Istri dan Survival di Negeri Orang

Istri dan Survival di Negeri Orang
Oleh: As'ad Said Ali 

KANGKUNG, tahu, dan tempe adalah makanan pokok kami di samping nasi. Ketika tinggal di Arab Saudi selama empat tahun, tidaklah sulit mendapatkan ketiganya karena semuanya dijual di pasar. Tapi ketika pindah ke Syria timbul persoalan karena tidak ada yang menjual makanan jenis itu. Untungnya istri saya inovatif dan kreatif.

Sejak di Jeddah isteri secara diam-diam belajar membuat tahu dan tempe. Membuat tahu lebih mudah dengan menggunakan blender untuk menggiling kedelai. Tempe sedikit lebih sulit karena perlu “biang tempe” dan kendala musim dingin. Waktu di Jeddah, istri dibantu pembantu membuat 'ikan asin'. ikan harganya murah tinggal digarami, dua hari karena panas sekitar 40 C jadilah ikan asin yang enak. Jadi tidak perlu beli ikan asin yang harganya super mahal karena diimpor dari Jakarta.

Bagaimana dengan kangkung? Setelah tinggal tiga bulan di Damaskus, istri mengajak umrah naik mobil, hanya sehari semalam sampai Mekah. Rupanya, ia sengaja ketemu rombongan umrah dari Kudus untuk mengambil pesenan biang tempe. Di samping itu juga mengambil bibit kangkung dari Jeddah di simpan di bagasi mobil.

Kangkung ditanam di pot, ada sekitar 50 pot kangkung, saya taruh mengelilingi tempat tinggal kami, kebetulan dilantai kedua dari empat lantai. Kalau musim dingin pot dipindah ke dalam rumah, untuk menghindari udara dingin (sampai nol derajat). Ditanam juga kemangi dan cabe rawit.
 
Tidak ada yang menanam kecuali istri saya, betapa mahalnya nilai kangkung. Semua tamu yang datang bertamu, ikut menikmati terutama nasi goreng Kudus dan sayur asam. Tahu, tempe, kangkung, kemangi dan cabe rawit (plus terasi Juwono) menjadi motivasi untuk survival di negeri orang. Istri saya hanya lulusan Aliyah, tetapi kreatif. Alhamdulillah 

Kenangan yang indah jadi muncul kembali ketika ia terbaring di rumah sakit. Istri yang luar biasa. Sepanjang hidup kami sudah sembilan kali pindah rumah, dan di setiap tempat isteri saya selalu menjadi yang terdepan mengurus majlis taklim, di dalam maupun di luar negeri. 

Baca Juga

Ketika saya pindah ke Bekasi, ia minta dibelikan tanah 500 m2 di sebelah kantor PCNU Bekasi. Ternyata kemudian diwakafkan untuk yayasan tahfidz Quran khusus yatim piatu. Istri solihah, mohon keikhlasan doa agar tetap sehat.

DR. KH. As'ad Said Ali, mantan Wakil Kepala.BIN dan mantan Ketua Umum PBNU.