Investor Lokal dan Asing Minat Kucurkan Modal ke Merpati

Investor Lokal dan Asing Minat Kucurkan Modal ke Merpati

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Upaya membangkitkan kembali PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) terus dilakukan. Perusahaan plat merah ini memang sakit berat sejak 2008. Sepuluh tahun berlalu, beban utangnya telah mencapai Rp10,72 triliun.

Terhitung sejak 2014, Merpati tak lagi bisa mengakasa. Alasannya, karena sejak 2008 perseroan kalah saing dengan perusahaan penerbangan lain yang memiliki armada efisien dan canggih.
Sedangkan pesawat milik Merpati Airlines banyak yang sudah tua dan tidak efisien.

Berbagai upaya pun dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan ini lewat bantuan PT Perusahaan Pengelolaan Aset (Persero). Salah satunya adalah memasang iklan di media massa.

Direktur PT PPA Henry Sitohang mengatakan, dari info di koran itu, ada satu investor yang tertarik untuk menyuntikkan dana ke Merpati.

“Ada yang masuk dari swasta. Mungkin dia afiliasi juga karena belum ditetapkan sebagaimana mungkin namanya. Enggak usah kita disclose gitu,” kata Henry di Jakarta, Senin (16/7).

Tapi Henry enggan menyebutkan siapa investor yang dimaksud. Dia menyebut masih terlalu dini. Investor swasta itu, perusahaan di dalam dan luar negeri yang pernah punya maskapai. Saat ini, dia berkerja sama dengan investor dari luar untuk pendanaan supplier pesawat.

Dia juga enggan mengungkap berapa dana yang akan disuntik ke Merpati nantinya. Yang pasti, kalau jadi, perusahaan itu akan menggelontorkan dana yang besar, sebab beban utang Merpati saja per 2017 sudah Rp10,72 trliun.

“Sementara ini angkanya cukup besar. Kita enggak mau sebut dulu karena masih dalam pembahasan. Kalau inject, kita sedang diskusi bahwa dia kan minta yang utang ini dikonversi jadi pemegang saham, setelah dikonversi dia masuk ini akan terdilusi jadi minoritas kan,” paparnya.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Rojuga enggan membocorkan siapa investor yang dimaksud. Menurutnya, dengan masuknya investor ini, akan membuat ekuitas perusahaan tidak lagi minus.

Dia juga enggan mengomentari apakah investor ini akan mayoritas atau minoritas.

“Kalau ada yang mau masuk saja udah bagus kan. Sekarang sudah naik equity-nya. Kita enggak mau lihat mayoritas atau minoritas, yang penting keinginan masuk dulu dan membuka bisnis model baru yang kreatif,” katanya.

Pada 2008 lalu, aset perusahaan Rp999 miliar, kewajiban utang Rp2,8 triliun, ekuitas minus Rp1,84 triliun, pendapatan Rp2,3 triliun, dan laba bersih minus alias rugi Rp641 miliar.

Hingga 2017, kondisi keuangan Merpati, terdiri atas aset Rp1,21 triliun, kewajiban utang Rp10,72 triliun, ekuitas minus Rp9,51 triliun, pendapatan tidak ada karena sudah tidak beroperasi sejak 2014, dan laba bersih minus alias rugi Rp737 miliar.