Kecil-kecil Mabuk Agama

Kecil-kecil Mabuk Agama

Oleh: Tontowy

DIKSI mabuk agama yang digunakan Profesor AM Hendropriyono, Gurubesar STIN (Sekolah Tinggi Intelijen Negara) dan STHM (Sekolah Tinggi Hukum Militer), sesungguhnya berpijak pada realitas kekinian.

Mabuk, tidak sekadar hilangnya kesadaran. Lebih jauh, mabuk juga berarti hilangnya kemampuan nalar sehat bekerja sebagaimana mestinya, hilangnya kemampuan logika sehat mencerna sebuah pesan.

Padahal Islam dengan syari’at-Nya, justru diturunkan ke dunia agar manusia terjaga akal sehatnya.

Bahkan kini, realitas mabuk agama sudah ditemukan di kalangan anak-anak di bawah umur, anak-anak pra remaja. Pasti kondisi itu ditularkan dari orang dewasa di sekitarnya.

Baca Juga

Keadaan ini lebih berbahaya dari realitas mabuk lem aibon alias ngelem, yang dilakukan anak-anak pra remaja, karena terbawa tabiat buruk sosok lebih dewasa di sekitarnya.

Menjelang aksi delapan belas Desember 2020 lalu, di media sosial beredar sejumlah video yang memprihatinkan. Karena, video itu menunjukkan sebuah fakta adanya mabuk agama di kalangan anak pra remaja.

Salah satu video menampilkan anak pra remaja dengan berbaju koko dan bersarung, menggenggam sebuah benda mirip pedang, duduk di kursi. Di kiri dan kanannya, ada dua anak lain yang juga menggenggam sebuah benda mirip pedang, berdiri tegak bagai ajudan.

Kata-kata yang meluncur dari mulut kecil belia ini, sangatlah tidak patut, bahkan meski kata-kata itu keluar dari mulut orang dewasa yang beriman. Kata-kata yang merendahkan marwah seorang pemimpin negara, dan pada saat bersamaan mengagungkan Allah Yang Maha Besar.  

Intinya, kata-kata yang meluncur dari mulut anak pra remaja itu tergolong ujaran kebencian, sebuah soft terrorism. Dan mereka tidak menyadari bahwa hal itu adalah teror, namun (mungkin) justru dimaknai sebagai jihad karena sudah mendapat doktrin teologis. Inilah contoh faktual tentang mabuk agama, sebagaimana disebut Ketua Dewan Pembina PKP Indonesia, Jenderal AM Hendropriyono.

Pada video lain, sejumlah anak usia pra remaja dalam balutan seragam laskar putih khas laskar petamburan, menyatakan keterlibatannya pada sebuah aksi adalah atas kemauannya sendiri, demi mendukung sang imam besar. Dan, aksi itu disebutnya sebagai ‘berjuang di jalan Allah’.

Dalam ajaran Islam, untuk urusan perang yang jelas siapa musuhnya saja, wanita dan anak-anak sangat dilarang untuk dilibatkan. Namun para pemabuk agama, seperti ISIS, justru menjadikan anak-anak sebagai combatan.

Fenomena seperti itu juga bisa kita saksikan di Indonesia, dilakukan oleh para pemabuk agama yang dijuluki Monaslimin oleh sebagian kalangan.

Mereka berada pada sebuah perang imajiner, musuh imajiner, yang mereka ciptakan sendiri, karena mereka sedang berada dalam keadaan mabuk. Dalam keadaan mabuk inilah mereka memanfaatkan anak-anak dan wanita. 

Seharusnya, kalau mereka tidak mabuk, mereka pasti tahu bahwa anak-anak dan wanita harus tetap berada dalam domain aman, ketika perang berlangsung.

Ada lagi sebuah video, pendukung Bachtiar Nasir. Sama dengan pendukung Riziek, video tersebut menampilkan sosok pra remaja yang memposisikan Bachtiar sebagai korban perbuatan makar untuk kasus yang dikatakannya tidak jelas.

Sebagaimana diberitakan Berita Satu edisi 21 Desember 2020, Mabes Polri memanggil Bachtiar Nasir untuk diperiksa sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dana Yayasan Keadilan untuk Semua (YKUS).

YKUS menampung sejumlah dana untuk kegiatan 411 dan 212. Bachtiar diduga mencairkan dana sebesar Rp 1 miliar dan digunakan untuk kegiatan selain aksi 411 dan 212.

Pada awal Februari 2017, polisi menemukan adanya dugaan aliran dana dari sebuah organisasi bernama Indonesian Humanitarian Relief (IHR) untuk kelompok Jaysh Al Islam, faksi terbesar pemberontak bersenjata di dekat Damaskus, Suriah. Dan, Bahctiar disebut-sebut sebagai pimpinan IHR.

Anak pra remaja pada video tadi, jelas dalam keadaan mabuk. Kesadarannya tidak muncul, bahwa sosok Bachtiar meski dia seorang penghafal Al-Qur’an sama sekali tidak maksum. Karena hanya Rasulullah sajalah yang dipastikan maksum.

Tapi karena dalam keadaan mabuk, ia sama sekali tidak bisa menyadari bahwa siapa saja berpotensi berbuat salah, apalagi yang berhubungan dengan dana, dengan duit.

Kalau Bachtiar tidak bersalah, ikuti saja proses hukum, dan tidak perlu menghilang sedemikian lama.

Namun, masalahnya adalah Bachtiar dan kawan-kawan juga dalam keadaan mabuk. Sehingga, cenderung memaknai orang di luar mereka sebagai dzalim, sedang berbuat makar, bahkan mungkin dianggap sebagai kafir atau thagut.

Dengan kecenderungan seperti itu, menghindar dari proses hukum adalah upaya yang konstruktif demi menghindarkan diri dari perbuatan keji. Begitulah alam pikiran mereka.

Bahkan, Yusril Ihza Mahendra Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) yang dulu satu kubu dengan Bachtiar, dinista sebagai kafir dan murtad karena pada Pemilu 2019 lalu tidak bersedia lagi mendukung kandidat Capres-Cawapres yang didukung Bachtiar dan kawan-kawannya.

Begitulah orang mabuk. Dalam kedaan mabuk, mereka bertingkah bagai Tuhan.

Masalahnya, kondisi mabuk itu juga ditularkan tidak hanya kepada sesama orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak pra remaja, sebagaimana dicontohkan melalui beberapa video yang beredar di sejumlah sosial media.

Ini berarti Indonesia sudah darurat mabuk agama.