Kebo Ijo di Era Hyper Reality

Kebo Ijo di Era Hyper Reality
Ngatawi AL-Zastrouw

Oleh: Ngatawi AL-Zastrouw

KEBO IJO adalah adalah seorang punggawa Tunggul Ametung, penguasa Pakuwon Tumapel. Kebo Ijo adalah sosok yang suka pamer kesaktian dan selalu ingin terlihat hebat di depan publik. Sifatnya yang lebay namun naif ini membuat Kebo Ijo mudah dimanfaatkan oleh Ken Arok, seorang petualang politik ambisius dan licik yang sedang mengincar tahta Tunggul Ametung sebagai Akuwu Tumapel.

Untuk memenuhi ambisinya, Ken Arok memanfaatkan kenaifan Kebo Ijo, dengan menjebaknya menggunakan Keris Empu Gandring. Ken Arok sengaja meminjamkan keris sakti tersebut kepada Kebo Ijo. Dasar Lebay, Kebo Ijo memamerkan keris tersebut di depan publik dan diakui sebagai miliknya. Banyak orang kagum atas kehebatan keris tersebut. Dan Kebo Ijo yang lebay namun naif itu makin terhanyut oleh sanjungan karena dianggap memiliki keris yang hebat.

Syahdan, saat Kebi Ijo sedang tertidur lelap, Ken Arok mencuri keris yang ada di tangan Kebo Ijo dan digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok sengaja meninggalkan keris tersebut tertancap di tubuh Tunggul Ametung, sebagai bukti. Dengan barang bukti itu, semua orang mengira bahwa Kebo Ijolah pembunuh sang Akuwu Tunggul Ametung.  

Ken Aroklah orang yang berteriak lantang menuduh Kebo Ijo sebagai pembunuh sang Akuwu, karena dialah pemilik keris tersebut. Dengan cara ini maka hilanglah jejak Ken Arok sebagai dalang sekaligus pembunuh Tunggul Ametung, dan Kebo Ijo menjadi korban intrik politik yang licik, termakan oleh sikapnya yang sok jagoan dan lebay.

Tragedi Kebo Ijo ini bisa menjadi pelajaran penting di eral hyper-reality, ketika fakta dan fiksi, kebenaran dan kebohongan, realitas dan imaginasi kehilangan sekat dan batas sehingga sulit dibedakan. Sebagaimana dinyatakan Jean Badrillard (1994), hiper-realitas adalah model persepsi yang mendahulukan pencitraan dan mengedepankan tampilan permukaan daripada nilai transendental-substantif. 

Realitas lebur dengan fantasi-halusinasi nosatalgia, fiksi dan imaginasi sehingga sulit dibedakan karena apa yang tampak telah tercabut dari realitas sosial yang mereferensikannya. 

Menurut Baudrillard dalam kondisi demikian sulit membedakan antara realitas dan duplikasi. Dunia tampak kabur, antara fakta dan fiksi telah berbaur sehingga memungkinkan terjadinya saling tukar antara realitas fisik dengan virtual.

Jika zaman dulu Kebo Ijo membawa keris Empu Gandring untuk mengkonstruksi realitas buatan tentang dirinya sebagai sosok hebat, sekarang banyak orang membawa simbol agama maupun ideologi  untuk membangun citra diri dan kelompok agar terlihat hebat dan berani, seperti terlihat pada terminologi jihad, membela ulama, gerakan revolusi dan sejenisnya. 

Bisa dikatakan orang-orang yang saat ini teriak-teriak jihad dan revolusi dengan bahasa garang dan sombong, mengabaikan  adab dan akhlak, tak ada bedanya dengan Kebo Ijo yang pamer kekuatan di depan publik dengan keris mpu Gandringnya. 

Kalau di zaman dulu Keboiojo pamer keris mpu Gandring, sekarang banyak orang menggunakan "keris Kanjeng Kyai Jihad", "Keris mpu Revolusi" dan sejenisnya untuk menujukan kesan kepada publik bahwa dirinya orang hebat dan pemberani. 

Dalam era hiper-reality, keris bukan lagi bentuk fisik senjata, tetapi keris atau pusaka adalah label atau simbol  yang bisa mengkonstruksi suatu realitas sosial seseorang atau kelompok sehingga bisa dipamerkan atau dikontestasikan di ruang publik. 

Seorang akan mendapat label jihadis ketika kemana-mana dia membawa dan memamerkan ideologi jihad kepada publik. Ibaratnya dia memamerkan pusaka "Kanjeng Kyai Jihad" sebagaimana Kebo Ijo memamerkan keris mpu Gandring di hadapan publik.  

Sama seperti di era Kebo Ijo, dalam era hyper reality, sikap seperti ini juga mudah dimanfaatkan oleh orang-orang sejenis Ken Arok. Ketika terjadi kerusuhan, bom bunuh diri atau tindakan huru hara lainnya yang meninggalkan jejak agama (jihad), maka tudingan akan mengarah kepada sosok atau kelompok yang selama ini teriak-teriak memamerkan "keris Kanjeng Kyai Jihad" yaitu kaum Jihadis Islam. 

Demikian sebaliknya ketika terjadi penyerangan dan tindak kekerasan terhadap ulama atau tokoh agama, maka yang jadi sasaran tuduhan adalah mereka yang selama ini membawa "keris mpu Revolusi" yaitu kaum Komunis (PKI). 

Siapapun pelaku kejahatan teror dan kekerasan, maka yang dituduh adalah mereka yang selama ini sudah memamerkan diri sebagai pemegang kedua label tersebut. Dalam sosiologi, fenomena ini disebut dengan teori Labeling. 

Misalnya ketika terjadi penusukan terhadap Syech Ali Jaber di Lampung beberapa waktu lalu, secara lantang dan tegas tudingan langsung diarahkan kepada kelompok Komunis, sebagai pemegang pusaka "Keris mpu Revolusi".  

Habib Rizieq Shihab, Yahya Waloni, dan beberapa orang yang selama ini mengklim diri sebagai kempok membela Islam dengan lantang meneriakkan tuduhan ini. Mereka berasumsi, hanya PKI-lah yang memusuhi dan membeci ulama. 

Ini pola pikir yang simplisitis dan reduktif, seperti pola pikirnya rakyat Tumapel yang mudah digiring oleh Ken Arok untuk menuduh Kebo Ijo sebagai pembunuh hanya karena ada keris mpu Gandring sebagai barang bukti. Jika masyarakat masih mudah terhasut dengan tudingan model Ken Arok, maka sebenarnya bangsa ini belum beranjak dari era Ken Arok. 

Saya tidak peduli apakah kisah Kebo Ijo ini benar faktual apa cuma legenda, tapi kisah ini bisa dijadikan pelaran penting bagi bangsa ini. Belajar dari kisah Kebo Ijo, kita akan melihat beberapa hal; pertama, orang yang teriak lantang menuduh Kebo Ijo sebagai pembunuh adalah justru pelaku pembunuhan itu sendiri. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan jejak sang pembunuh, Pada kasus Kebo Ijo, ketika situasi belum serumit dan sekompleks sekarang, hal ini bisa dilakukan, apalagi dalam era yang hyper-reality seperti sekarang ini. 

Tindakan main tuduh tanpa bukti, selain bisa menimbulkan keresahan, memecah belah bangsa dan memancing praduga, juga bisa dianggap sebagai upaya penghilangan jejak pelaku yang sebenarnya, sebagaimana yang dilakukan Ken arok. Untuk mencegah terjadinya kasus Kebo Ijo, ada baiknya kita bersikap kritis, tidak mudah menuduh dan membuat statemen tanpa bukti, apalagi hanya berdasar asumsi dan insinuasi.

Kedua, agar tidak menjadi korban seperti Kebo Ijo, sebaiknya menggunakan simbol sesuai peruntukannya. Misalnya, simbol agama adalah sesuatu yang sakral yang tidak bisa digunakan sembarangan, seperti halnya keris atau pusaka lainnya. Ketika simbol agama digunakan untuk hal-hal yang profan, seperti untuk kepentingan politik praktis berebut kekuasaan dunia, atau dipamerkan untuk kekuatan kekuatan agar kelompk lain merasa takut, maka sesungguhnya telah terjadi pendegradasian terhadap simbol agama, sebagaimana Kebo Ijo mendegradasi keris mpu Gandring. 

Tindakan memamerkan dan menggunakan simbol-simbol secara berlebihan melebihi fungsinya, apalagi sampai bertentangan dengan  substansi dan makna yang dikandung oleh simbol, tidak saja bisa merusak substansi dari simbol tersebut, tetapi juga bisa membahayakan diri pengguna simol, sebagaimana yang terjadi pada diri Kebo Ijo dan orang-orang yang sejenis dengannya. 

Ketiga, dunia politik bukanlah dunia hitam putih dimana antara hitam dan putih bisa dibedakan secara tegas. Dalam politik hitam bisa jadi putih, demikian sebaliknya. Sejak era Ken Arok dunia politik sudah penuh lipatan, apalagi di era hyper-reality seperti sekarang ini. Dengan demikian, kita perlu mengedepankan sikap kritis dan hati-hati dalam merespon setiap peristiwa, apalagi peristiwa yang menarik perhatian publik sarat dengan nuansa politik. 

Pendeknya, kisah Kebo Ijo menjadi pelajaran bagi bangsa ini bahwa sikap tergesa-gesa dalam menanggapi suatu peristiwa akan membuat masyarakat terjebak pada kesalahan dalam mengambil tindakan sehingga mengorbankan orang tak bersalah dan melindungi orang yang bersalah. Sudah selayaknya bangsa ini beranjak meninggalkan era Kebo Ijo dengan meningkatkan daya kritis agar tindakan licik dalam politik seperti yang dilakukan Ken Arok terhadap Kebo Ijo tidak terus berulang. 

Masyarakat juga perlu meningkatkan sikap kritis, agar tidak menjadi generasi Kebo Ijo yang mudah ditipu dan dijadikan korban oleh politisi model Ken Arok.