Kehidupan Baru Putri Mako Usai Menikah, Pertama Kali Bikin Paspor dan Tinggal di Kondominium

Kehidupan Baru Putri Mako Usai Menikah, Pertama Kali Bikin Paspor dan Tinggal di Kondominium
Putri Mako dari Jepang melambai dari mobil saat meninggalkan rumahnya di Istana Akasaka, Tokyo, Selasa (26/10/2021). Putri Mako resmi telah kehilangan status kerajaannya setelah menikahi orang biasa, yaitu teman kuliahnya, Kei Komuro pada Selasa (26/10). (Chika Oshima/Kyodo News via AP)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Putri Jepang Mako kini menjadi rakyat jelata usai menikahi sang pujaan hati bernama Kei Komuro. 

Seperti apa kehidupan Putri Mako setelah dia menikah?

Dikutip liputan6 dari Nikkei Asia, Rabu (27/10/2021), Mako dan Kei Komuro yang keduanya berusia 30 tahun, sedang bersiap untuk menjalani hidup bersama di AS.

Mereka akan pindah ke New York, tempat Komuro bekerja di kantor firma hukum, meskipun laporan berita mengatakan Mako akan tinggal di Tokyo untuk melakukan persiapan, termasuk mengajukan paspor pertamanya.

Karena keluarga kerajaan Jepang tidak memiliki paspor, Mako perlu membuat daftar keluarga dengan Komuro sebagai warga negara, lalu mengajukan paspor.

Proses tersebut diperkirakan akan memakan waktu, di mana dia akan tinggal di Jepang untuk sementara waktu.

Kyodo News mealaporkan, ia diperkirakan akan berangkat ke Amerika Serikat paling cepat bulan depan. Sembari mempersiapkan kepergiannya ke New York, Putri Mako akan tinggal di kondominium Tokyo.

Perhatian publik yang luas berpusat pada pasangan itu membuat keamanan menjadi masalah yang mendesak.

Takatsukasa, putri Kaisar Hirohito, menjadi korban perampokan. Kakak perempuannya, Takako Shimazu, lolos dari percobaan penculikan.

Mako tidak lagi akan menerima perlindungan dari Imperial Guard setelah dia meninggalkan keluarga kekaisaran.

Jika polisi menunjuknya sebagai individu yang membutuhkan keamanan khusus, dia secara teoritis mungkin memiliki seorang petugas yang menemaninya selama perjalanan, misalnya.

Ketika Kuroda menikah, Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo mengambil alih detail keamanannya. Mako juga diharapkan mendapat dukungan terkait keamanannya. 

Tetapi anggota Kementerian Luar Negeri, departemen kepolisian dan Badan Rumah Tangga Kekaisaran semuanya menyarankan bahwa tidak mungkin bagi petugas polisi Jepang untuk menemani Mako ke luar negeri, di mana mereka tidak memiliki yurisdiksi.

Namun, melindungi warga negara Jepang adalah salah satu tanggung jawab terbesar pemerintah. Kementerian Luar Negeri dapat meminta agar konsulat berkoordinasi dengan polisi setempat untuk membantu.

"Dia mungkin harus mempertimbangkan opsi seperti menyewa penjaga keamanan sendiri," kata salah satu sumber di Badan Rumah Tangga Kekaisaran.

Takhta Jepang hanya dapat diberikan kepada anggota keluarga laki-laki, dan anak-anak bangsawan perempuan yang menikah dengan rakyat biasa tidak termasuk.

Ada beberapa perdebatan tentang perubahan aturan, dan panel pemerintah pada bulan Juli menyusun catatan tentang masalah ini termasuk proposal agar wanita kerajaan tetap tinggal bersama keluarga, bahkan setelah menikah.

Namun, perubahan apa pun pada sistem kemungkinan akan berlangsung lama, dengan kelompok garis keras dan tradisionalis menentang keras langkah apa pun untuk membiarkan perempuan memerintah.

Wanita dalam keluarga kekaisaran Jepang tidak dapat naik Takhta Krisan, dan kehilangan gelar mereka ketika mereka menikah dengan orang biasa.

Keponakan Kaisar Naruhito, Putri Mako kehilangan gelar bangsawannya karena menikahi Kei Komuro. Ia pun meninggalkan istana setelah menikah. Perpisahan sebelum ia keluar istana pun mengharu biru, terabadikan dalam potret pelukannya kapada kedua orangtua dan saudaranya. 

Putri Mako juga menolak hadiah pernikahan dari Rumah Tangga Kekaisaran sebesar 150 juta yen atau setara dengan Rp 19,3 miliar.

Sebelum pernikahan digelar, Putri Mako terlihat mengunjungi kedua orangtuanya, Putra Mahkota Fumihito dan Putri Mahkota Kiko, untuk berpamitan pada pagi ini, sekitar pukul 10.00, waktu Tokyo. 

Ia membungkukkan badan beberapa kali kepada orangtua dan adik perempuannya, Putri Kako, sebelum meninggalkan kediamannya di Tokyo.

Putri Kako tampak memeluk kakaknya sebelum Putri Mako pergi memasuki mobil menuju sebuah hotel di Tokyo untuk menemui wartawan bersama suaminya. Sedangkan, sang ibu terlihat mengedipkan matanya dengan cepat, seperti menahan air mata.

Keluarganya melambaikan tangan hingga kendaraan yang ditumpangi Putri Mako tidak nampak. Sekitar sepuluh pejabat negara hadir di kediaman tersebut untuk mengantarnya pergi.