabes Polri, dan penyitaan bahan-bahan bom high explosif di beberapa tempat, di Condet, Bekasi, sampai Bandung, perlu disampaikan apa adanya, biar tidak ada dusta di antara kita. Dapat disimpulkan dari  rangkaian yang kita dapat bahwa aksi terorisme di Indonesia sekarang ini memasuki babak baru, Kalau dulu kita bicara teroris yang melakukan pengeboman-pengeboman itu. Sekarang ini sudah berkelindan dengan organisasi-organisasi yang bergerak di bidang politik yang sekarang bekoar-koar itu.

Aksi-aksi terorisme sekarang ini jauh lebih berbahaya dari yang sebelumnya. Kita lihat bagaimana keterkaitan terorisme dengan organisasi yang mempunyai tujuan politik selama ini. Lihat saja kejadian di Makassar,  ada beberapa pasang pengantin, tahun 2019 salah satu pelaku bunuh diri melakukan peledakan bom di gereja Katedral di Jolo, Filipina, ternyata mereka dari pelaku di situ adalah anggota FPI. Pembaiatan ratusan anggota ISIS kepada Daulatul Islam di bawah Abu Bakr Albaghdadi dilakukan di Markas FPI di Makassar pada Januari 2015 itu dihadiri oleh  Munarman selaku pengurus FPI pusat, ustad Fauzan dan Ustad Basri. Itu ada di video dan medsos yang beredar luas. Panitianya namanya Ustad Mustar yang ternyata hari ini dia  ideolog dari para pengantin yang melakukan bom bunuh diri di Katedral Makassar itu. Itu fakta yang sangat telanjang. Itu bisa dicermati dari fakta-fakta yang ada, agar tidak bisa diingkari.

Mereka itu beraktivitas antara pelaku aksi teror di lapangan dengan organisasi itu menjadi satu. Juga ada fakta lain  enam laskar FPI yang ditembak polis dari Polda Metro Jaya itu semua ada kaitannya. Ternyata organisasi ini sudah menjadi sarang teroris. Kemudian kita lihat fakta-fakta di Condet, disita 4 kilo gram bahan bom high explosive, dengan jumlah bahan dan potongan-potongan pia sebagai casing yang ditemukan, juga di Bekasi ada 700 gram. Menurut para ahli bom dengan casing yang disiapkan itu bisa dirakit menjadi sekitar 200 bom. Yang mengejutkan, orang yang ditangkap, yang mempunyai rumah itu bernama Habib Husein. Di Bandung juga seorang habib. Di TV-TV kita  diperoleh pengakuan mereka terus terang menyiapkan aksi-aksi teror melakukan pengeboman dengan tujuan untuk  pembebasan Rizieq Shihab yang sedang menghadapi permasalahan hukum. Jadi nyata-nyata mengancam. Seandainya tidak terbongkar, dengan bahan 200an bom itu Jakarta dan sebagian Jawa Barat bisa menjadi lautan bom, atau lautan api.

Persoalan berikutnya mengapa anak-anak muda atau generasi milenial tertarik menjadi teroris, menjadi pengantin, dan siap mati. Ini juga perlu diperhatikan. Sudah sangat terbuka bagaimana mereka merekrut anak-anak muda, termasuk di kampus-kampus. Pengalaman mereka yang pernah direkrut dan kemudian sadar menceritakan pengalamannya, bagaimana mereka direkrut. Mereka dibawa ke satu pengajian, ditutup matanya, di sana diajarkan bagaimana hidup di surga, diajarkan untuk hijrah, menyumbang, lalu meningkat kepada substansi radikalisme, meningkat lagi ke pemahaman bahwa negara-negara yang penduduknya muslim harus berbentuk khilafah, hukumnya yang hukum Tuhan, hukum syariat. Dengan pemahaman hijrah yang diberikan, anak-anak muda rela menjual hartanya, sawahnya untuk pergi ke gurun pasir untuk berjihad, kemudian memuncak kebencian kepada pemerintah, benci terhadap etnis China yang menguasai sumber daya alam di Indonesia. Temanya kan sama dengan tema yang diusung organisasi-organisasi politik di Jakarta itu.

Penembakan di Mabes Polri

Pekan lalu ada penembakan pelaku yang mau menyerang Mabes Polri, ada pro kontra adanya penembakan yang dilakukan polisi  tanpa peringatan terlebih dulu. Banyak yang mengeritik, tapi biasanya kritik itu datang dari para pendukung terorisme. Di media sosial mereka menyalahkan polisi. Padahal aksi teror itu selalu mengejutkan. Petugas tidak ada kesempatan bagi aparat untuk berpikir. Dalam keadaan seperti itu pikirannya hanya “saya mati atau dia”. Apa polisi salah, melanggar HAM, unlawful?  Tindakan polisi menembak pelaku teror itu sudah benar, lawful. Artinya berdasarkan hukum yang berlaku.

Di seluruh dunia berlaku suatu prinsip prinsip, bahwa prosedur penggunaan tembakan tidak berlaku prosedur normal. Ini berlaku di kepolisian di semua negara. Dalam situasi ancaman Jika terlambat satu detik saja aparat akan menjadi korban, atau masyarakat yang ada di sekitar. Ada legalitasnya, Perkap No 9 tahun 2019, di pasal 48 huruf a dan b dimuat prosedur penembakan dalam keadaan normal, ada tahap peringatan, dan sebagainya. Tapi dalam Pasal 48 huruf c diatur dalam keadaan sangat mendesakk untuk menghindari korban jiwa maka prosedur normal itu tidak perlu diperhatikan atau boleh diabaikan. Hanya polisi goblok sekali dalam keadaan ditembaki itu masih menggunakan prosedur normal dalam kondisi seperti itu. Prinsip ini dielaborasi dari Komisi HAM PBB, yakni prinsip-prinsip penggunaan senjata api bagi penegak hukum.

Selain itu dalam hukum positif kita juga diatur ketentuan tentang pembelaan terpaksa (noodweer). Dalam pasal 49 (1) KUHP ditentukan: Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta Benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum.

* Penulis adalah Irjen Pol (Purn) Drs. Ansyaad Mbai, Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.