Jimly: MUI & Ormas Islam Harus Ingatkan Rizieq Shihab

Jimly: MUI & Ormas Islam Harus Ingatkan Rizieq Shihab
Jimly Asshiddiqie

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof Jimly Asshiddiqie mengkritik Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas-ormas Islam yang terkesan tak peduli dengan sepak terjang Rizieq Shihab. 

Seharusnya MUI dan ormas Islam aktif mengingatkan Rizieq dan kelompoknya untuk tidak terus memperuncing masalah.

"Cara dakwah yang dilakukan Habib Rizieq ini kontraproduktif, sehingga harus diubah, apalagi di tengah kondisi pandemi. MUI dan ormas Islam lainnya seharusnya mengingatkan Habib Rizieq jangan memperuncing masalah," kata Jimly dilansir detikcom, Jumat (20/11/2020).

Di saat negara-negara di dunia berkembang ketakutan terhadap Islam (Islamophobia) karena dicap radikal, gaya dakwah Rizieq Syihab bisa ditafsirkan dan memperkuat hal itu.

Sebagai pemimpin agama, dia melanjutkan, bila ingin berdakwah, lakukan dengan baik dan sejuk. Tapi bila ingin berpolitik, sebaiknya dia dan FPI menyalurkannya lewat partai politik. 

"Atau bikin partai, kalau tidak, ya salurkan ke partai Islam yang ada," ujar Jimly.

Sayangnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang kini menjadi anggota DPD itu melanjutkan, hampir semua partai politik yang ada pun nyaris tak menjalankan fungsinya. 
Padahal merekalah yang seharusnya menyerap dan menyalurkan aspirasi yang berkembang di masyarakat. Juga melakukan komunikasi politik dan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat.

"Semua parpol, khususnya yang berbasis massa Islam, itu seharusnya bicara. Jangan hanya menikmati jabatan atau justru menunggu jabatan yang lebih banyak dan lebih tinggi lagi," kata Jimly.

Di sisi lain, dia berharap Presiden Jokowi mengakhiri periode kedua kepemimpinannya sekarang ini dengan khusnul khotimah, dengan baik. Karena itu, dia harus mampu merukunkan dan mewujudkan keadilan di tengah masyarakat.

Presiden Jokowi, kata Jimly, harus merenungkan kembali pendekatan terkait M Rizieq Syihab dan kelompoknya. Sebab, bila teologi perang dihadapi dengan ideologi perang, mungkin akan menghasilkan penyelesaian yang cepat dengan kemenangan negara. 

"Tapi selesainya itu tidak sejati, dan dalam jangka panjang bisa menimbulkan luka kebangsaan yang susah merawatnya," tandasnya.