Gus Baha (2)

Islam Happy

Islam Happy
Fauzi Rahman

Oleh:  Fauzi Rahman

KEHADIRAN Gus Baha dalam jagad maya yang bernama  Youtube seakan menghentak dan mengagetkan suasana keberagamaan dan keberislaman yang beberapa tahun terahir ini "kaku"  dan cenderung secara langsung atau tidak langsung “mengintimidasi” pemeluknya.

Apalagi dengan semakin kuatnya wajah berislam yang berkarakter "sangar" dengan jargon-jargon  yang ngeri-ngeri sedap, kasar dan mendestruksi cara berislam yang telah berjalan berabad-abad di Nusantara, khususnya negeri tercinta Indonesia ini, dengan tanpa ampun mereka menggempur habis-habisan cara  berislam kaum tradisionalis atau lebih biasa disebut kaum santri terutama yang "digawangi" oleh kyai pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama atau NU, tak menutup kemungkinan ormas lainnnya, Muhammadiyah misalnya.

Kehadiran Gus Baha dengan segenap kekayaan ilmu dan wawasannya bukan hanya mampu mematahkan argumen  cara berislam  sangar dan takfiri tapi juga terkadang berani melawan arus di kalangan NU sendiri, ini menurut saya bagus, agar terjadi keseimbangan sekaligus koreksi agar pesantren lebih percaya diri sebagai pembawa dan pemandu khazanah  keilmuan yang moderat sesuai dengan konsep berislam Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dianut.

Gus Baha murni produk pesantren tradisional, seakan memberi pesan besar bahwa santri harus yakin, percaya diri dan mampu menunjukkan identitas kesantriannya dengan ilmu yang mumpuni dan tidak lebih rendah dari lulusan pesantren modern atau lulusan Universitas  Islam dalam dan luar negeri sekalipun, karena santri dilengkapi literatur klasik yang memperkaya analisanya.

Kemunculan Gus Baha  seakan melahirkan suasana baru yang siapapun tidak bisa membantah bahkan berhasil memesonakan yang istilah Gus Baha kubu sebelah.

Anehnya lagi munculnya Gus Baha tidak memunculkan kontroversi diluar maupun didalan NU, seakan semua mengamini irama Gus Baha, tua-muda, orang awam sampai profesor gandrung dan senang dengan cara ngaji Gus Baha, Amazing

Kaitan dengan judul tulisan di atas (lihat di youtube) saya tertarik dengan pertanyaan  seseorang ketika ikut ngaji bareng  Gus Baha di kampus UNISSULA, Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Pertanyaannya menggelitik, dia bilang begini: 

Di era sekarang terlalu banyak kyai. Sangking banyaknya kyai menjadi sulit membedakan mana yang benar mana yang tidak, cara pandang Gus Baha luar biasa, fundamental,  mencerahkan dan asyik, sebaiknya Gus Baha menulis buku, SAYA MUSLIM, SAYA HAPPY, dan bahkan penanya minta Gus Baha ngaji rutin tiap bulan di UNISSULA.

Jawaban Gus Baha di luar dugaan saya, sangat cerdas dan mematikan tapi tidak membuat  tersinggung, semua happy karena sambil disertai guyonan, Gus Baha jawab begini: 
Yang namanya ngaji itu di mana-mana yang datang murid atau santri ke  kyainya. Lho ini santri kok nyuruh-nyuruh kyai, dan disambut gerr,  ketawa berjamaah, al ilmu yu'ta wala ya'ti, ilmu itu didatangi bukan mendatangi, untuk mendapat air harus mendatangi  sumur  bukan sumurnya yang dipindah, ini namanya tidak sopan kata Gus Baha, tapi sekali lagi disambut ketawa para jamaah.

Sedang penannya berikutnya seorang perempuan, dia tanya tentang menutup aurat sebenarnya gimana, karena  banyak temannya yang santri juga tidak sempurna menutup auratnya.

Menurut  Gus Baha seperti apa menutup aurat yang benar. Sekali lagi Gus Baha menjawab dengan cerdasnya: Satrul aurat (menutup aurat) bagi perempuan ada yang fisik ada yang maknawi. Yang fisik satrul aurat di didefinisikan Aurotul mar’ah fis sholah illal wajhi wal kaffain, aurat wanita yaitu dalam shalat harus tertutup semua selain wajah dan dua tangan, ini disepakati oleh semua imam madzhab kecuali imam syafi’i yang berpendapat kalau diluar shalat itu jam’ul badani, seluruh tubuh.

Tapi menurut Gus Baha, pandangan kita terhadap hal ini harus diposisikan sebagai perintah dari Allah bukan sebagai syarat.

Kalau sebagai syarat konsekuensinya orang islam harus menutup aurat begini begini, kalau tidak begitu dianggap tidak Islam atau keluar dari Islam karena tidak memenuhi syarat. Tapi  kalau sifatnya perintah paling banter dia dicap tidak sholihah atau fasiqoh, tetapi tidak sampai menggugurkan keislamannya , aplagi sampai dianggap keluar dari Islam.

Di Indonesia menurut Gus Baha memang unik, bahkan pengamat dari luar negeri pun pusing,  ketika melihat banyak wanita muslim pergi ke mesjid untuk shalat hanya berpakaian biasa dan bahkan terbuka, baru tertutup ketika pakai mukena untuk shalat, malaikat dibuat bingung, itulah yang terjadi, maka kalau menutup aurat dianggap syarat maka banyak yang gugur keislamannya.

Gus  Baha sebagai mana ulama mayoritas memandang menutup aurat bagi wanita sebagai perintah saja bukan syarat. Sebuah pandangan yang menurut saya sangat cerdas karena jarang ulama yang berpandangan seperti ini. 

Wallahu a’lam 

*Penulis adalah alumni PP Raudlatul Muta’allimin Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo serta Fak Syari’ah UIN SJKA Yogyakarta