Investor, Jangan Terjebak Janji Imbal Hasil yang Tinggi!

Investor, Jangan Terjebak Janji Imbal Hasil yang Tinggi!
Market Bisnis.com

Jakarta, SENAYANPOST.com - Belakangan ini ramai kasus gagal bayar insttrumen high yield promissory notes (HYPN) terbitan PT Indosterling Optima Investama (IOI) yang diperkirakan bernilai Rp1,9 triliun. IOI menerbitkan atau menjual high yield promissory notes dengan imbal bunga 9-12 persen per tahun pada 2018-2019. Namun, sejak April 2020, tidak lagi membayarkan kupon hingga pelunasan saat jatuh tempo.

Terkait hal tersebut, Ketua Asosiasi Perencana Keuangan Internasional Indonesia (International Association of Register Financial Consultant/IARFC) Indonesia Aidil Akbar Madjid menegaskan bahwa kebanyakan investor kerap terjebak karena tidak memahami dengan baik instrumen yang mereka beli.

Padahal, meski tidak tergolong investasi bodong, Aidil menyebut HYPN merupakan instrumen dengan risiko investasi yang sangat tinggi karena tidak ada jaminan dari otoritas, tidak mendapat rating, serta tidak memiliki kewajiban laporan keuangan yang bisa dipantau.

“HYPN kan surat utang biasa, yang bisa dibuatkan oleh perusahaan atau bahkan oleh individu. Jadi risikonya sangat tinggi, kalau orangnya atau perusahaannya nggak bisa bayar atau nggak mau bayar ya sudah default, benar-benar nggak ada jaminan sama sekali,” tuturnya mengutip laman Bisnis, Kamis (26/11).

Menurutnya, banyak investor yang terjebak di instrumen sejenis HYPN karena tergoda dengan janji imbal hasil yang tinggi dan tetap, jauh di atas rata-rata imbal hasil instrumen konvensional. Di sisi lain, investor tidak memahami dengan baik instrumen yang dipilihnya.

Dia mengatakan, sebelum berinvestasi sebaiknya investor harus-benar memahami produk yang dia beli serta risiko yang mengiringinya, sehingga jika di kemudian hari terjadi kerugian atau gagal bayar, hal tersebut dapat diantisipasi.

“Rumus high risk, high return, itu masih berlaku. Investor harus tahu dulu yang dia beli itu apa, returnnya berapa, kalau returnnya nggak masuk akal harusnya sudah waspada,” kata Aidil.

Apalagi, tambahnya, di tengah tren suku bunga rendah seperti saat ini, investor akan cenderung mencari instrumen-instrumen yang menawarkan imbal hasil tinggi. Kondisi ini dikhawatirkan akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

“Akan banyak sekali investasi-investasi model kayak gini. HYPN ini masih investasi yang bener walaupun gagal bayar, tapi nanti akan banyak investasi bodong jadi investor harus banyak hati-hati,” tukasnya.