Mutiara Hikmah

Jangan Salahkan Allah Bila Doa Anda Tidak Dikabulkan!

Jangan Salahkan Allah Bila Doa Anda Tidak Dikabulkan!
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“KANG. Tolong jelaskan kepadaku: kenapa doaku seakan menabrak tembok. Selalu!”

Demikian keluh berat seorang sahabat. Sekitar sebulan yang lalu. Mendengar keluhan memerihkan hati  demikian, lama saya tercenung dan termenung. Tidak lama kemudian, dalam benak saya pun “menggeliat” sebuah pertanyaan, “Benarkah doa seseorang seakan menabrak tembok selalu alias tidak dikabulkan oleh Allah Swt?’

Setiap orang, tentu, mendambakan kiranya doanya diterima oleh Allah Swt. Namun, di sisi lain, kerap kali ia tidak tahu bagaimana tata krama dan tata cara berdoa yang baik kepada-Nya, sehingga doanya dapat diterima oleh-Nya. Abu Hamid Al-Ghazali, seorang sufi kondang dari Masa Pertengahan, dalam sebuah karya besarnya berjudul Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn, mengemukakan bahwa tata krama dan tata cara seseorang ketika berdoa ada sepuluh:

Pertama, ketika berdoa hendaklah ia memilih saat yang mulia.  Misalnya, Hari ‘Arafah dari kelompok tahunan, bulan Ramadhan dari kelompok bulanan, hari Jumat dari kelompok mingguan, dan waktu sahur dari saat malam. Nabi Saw. berpesan, “Pada setiap malam, ketika malam tinggal tersisa sepertiga terakhir, Allah Swt. turun ke langit dunia. Lantas, Allah Swt. berfirman, ‘Barang siapa memohon (sesuatu) kepada-Ku, akan Ku-penuhi permohonannya. Dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, akan Ku-ampuni dosanya.’” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). 

Baca Juga

Kedua, hendaklah ia berdoa pada keadaan yang mulia. Pada dasarnya kemuliaan saat-saat tersebut berpangkal dari kemuliaan keadaan saat-saat tersebut. Ini karena waktu sahur adalah saat kalbu dalam keadaan bening, ikhlas, dan kosong dari segala godaan. Hari ‘Arafah dan hari Jumat adalah waktu segala cita-cita terpadu dan kalbu begitu kuat dalam mengharapkan limpahan rahmat Allah Swt. Inilah salah satu sebab kemuliaan waktu, selain karena berbagai rahasia yang ada padanya yang tidak kasat mata. Perlu dicatat pula, keadaan bersujud juga merupakan keadaan yang paling tepat untuk berdoa. Nabi Muhammad Saw. berpesan, “Orang yang paling dekat dengan Tuhan adalah orang yang dalam keadaan bersujud. Karena itu, perbanyaklah doa pada waktu bersujud.” (HR Muslim dari Abu Hurairah). 

Ketiga, hendaklah ia berdoa dengan menghadap ke arah kiblat dan mengangkat tinggi kedua tangannya.

Keempat, merendahkan suara antara merendahkan benar dan mengeraskannya. Ini karena Allah Swt. berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah dan suara yang lembut. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A‘râf [7]: 55).

Kelima, ketika berdoa hendaklah ia tidak memaksakan diri dengan memakai ungkapan puitis. Sebab, ketika seseorang berdoa, sewajarnya ia bersikap merendah. Sedangkan memaksakan diri dengan memakai ungkapan puitis tidak sesuai dengan sikap tersebut.
 
Keenam, hendaklah ia merendah ketika berdoa dan dengan kalbu yang tenang serta perasaan yang sarat dengan harapan dan khawatir.

Ketujuh, hendaklah ia memantapkan kalbunya ketika berdoa dan merasa yakin doanya akan diterima serta membesarkan harapan pada doanya tersebut. Ini karena Nabi Muhammad Saw. berpesan, “Bila salah seorang di antara kalian berdoa, hendaklah ia memperbesar harapannya. Sebab, tiada sesuatu pun yang menyamai keagungan-Nya.” (HR Ibn Hibban dari Abu Hurairah). 

Kedelapan, hendaklah ia bersungguh-sungguh ketika berdoa dan mengulanginya tiga kali. ‘Abdullah ibn Mas‘ud menuturkan bahwa “ketika Nabi Saw. berdoa, beliau mengulanginya tiga kali dan ketika memohon beliau memohon tiga kali.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Kesembilan, hendaklah doa dimulai dengan mengingat Allah Swt. Karena itu, doa hendaklah tidak dimulai langsung dengan permohonan. 

Kesepuluh, mengetahui tata krama dalam berdoa. Yaitu bertobat, mengembalikan hak orang yang teraniaya, dan menghadapkan jiwa dan raga kepada Allah Swt., dengan seluruh keinginan kalbu.

Masih dalam kaitannya dengan tata krama dan tata cara berdoa, Ibn ‘Atha’illah Al-Iskandari, seorang Tuan Guru kondang asal Alexandria, Mesir berpesan, “Doa memiliki syarat, sayap, waktu, dan penyebab.  Bila doa selaras dengan syaratnya, tentu doa itu akan menjadi kuat. Bila doa itu selaras dengan waktunya, tentu doa itu akan “bernasib baik”. Sedangkan bila selaras dengan penyebabnya, doa itu akan berhasil. Syarat doa adalah kehadiran kalbu bersama Allah Swt., khusyuk karena-Nya, malu kepada-Nya, dan mengharap sangat kemurahan-Nya. Sayapnya adalah ketulusan kalbu dan senantiasa berusaha menyantap makanan yang halal. Waktunya adalah saat yang sunyi dan sepi seperti halnya saat dini hari. Sedangkan penyebabnya adalah shalawat kepada Rasulullah Saw.”

Selain itu, ada saat, tempat, dan keadaan yang membuat doa dikabulkan. Mengenai hal tersebut, Dr Musthafa Murad, seorang ulama Al-Azhar Mesir, dalam sebuah karyanya berjudul Du‘â’ Al-Anbiyâ’,, mengemukakan sebagai berikut: saat Lailatul Qadar; saat larut malam; saat antara azan dan iqamah; saat malam; ketika meminum air Zamzam; ketika bersujud; selepas mengucapkan shalawat kepada Nabi Saw. dalam tasyahhud akhir; doa baik untuk sesama Muslim tanpa sepengetahuan orang yang didoakan; doa orang yang ketakutan pada malam hari; saat hujan turun; saat menuju medan pertempuran; doa penguasa yang adil; doa orang tua untuk anak-anaknya; doa orang yang dizalimi; doa orang yang berpuasa saat berbuka; waktu ‘Asar paling akhir pada hari Jumat; doa orang yang sedang di tengah perjalanan; doa orang yang banyak mengingat Allah Swt; doa pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah; doa untuk seseorang yang belum lama berpulang; tidak melakukan hal-hal yang bid‘ah dalam berdoa; tidak melakukan hal-hal yang terlarang ketika berdoa (misalnya orang yang memutus silaturahmi dan memohon segera mati); saat tertimpa musibah; saat kepepet; saat ayam jantan berkokok dan saat keledai menguak; dan saat di majelis dzikir. 

Tentu tidak semua doa dikabulkan oleh Allah Swt. Lantas, bagaimana seyogianya sikap seseorang ketika ia merasa seakan doanya tidak dikabulkan oleh-Nya?

“Jangan salahkan Allah Swt. bila doa tidak dikabulkan. Juga, jangan menggerutu atau jemu,” demikian pesan Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani (1078-1167 M), seorang Tuan Guru kondang, dalam sebuah karyanya berjudul Mafâtih Al-Ghaib, “Jika Anda memohon tibanya cahaya siang pada saat kian mendekatnya kegelapan malam, maka penantian Anda akan lama. Ini karena ketika itu kepekatan akan meningkat, hingga fajar tiba. Namun, yakinlah, fajar pasti menyingsing. Baik Anda kehendaki atau tidak. Jika Anda menghendaki kembali malam pada saat itu, maka doa Anda tidak akan dikabulkan. Ini karena Anda meminta sesuatu yang tidak layak, dan Anda akan dibiarkan meratap, lunglai, jemu, dan enggan. Namun, Anda salah bila jemu berdoa, karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (QS Al-Insyirâh [94]: 5-6).” 

“Perlu Anda ketahui, bila apa yang dimohonkan tidak diperoleh dengan segera, Anda tidak akan merugi,” demikian pesan lebih lanjut Syeikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani. “Nabi Muhammad Saw. berpesan, ‘Pada hari kebangkitan ada yang terheran-heran melihat ganjaran perbuatan yang dia rasakan tidak pernah dilakukannya. Ketika itu disampaikan kepadanya, ‘Inilah doa-doamu di dunia yang dulu tidak dikabulkan.’ Karena itu, janganlah jemu berdoa. Juga, jangan menggerutu. Apalagi mengutuk!”

Ya, jangan menggerutu. Apalagi mengutuk Allah Swt., karena seakan doa belum dikabulkan. Rasulullah Saw., dalam sebuah hadis lain tentang penundaan pemenuhan doa seseorang, mengemukakan:

 “Pada Hari Kiamat kelak, Allah Swt. akan memanggil seorang hamba-Nya. Ketika sang hamba telah berada di hadapan-Nya, Dia pun bertanya kepada-Nya, ‘Hai hamba-Ku! Bukankah Aku telah memerintahkan, hendaklah engkau berdoa kepada-Ku. Juga, bukankah Aku telah berjanji akan memenuhi permohonanmu?’ 

‘Benar, ya Rabb,’ jawab hamba itu.

‘Sejatinya, setiap permohonanmu senantiasa Aku penuhi. Bukankah pada suatu saat dan saat yang lain engkau memohon kiranya engkau dihindarkan dari suatu petaka, lantas Aku penuhi permohonanmu itu?’ 

‘Benar, ya Rabb.’ 

‘Permohonanmu itu segera Ku-penuhi, sedangkan engkau masih berada di dunia. Juga, bukankah pada suatu saat dan pada saat yang lain engkau memohon kiranya dihindarkan dari suatu petaka lain. Namun, engkau merasa seakan Aku tidak memenuhi permohonanmu itu?’ 

‘Benar, ya Rabb.’ 

‘Aku menjadikan permohonanmu itu sebagai simpanan. Di surga. Bukankah pada suatu saat yang lain engkau memohon sesuatu dan permohonanmu itu segera Aku penuhi?’ 

‘Benar, ya Rabb.’ 

‘Aku perintahkan supaya permohonanmu itu segera dipenuhi. Kemudian, ketika engkau memohon sesuatu yang lain, bukankah engkau merasa permohonmu itu tidak Ku-penuhi?’ 

‘Benar, ya Rabb.’ 

Allah pun berfirman, ‘Aku jadikan permohonanmu itu sebagai tabungan. Di surga!’” 

Usai mengemukakan demikian, Rasulullah Saw. kemudian berpesan, “Terhadap setiap doa, yang dikemukakan oleh seseorang yang beriman, Allah Swt. senantiasa memberikan dua pilihan: segera memenuhi doa itu di dunia. Atau Dia menjadikan doa itu sebagai simpanan di akhirat. Dan, andai orang itu tahu mengenai hal itu, tentu ia akan mengatakan, ‘Andai saja doaku tidak segera dipenuhi Allah. Di Dunia ini.’” (HR Al-Hakim dari Jabir bin ‘Abdullah). 

Masih erat kaitannya dengan doa yang tidak dikabulkan, suatu saat Abu Ishaq Ibrahim bin Adham, seorang Tuan Guru kondang, ditanya, “Tuan Guru! Kami telah berdoa. Namun, tampaknya, doa kita tidak dikabulkan.”
 
“Saudaraku,” jawab sang Tuan Guru, “Hal itu terjadi karena kalbu Anda telah mati akibat sepuluh hal. Pertama, Anda mengenal Allah Swt. Namun, Anda tidak menunaikan hak-hak-Nya. Kedua, Anda merasa telah mencintai Rasulullah Saw. Namun, ternyata, Anda meninggalkan sunnah beliau. Ketiga, Anda membaca Al-Quran. Namun, Anda tidak mengamalkannya. Keempat, Anda menyantap nikmat Allah Swt. Namun, Anda tidak mensyukurinya. Kelima, Anda memandang setan sebagai musuh. Namun, Anda seiring langkah dengannya. Keenam, Anda menyatakan bahwa surga adalah benar adanya. Namun, Anda tidak beramal untuknya. Ketujuh, Anda menyatakan bahwa neraka benar adanya. Namun, ternyata, Anda tidak menghindarinya. Kedelapan, Anda menyatakan bahwa kematian adalah benar adanya. Namun, ternyata, Anda tidak bersiap-siap dan tidak bersedia untuk menyambut kedatangannya. Kesembilan, setiap kali terjaga dari tidur Anda senantiasa sibuk dengan aib orang lain. Namun, Anda melalaikan aib Anda sendiri. Dan, kesepuluh, Anda mengebumikan orang-orang yang berpulang. Namun, Anda tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.”

Sekali lagi, berkenaan dengan doa, suatu saat seorang kiai kondang dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Syaichona Cholil Bangkalan, menerima tiga tamu. Secara bersamaan. Selepas berbagi sapa dengan para tamu, sang kiai lantas bertanya kepada tamu pertama, “Sampeyan (Anda) ada keperluan apa?”

“Kiai. Saya ini seorang pedagang,” jawab si tamu pertama. 

“Akhir-akhir ini, saya mengalami kerugian. Terus menerus. Mohon doa Kiai.”

“Jika sampeyan ingin berhasil dalam berdagang, perbanyaklah beristighfar,” jawab sang kiai. 

Selepas berucap demikian, Syaichona Cholil Bangkalan lantas bertanya kepada tamu kedua. Tetap dengan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan yang diajukan kepada tamu pertama, “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Kiai. Saya telah berkeluarga. Selama sekitar 18 tahun. Namun, hingga saat ini saya belum dikaruniai oleh Allah Swt. keturunan. Apa yang sebaiknya saya lakukan, Kiai,” jawab tamu kedua.

“Jika sampeyan ingin memiliki keturunan, perbanyaklah beristighfar,” jawab sang kiai. Dengan jawaban serupa dengan jawabannya kepada tamu pertama.

Selepas berucap demikian, kiai kondang itu lantas bertanya kepada tamu ketiga. Tetap dengan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan yang diajukan kepada tamu pertama dan kedua, “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Kiai. Saya ini seorang petani,” jawab tamu ketiga. Dengan raut muka sedih. “Hari demi hari, utang saya kian menumpuk. Malah, kini saya tidak kuat melunasinya. Saya juga mohon arahan Kiai.”
“Jika sampeyan ingin utang itu terlunasi, perbanyaklah beristighfar,” jawab sang kiai.

Mendengar perbincangan yang demikian, beberapa santri yang hadir dalam pertemuan itu merasa heran dan bingung. Tiga masalah yang berbeda kok diberikan “resep” yang sama: dengan memperbanyak beristighfar.  Mengetahui kebingungan dan keheranan para santri tersebut, selepas para tamu pamit, Syaichona Cholil Bangkalan lantas memanggil mereka dan kemudian membacakan ayat Alquran berikut, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia adalah Maha Pengampun. (Dengan memohon ampun), niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS Nûh [71]: 10-12). 

Mendengar jawaban Syaichona Cholil Bangkalan yang demikian, para santri pun mengerti bahwa jawaban itu ternyata merupakan janji Allah Swt. Bagi siapa pun yang memperbanyak beristighfar. Dan, ternyata, benar: tak lama selepas kejadian itu, tiga tamu tersebut mengabarkan bahwa mereka berhasil mewujudkan apa yang mereka dambakan. 

Jelas kini, doa memiliki syarat, sayap, waktu, dan penyebab.  Bila doa selaras dengan syaratnya, tentu doa itu akan menjadi kuat. Bila doa itu selaras dengan waktunya, tentu doa itu akan “bernasib baik”. Sedangkan bila selaras dengan penyebabnya, doa itu akan berhasil!@ru