Catatan dari Senayan

Katakan yang Baik atau Diamlah...

Katakan yang Baik atau Diamlah...
Ilustrasi mulut orang dilakban

Oleh: Imas Senopati

KATAKAN yang baik, atau (kalau tidak mampu) diam sajalah. Qul khoiran au liyashmut. Itu penggalan sebuah hadist Nabi Muhammad saw.,  sebagai nasihat bijak dan mempunyai arti sangat dalam.  Nasihat itu sesungguhnya berlaku universal dan relevan dari zaman ke zaman, di mana saja dan kapan saja untuk semua bangsa dan peneluk agama.

Coba saja kalau setiap orang boleh mengumbar komentar sekehendak hati, riuhlah dunia ini. Tak bisa dibedakan mana komentar, kritik, nyinyiran, atau hujatan yang baik dan buruk. Mana yang menumbuhkan optimisme dan mana yang menyebarkan pesimisme. Perkataan yang baik intinya  mendatangkan kemaslahatan, tidak menimbulkan  permusuhan dan perpecahan. 

Celakanya di sekitar kita saat ini, antara masukan konstruktif, kritikan, hujatan, dan provokasi semua meluncur berkelindan satu dan lainnya, lewat medsos atau media lainnya. Dalam menanggulangi pandemi Covid-19, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah.  Dana ratusan triliun rupiah digelontorkan, berbagai kebijakan pengendalian diterbitkan. Obat-obatan,  alat kesehatan, oksigen, ventilator, didatangkan, tes-tes antigen, antibodi dan lainnya gencar dilakukan, vaksinasi masal dilakukan,  tetap belum mampu menghentikan laju korban Covid-19.

Jumlah yang terpapar virus berbahaya itu semakin meningkat, jumlah korban meninggal terus bertambah, rumah sakit dan penampungan pasien kian penuh sesak. Dokter dan tenaga kesehatan kewalahan. Banyak di antara mereka pun tumbang. Menyusul  terjadi krisis oksigen, alkes, dan obat-obatan. 

Sebagian besar masyarakat memaklumi semua peristiwa itu sebagai musibah. Wabah berbahaya itu tidak hanya melanda negeri kita.  Upaya yang dilakukan pemerintah kita sangat memadai. Pikiran, tenaga, dan dana sepenuhnya dicurahkan untuk menanggulangi. Tapi upaya penanggulangan wabah di negara kepulauan  yang sangat luas dengan 270 juta jiwa bukan hal mudah. Perkembangan serangan Covid-19 sangat dinamis. Ketika angka korban mampu ditekan dan grafiknya mulai melandai, tiba-tiba muncul banyak varian baru --antara lain  B117, B1351, dan B1617 yang yang gampang menyebar dan lebih mematikan. 

Kondisi ini mestinya mengundang keprihatinan, empati,  dan membangkitkan semangat untuk membantu penerintah.  Anehnya sejumlah  tokoh  masyarakat malah memanfaatkan situasi ini menjadi panggung untuk mengeritik keras dan menghujat. Pemerintah dianggap kurang serius dan tidak mampu menanggulangi wabah Covid ini. Lalu muncullah berbagai kritik, celaan, hujatan liar tak berdasar  termasuk penyebaran hoaks di media sosial yang meresahkan. Bahkan ada yang tega menyebut Covid-19 sebagai bagian rekayasa dan konspirasi pemerintah dengan industri obat dan vaksin. Covid-19 itu proyek kaum kapitalis, dan seterusnya.

Mereka berteriak agar pemerintah memutuskan untuk melakukan lockdown.  Tapi begitu ada kebijakan penyekatan di jalan-jalan, mereka pun berteriak adanya pelanggaran hak asasi manusia. Mereka meminta pemerintah bertindak tegas, giliran ada penghentian kegiatan industri, mereka menyebut pemerintah sangaja membiarkan warganya kelaparan karena tak bisa bekerja.

Repotnya banyak tokoh masyarakat dan para juru dakwah yang ikut membentuk opini keliru. Kebijakan mencegah  kerumunan dituding sebagai proses sekularisasi, menjauhkan masyarakat dari kewajiban beribadah. Mereka tak membaca hadits Nabi soal wabah dan banyak fatwa ulama di Indonesia  dan di Timur Tengah tentang ibadah di tengah mengganasnya Covid ini.

Mereka  juga lupa ajaran Nabi  agar kita  berkata yang baik (konstruktif) dalam hal apa saja sebagaimana dikutip di awal tulisan ini: Berkatalah yang baik, atau (kalau tak mampu,  lebih baik) diam saja...