Wawancara khusus dengan Prof AM Hendropriyono:

Kaum Intoleran Radikal Jangan Bangga dengan Kemenangan Taliban

Kaum Intoleran Radikal Jangan Bangga dengan Kemenangan Taliban
AM Hendropriyono

Penulis: Mush'ab Muqaddas

Pengantar: Taliban akhirnya sepenuhnya  menguasai Afghanistan setelah Amerika Serikat menarik pasukannya. Keberhasilan Taliban diperkirakan mempunyai dampak ke dalam dan keluar negeri itu, termasuk terhadap kaum radikal di Indonesia. Juga tentang kedekatan Taliban dengan Rusia dan China. Senayanpost.com mewawancarai secara khusus Prof Dr AM Hendropriyono, Guru Besar Intelijen di Sekolah Tinggi Hukum Militer. Berikut wawancara lengkapnya.

Bagaimana perkembangan Afghanistan pasca Taliban menguasai Kabul  Prof?

Sebenarnya jika dilihat seksama, berhasilnya Taliban memasuki Kabul tanpa adanya perlawanan dari pihak tentara Afghanistan, merupakan kejadian yang harus kita cermati lebih dalam. Kenapa tidak ada perlawanan dan upaya dari tentara Afghanistan untuk mempertahankan diri?

Jika mencermati pernyataan Jendral (Purn.) Asyraf Dhiya, mantan Kepala Staf Angkatan Darat Afghanistan, pada Juni 2021 lalu, maka kejadian yang terjadi bukan perebutan kekuasaan akan tetapi pada penyerahan kekuasaan, sesuai dengan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Taliban di Doha Qatar pada Februari 2020. 

Proses penguasaan Taliban atas Kabul sangat cepat karena mayoritas penduduk Kabul dan sekitarnya merupakan warga suku Pusthun, yang mendominasi Taliban. Peran kesukuan ini sangat penting sehingga dalam beberapa kasus, pergerakan Taliban dalam menguasai berbagai provinsi tidak mendapatkan perlawanan.

Sampai saat ini, Presiden Afghanistan Asyraf Ghani belum menyatakan mundur dan masih merupakan kepala negara yang sah, walaupun posisinya belum diketahui. Perlu untuk diketahui bahwa Pemerintah Afghanistan tidak menginginkan adanya pertumpahan darah. Sebenarnya, Presiden Asyraf Ghani memiliki kedekatan dengan Taliban karena pernah berkongsi dalam perdagangan hewan ternak, kambing dan domba, dengan mendiang Mulla Umar.

Sikap yang ditunjukkan oleh Presiden Asyraf Ghani merupakan sikap yang nasionalis dan patriotis karena bertujuan menghindari pertumpahan darah. Baik Presiden Asyraf Ghani atau Taliban sama-sama letih bertikai. Mereka sudah lelah berkonflik selama 30 tahun lebih. 

Walaupun tokoh-tokoh Taliban dalam pernyataannya kepada para tokoh dan pejabat negara-negara asing menjamin keamanan warga asing di Afghanistan jika merebut kekuasaan, akan tetapi kondisi di lapangan pernyataan itu masih diragukan oleh berbagai pihak. Hal ini dikarenakan mayoritas milisi Taliban yang bukan kalangan terpelajar dan bahkan buta huruf sehingga memasuki fasilitas pemerintahan dan fasilitas militer, kemudian bermain-main di sana. Tidak sedikit dari mereka bahkan bermain-main dengan mobil lapis baja dan helikopter yang dapat membahayakan diri mereka sendiri.

Sebenarnya apa itu Taliban dan bagaimana hubungannya dengan Alqaedah?

Taliban sebenarnya adalah kalangan santri dan masyarakat menengah ke bawah yang berhimpun pada tahun 1994 dipimpin oleh Mulla Umar untuk memulihkan stabilitas keamanan dan sosial pasca hengkangnya Uni Soviet pada tahun 1992 di Afghanistan. Taliban sendiri berarti pelajar agama atau santri. Sayangnya, saat ini anggota dan milisi Taliban tidak sedikit yang tidak mendalami agama secara mendalam. Bahkan merupakan pengangguran dari pedesaan dan pegunungan serta buta huruf. 

Tidak heran jika milisi-milisi Taliban setelah menguasai Kabul bermain-main di fasilitas-fasilitas penting, bahkan fasilitas militer. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak memahami pentingnya berbangsa dan bernegara. Mereka hanya memahami pentingnya berkelompok, memperkuat kelompoknya dengan dalih agama dan rasa kesukuan. Dalam artian, mereka tidak memiliki rasa nasionalisme, hanya memiliki rasa kesukuan, yaitu suku Pusthun yang dibalut dengan narasi-narasi agama. 

Taliban walaupun mayoritas anggotanya tidak terpelajar, masih memegang teguh fikih Hanafi dan akidah Maturidiyah.

Keberadaan Al Qaeda sama sekali tidak mengubah pandangan akidah Taliban. Taliban tidak menjadi salafi-wahabi. Taliban hanya memanfaatkan Al Qaeda dari sisi pendanaan serta kemampuan merakit persenjataan dan bahan peledak.

Sayangnya, hal ini tidak dipahami oleh kaum intoleran radikal di Indonesia yang menganggap bahwa Taliban memiliki akidah dan fikih yang sama dengan mereka, padahal tidak.

Kaum intoleran di Indonesia hanya memanfaatkan perkembangan Afghanistan demi memperkuat konsolidasi internal dengan menciptakan narasi-narasi kebanggan seolah-olah Taliban adalah bagian dari mereka. Padahal tidak. Maka dari itu harusnya kaum intoleran radikal di Indonesia jangan bangga dengan kemenangan Taliban. Karena Taliban tidak sama dengan mereka. Taliban masih memegang teguh madzhab fikih Hanafi yang dikafirkan oleh kaum intoleran radikal di Indonesia.

Apakah Taliban mampu mengelola pemerintahan ?

Banyak pihak yang sampai saat ini khawatir dengan kembalinya Taliban. Mereka khawatir Taliban kembali menerapkan pemahamannya yang kaku kepada masyarakat. Tentunya mengelola negara berbeda dengan mengelola kelompok dan suku. Bernegara dan berbangsa berarti harus memahami adanya keragaman yang harus dikelola.

Saat mengikuti Pendidikan Filsafat Islam di Al Azhar akhir tahun 2019 sampai awal tahun 2020, rombongan kami diagendakan bertemu dengan mantan Gran Mufti Mesir Prof. Ali Jum’ah di kediaman beliau. Dalam pertemuan itu, Syaikh Ali Jum’ah menjelaskan bahwa mereka yang bersikeras menerapkan penegakan syariat Islam sejatinya tidak mengetahui dan memaham syariat Islam. 

Nalar mereka hanya mampu memahami dan menyederhanakan Syariat Islam dalam penerapan hudud (hukuman) saja Padahal sejaitnya, mereka hanya ingin berkuasa. Jika mereka berkuasa, pada akhirnya, mereka akan mengetahui bahwa hudud (hukuman) sejatinya harus dibekukan, sesuai Syariat Islam. Jika mereka memaksakan, akan terjadi kerusakan di muka bumi. Mereka memalsukan pemahaman Al Qur’an dan As Sunnah, yang sejatinya tidak mereka pahami dengan baik.

Sementara itu, mayoritas milisi Taliban adalah para pemuda pengangguran dari pedesaan dan pegunungan, bahkan buta huruf. Eksistensi mereka ini meragukan jaminan keselamatan bagi warga sipil khususnya warga asing di Afghanistan khususnya di Kabul. Adapun sebagian besar tokoh Taliban berada di Peshawar Pakistan dan Qatar. Semua kebijakan dan serangan Taliban direncanakan dan dikendalikan dari Peshawar Pakistan.

Apakah pihak asing percaya dengan Taliban?

Saya berharap Taliban berkaca pada sejarahnya sendiri. Kegagalan Taliban dalam mempertahankan kekuasaannya pada tahun 2001 dikarenakan sikap Taliban yang tidak mengenal kompromi. Bahkan, tertutup kepada bangsa asing. Antara tahun 1994 sampai tahun 2001 banyak kejadian yang membuat Taliban dimusuhi oleh negara-negara asing, bahkan sekitarnya termasuk Iran dan Tiongkok. Tiongkok marah dengan sikap Taliban yang menghancurkan stupa Buddha terbesar di Afghanistan. Iran juga marah karena kaum minoritas Syiah turut dibunuh oleh Taliban.

Belakangan ini, Taliban telah berubah. Tokoh-tokoh Taliban lebih cerdas dalam berdiplomasi. Keinginan Taliban untuk kembali berkuasa seolah mendapatkan dukungan bahkan dari bekas musuh-musuh mereka sendiri. Tentunya dengan jaminan mendapatkan manfaat dari kekuasaan Taliban. Seperti contoh Iran sangat beruntung dengan Langkah Taliban menghancurkan sejumlah bendungan di Sungai Helmand yang menambah pasokan air bagi Iran.

Tidak hanya itu, Tiongkok mendapatkan komitmen untuk meneruskan proyek pembangunan akses jalan tol dari Tiongkok ke Afghanistan kemudian tembus ke Pakistan. Proyek ini merupakan bagian dari proyek ekonomi strategis One Belt One Road. Akses jalan ini akan mempermudah distribusi barang dan produk dari Tiongkok untuk memasuki pasar Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika. Selain itu, sumber daya alam berupa gas di Afghanistan akan dimanfaatkan untuk mendukung aktifitas perdagangan tersebut.

Tiongkok dan Rusia sejak tahun 2005 menghidupkan dan mengembangkan wacana keislaman dengan memperkuat madzhab fikih Hanafi, akidah Maturidiyah dan tarekat Naqsyabandiyah sebagai investasi sosial. Sikap ini dilihat oleh Taliban yang juga menganut madzhab fikih Hanafi, akidah Maturidiyah dan tarekat Naqsyabandiyah. 

Kesamaan ini yang memperkuat komunikasi antara Taliban dengan Rusia dan Tiongkok sehingga Taliban tidak lagi melihat Tiongkok dan Rusia sebagai 'Musuh Umat Islam'. Tidak seperti kaum intoleran di Indonesia yang masih menganggap Rusia dan Tiongkok sebagai ‘Musuh Umat Islam’. Hal ini karena mereka tidak mampu mengakses informasi langsung yang berbahasa asing baik itu Inggris, Arab, Urdu, Farsi dan Tiongkok. Mereka mempercayai narasi-narasi dari para tokoh mereka saja yang disebar di media-media sosial.

Apa hikmah yang harus Bangsa Indonesia pelajari dari tragedi Afghanistan?

Tragedi dan konflik perebutan kekuasaan di Afghanistan harus kita pahami pentingnya rasa al muwathanah, rasa memiliki negeri dan loyal kepada konstitusi dan Pancasila. Bangsa Indonesia, khususnya generasi muda perlu memperkuat rasa patriotisme dalam berbangsa dan bernegara. Jangan terpengaruh dengan narasi-narasi yang menyebutkan bahwa Indonesia yang berlandaskan Pancasila bertentangan dengan Syariat Islam.

Menurut Prof. Ali Jum’ah, sejatinya Indonesia masih menerapkan Syariat Islam, akan tetapi tidak memberlakukan hudud (hukuman) kepada tersangka pelaku tindak kriminal, karena tidak adanya Qadli Mujtahid yaitu hakim yang mampu berijtihad dan saksi yang adil, sehingga penerapan hudud, dibekukan, bukan dihapuskan. Kemudian diganti dengan hukuman kurungan penjara dan denda materi.

Bangsa Indonesia harus berhati-hati dengan narasi-narasi yang menyatakan keharusan berkonflik seperti yang dinarasikan oleh kaum intoleran radikal. Mereka terpengaruh dengan narasi-narasi keharusan berkonflik seperti yang didengungkan oleh Ikhwanul Muslimin Konflik justru harus diupayakan dihindari.

Grand Mufti Mesir Prof. Syauqi Allam menceritakan kepada kami bahwa Hasan Al Banna menyatakan secara jelas bahwa konflik adalah sebuah kemestian yang harus dilakukan oleh kader-kader Ikhwanul Muslimin. Nalar konflik Ikhwanul Muslimin akan semakin terlihat pada pemikiran Sayid Quthb, yang terpengaruhi oleh pemikiran Abu A’la Al Maududi, yang menganggap bahwa Umat Islam saat ini merupakan masyarakat jahiliyah.

Pemahaman dalam pernyataan Sayid Quthb dan Abu A’la Al Maududi ini sangat berbahaya karena menafikan kemajuan peradaban Umat Islam terdahulu. Permasalahan kemudian tidak berhenti dari pemahaman ini, semua organisasi terorisme seperti ISIS, Al Qaeda, Al Shabab Somalia dan Boko Haram Nigeria, lahir dari pemahaman Al Ikhwan Al Muslimun ini, yang bahayanya tidak hanya di Mesir saja, akan tetapi ternyata juga berdampak atas semua umat manusia di dunia. 

Kaum radikal di Indonesia tentunya sangat bangga dengan kemenangan Taliban di Afghanistan itu. Bagaimana menurut Prof?

Sebagai bangsa yang memegang teguh Pancasila kita berkewajiban untuk melawan narasi-narasi tersebut sehingga tercipta masyarakat yang tentram dan maju.

Maka dari itu harusnya kaum intoleran radikal di Indonesia jangan bangga dengan kemenangan Taliban. Karena Taliban tidak sama dengan mereka. Taliban masih memegang teguh madzhab fikih Hanafi yang dikafirkan oleh kaum intoleran radikal di Indonesia. (*)