Kasihan Engkau, Suamiku!  

Kasihan Engkau, Suamiku!   
Puasa

KETIKA puasa Ramadhan belum lama diperintahkan, batasan boleh makan dan minum selama bulan suci itu belum ditentukan secara jelas.

Tak aneh jika para sahabat Rasulullah kala itu belum terbiasa untuk mengatur jadwal makan sahur dan berbuka.

Sebagian sahabat ada yang berpuasa lalu tertidur sebelum berbuka atau tak lama selepas berbuka. Akibatnya, mereka pun tidak sempat makan sepanjang malam.Malah, ada yang kebablasan tidak sahur serta baru makan lagi pada petang hari berikutnya.

Padahal, kala itu suhu udara di Madinah sangat terik, karena puasa berlangsung pada sekitar bulan April. Pada bulan itu, terik matahari di Madinah terasa sangat menyengat tubuh.

Suatu hari, Qais bin Shirmah Al-Anshari, seorang sahabat Rasulullah Saw. dari kalangan Anshar, berpuasa. Ketika saat berbuka tiba, ia pulang ke rumah dan bertanya kepada istrinya, “Apa kita punya makanan?”

“Maafkan aku, Suamiku!” jawab sang istri yang tidak berpuasa karena sedang haid, dengan hati yang sedih dan perih. “Hari ini kita tak punya makanan apa pun. Tunggulah sebentar.Aku akan mencarikan makanan untukmu!” tambahnya.Menenangkan sang suami.

 

Qais bin Shirmah, yang seharian bekerja berat, segera tertidur pulas semalaman. Ketika istrinya datang dengan membawa makanan dan melihat suaminya tidur sangat pulas, ia tidak membangunkan suaminya dan hanya bergumam, “Kasihan engkau, Suamiku!”

 

Pada tengah hari berikutnya, Qais bin Shirmah, yang belum makan dan minum sejak hari sebelumnya, jatuh pingsan. Kejadian yang menimpa Qais tersebut kemudian dilaporkan kepada Rasulullah Saw. Tak lama kemudian turun ayat-ayat Al-Quran berikut:

 

Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan Puasa bersetubuh dengan istri-istri kalian. Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak bisa menahan nafsu kalian. Karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka, kini berhubungan seksuallah dengan mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. Dan, makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam, (tetapi) janganlah kalian campuri mereka sementara kalian sedang beri‘tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, karena itu janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 187).

 

Betapa gembira kaum Muslim ketika mereka mendengar wahyu yang demikian itu turun. Mereka kini tidak lagi kesulitan dalam melaksanakan puasa mereka, karena ketentuan-ketentuannya sangat gamblang dan jelas bagi mereka.