Mengenang Kembali Arsitek Masjid Salman ITB

Ir. Achmad Noe’man, Antara Masjid, dan Kaligrafi

Ir. Achmad Noe’man, Antara Masjid, dan Kaligrafi

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ALHAMDULILLAH. Hari ini saya dapat melaksanakan shalat Jumat di Masjid Salman ITB!” 

Demikian gumam pelan bibir saya. Siang hari dua hari yang lalu. Sambil memasuki pelataran masjid di lingkungan Institut Teknologi Bandung itu. Mungkin, lebih dari dua tahun saya tidak melaksanakan shalat Jumat itu. Antara lain karena pandemi covid-19 yang masih belum reda hingga kini. Dua hari yang lalu, saya melaksanakan shalat Jumat di situ, karena saya dan istri ada janji bertemu dengan seorang sahabat: Ir. Hari Utomo. Untuk membincangkan suatu kegiatan selepas shalat.

Begitu memasuki pelataran masjid, saya lihat hampir semua ruang sudah terisi jamaah. Saya lihat, posisi setiap jamaah diatur sesuai dengan aturan protokol kesehatan. Kemudian, ketika memandangi menara masjid, bagian pertama masjid yang pertama-tama didirikan, entah kenapa tiba-tiba “bayang-bayang” arsitek masjid itu muncul dalam benak saya: Ir.  Achmad Noe’man. Tidak lama kemudian, dalam benak saya muncul pertemuan saya dengan maestro masjid yang lahir di Garut, pada 10 Oktober 1924 itu. Pada suatu pagi sekitar sebelas tahun yang lalu. 

Pagi itu, ketika kedua tangan saya sedang asyik “menenun” ide-ide yang sedang “menggeliat” dan “membara” dalam benak, tiba-tiba telpon genggam saya berdering. Saya pun segera mengangkat telpon genggam itu. Begitu telpon genggam itu saya angkat, tiba-tiba suara ramah dan santun dari seberang pun mengucapkan salam.

Sejenak saya termenung dan kemudian berusaha mengingat-ingat suara itu. Segera saja, saya mengenali suara yang telah saya kenal semenjak lama, tapi lama tidak saya dengar. Itulah suara Ir. Achmad Noe‘man (alm.), seorang arsitek senior Indonesia yang terkenal sebagai perancang Masjid Salman ITB dan sederet masjid lainnya itu. Entah kenapa, saya senantiasa merasa bahagia setiap kali mendengar suara tokoh berwajah teduh, santun, ramah, dan kuat dalam memegang nilai-nilai yang mulia itu. 

Entah kenapa pula, tiba-tiba dalam benak saya “melenting” bayang-bayang Masjid Salman ITB. Yang telah lama tidak saya kunjungi. Sebuah masjid yang tidak megah, tapi indah, dengan kubah  terbalik  di lingkungan kampus ITB. Lembaran sejarah menorehkan, masjid yang tegak di Jalan Ganesha, Bandung itu dirancang Ir. Achmad Nou‘man.

Tanpa Kubah

Berdirinya masjid itu sendiri bermula dari bangkitnya kesadaran kehidupan beragama pada sebagian civitas akademika, dosen, mahasiswa, dan karyawan  ITB.Kondisi yang demikian itu kemudian mendorong mereka untuk mengusahakan berdirinya sebuah masjid. Cikal bakal semangat ini bersemi sekitar 1374  H/1953 M, dengan dilakukannya beberapa kegiatan. Lantas, pada 1379 H/1959  M, mulai dibentuk suatu kepanitiaan. Yaitu Panitia Pembangunan Masjid Kampus ITB. Sebagai arsitek, Pak Achmad Noe’man yang dipilih. Lahirlah kemudian, sebuah rancangan masjid tanpa kubah. 

“Tahun 1959, saya merancang Masjid Salman. Waktu itu sudah lulus dari ITB. Ketika itu, yang namanya arsitek masih dapat dihitung dengan jari... Untuk merancang masjid itu, saya pertama-tama membongkar-bongkar literatur arsitektur. Kemudian, akhirnya saya naik haji. Usai naik haji, saya mampir ke Regent Park di London. Waktu itu Regent Park belum jadi. Lalu ke Bonn, Muenchen, dan Istanbul. Ke Hagia Sophia. Saya mencari acuan. Akhirnya, saya menemukan Surah Al-Taubah ayat 108: janganlah kita membuat masjid yang mengakibatkan riya’. Gitu kan. Saya justru mencari nilai-nilai yang universal. Yang transendental. Maka, saya hilangkan itu bentuk kubah. Memang, berat juga waktu menghilangkah kubah dari rancangan saya. Itu kan ciri kita,” tutur Pak Achmad Noe’man suatu ketika tentang proses perancangan Masjid Salman ITB.

Pada tahun berikutnya, tepatnya pada Jumat, 1 Dzulhijjah  1379  H/27 Mei 1960 M, sekitar 41 tahun yang lalu, diselenggarakanlah shalat Jumat pertama di Aula  Barat ITB. Kemudian, pada Dzulqa‘dah 1382  H/Maret 1963 M, kepanitiaan tersebut dikukuhkan  menjadi suatu badan hukum, yaitu Yayasan Pembina  Masjid Salman. Dengan ketua umum pertamanya Prof. TM. Soelaeman. Nama masjid ini sendiri, “Salman”, diambil dari nama seorang sahabat Nabi Muhammad  Saw. berdarah Persia, Salman Al-Farisi: seorang arsitek pembuatan parit pertahanan dalam Perang Khandaq yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw. masih hidup. Tepatnya ketika terjadi pada Perang Ahzab  (koalisi) yang terjadi pada Syawwal 5 H/Maret 627 M.

Ide Salman Al-Farisi yang cemerlang  itu menjadi inspirasi bagi Presiden Sukarno (Bung Karno), presiden pertama Republik Indonesia, ketika memberi nama masjid itu. Bung Karno sendiri, begitu melihat  rancangan masjid yang kubahnya terbalik itu, langsung menyetujui rancangan Ir. Achmad Nou‘man itu dan membubuhkan tanda tangan persetujuannya atas rancangan itu. Menara adalah bangunan pertama yang  didirikan. Lantas, pada Jumat, 21 Rabi‘ Al-Awwal 1392 H/5 Mei 1972 M, bangunan ini resmi dibuka  Rektor ITB kala itu, Prof. Dr. Doddy Tisna  Amijaya (alm.). Dalam perjalanan masjid ini selanjutnya, berbagai kegiatan marak dilakukan dalam rangka memakmurkan masjid ini.

Nah, selepas mengenali suara itu, saya pun segera membalas salam arsitek yang telah merancang banyak masjid itu dan menanyakan tentang kesehatannya.

“Ya, alhamdulillah, saya juga sehat. Bolehkah saya mengganggu?” jawab Ir. Achmad Noe‘man. Dengan nada suara lamban dan pelan.

“Silakan, Pak.”

“Begini, Rofi’. Saat ini saya sedang merancang desain kaligrafi Masjid Baiturrahim, Jakarta. Rancangan itu kini sudah rampung. Saya ingin Rofi’ meneliti desain kaligrafi itu. Saya tidak ingin ada kesalahan pada desain itu. Karena itu, saya harap desain itu Rofi’ teliti cermat dengan melihatnya langsung.”

“Insya Allah, desain itu akan saya lihat dan periksa, Pak.”

Alhamdulillâh, terima kasih. Hari Sabtu saya tunggu ya. Assalâmu‘alaikum.”

Juga Menyenangi Kaligrafi

Dua hari kemudian, Sabtu 27 Februari 2010 M, saya kemudian menuju ke Masjid Salman ITB. Sekitar pukul satu siang, saya kemudian menuju sebuah paviliun yang terletak di Jalan Ganesha. Di situlah kantor Ir. Achmad Noe‘man, PT Birano, berada. Selepas mengetuk pintu paviliun itu beberapa lama, keluarlah tokoh yang telah saya kenal semenjak 1985 M itu. Adik seorang pelukis Muslim kondang Indonesia, Ahmad Sadali, itu sendiri yang membukakan pintu. Karena hari itu Sabtu dan libur, tiada seorang pun karyawan yang hadir. Dengan kata lain, yang ada di kantor itu hanya arsitek berwajah teduh itu. Sendirian. Ya, sendirian.

Selepas melintasi sebuah lorong, kami kemudian memasuki sebuah ruang kecil berukuran tidak lebih dari 3 x 3 meter di sebelah kanan ujung lorong. Begitu memasuki ruang yang menurut saya sangat sederhana, bagi seorang maestro seperti halnya Ir. Achmad Noe‘man, mata saya pun segera “menari-nari”. Ke berbagai “penjuru” ruang itu.

Dalam ruang itu terdapat sebuah meja satu biro. Di meja itu penulis lihat ada sebuah Alquran dan Al-Mu‘jam Al-Mufahraz (indeks Alquran). Di belakang meja itu terdapat rak-rak yang sarat dengan buku-buku arsitektur. Sedangkan di sebelah kiri meja terdapat rak yang berhiaskan sebuah pesawat radio lama. Yang sedang menyiarkan lagu-lagu jazz. Tanpa bertanya, saya segera menyadari bahwa Radio KLCBSlah yang sedang “naik pentas”. Melihat dan mendengar semua itu, tiba-tiba bibir saya pun bergumam pelan, “Alquran, buku-buku arsitektur, dan lagu-lagu jazz tampaknya menyatu dalam kehidupan maestro arsitektur yang satu ini.”

Tidak lama kemudian, perbincangan panjang pun mengalir. Lama. Dalam perbincangan itu, arsitek berwajah teduh dan ketika berbicara agak tergagap itu, antara lain, mengemukakan bahwa saat itu beliau sedang terlibat dalam kegiatan pemugaran Masjid Baiturrahim. Di lingkungan Istana Merdeka, istana kepresidenan di Jakarta.

Di sela-sela perbincangan itu, tokoh yang pernah menjadi anggota Corps Polisi Militer di Bandung,  dengan pangkat letnan dua itu, menunjukkan beberapa desain kaligrafi yang akan menghiasi pintu utama masjid negara itu dan meminta supaya kaligrafi-kaligrafi itu diteliti. Dengan sangat cermat. Permintaan indah itu pun segera saya laksanakan. Hingga menjelang waktu shalat Asar tiba. Ketika suara azan dari  Masjid Salman ITB menggema, saya pun pamit kepada Pak Noe’man. Untuk melaksanakan shalat Asar di masjid kondang itu.

Masjid Salman ITB memang tidak pernah lepas dari sentuhan tangan seorang arsitek senior Indonesia yang bernama Achmad Noe‘man itu. Namun, selain merancang sederet masjid, di Indonesia dan luar negeri, arsitek yang satu itu sejatinya juga sangat lekat dengan kaligrafi Islam. Karena itu, tidak aneh bila selain merancang masjid,  kaligrafi Islam, utamanya kaligrafi berlanggam kufi, setiap hari nyaris “menyita” hari-hari panjangnya. Salah satu warisannya adalah kaligrafi yang kini menghiasi Masjid Baiturrahim, Jakarta.

Kini, mengapa arsitek yang satu ini juga menekuni kaligrafi?

“Kita tahu, kaligrafi itu bermacam-macam. Katakanlah mazhabnya... Yang saya sukai naskhi dan tsuluts. Kufi juga senang. Kufi itu kan geometris. Kalau naskhi itu betul-betul mengikuti ujung pena yang ujungnya dipotong. Kalau dulu dari kayu, dari bambu. Jadi, kalau dimiringkan hingga datar, karakternya juga akan datar. Betapa displinnya kita ketika sedang menulis kaligrafi. Thuluts itu kan anatominya dan wau, sin,  dhad, alif, proporsional begitu dengan huruf lain. Itu eksak, lo. Jadi, bukan sekadar menulis saja. Itulah yang membuat saya menyenangi kaligrafi, karena indah dan disiplin,” tutur arsitek yang berpulang di Bandung pada 4 April 2016 itu.

“Ya Allah. Limpahkanlah kasih sayang dan cinta-Mu kepada Pak Achmad Noe’man yang kini telah kembali kepada-Mu,” doa pelan, sepenuh hati, bibir saya ketika dengan langkah-langkah pelan saya meninggalkan lingkungan Masjid Salman ITB. “Allâhumma âmîn.”