Inspirasi Dakwah Damai Kia Ageng Gribig

Inspirasi Dakwah Damai Kia Ageng Gribig

Oleh: Taufiq Hadad

MINGGU lalu, 11 September 2021 kami berkunjung ke Klaten, tepatnya di Jatinom, Jawa Tengah, untuk berziarah ke makam Ki Ageng Gribig, salah satu tokoh penyebar agama Islam, yang berdakwah secara santun dan bijaksana.

Ia hidup semasa dengan Sultan Agung, Raja Mataram, yang memerintah dari tahun 1613-1645, seorang pahlawan nasional. Ia menjadi guru sekaligus membantu Sultan dalam urusan pemerintahan. Salah satu peran strategisnya berhasil membujuk Adipati Palembang yang saat itu hendak memberontak terhadap Kerajaan Mataram, yang urung dan akhirnya kembali bergabung.

Cara Ki Ageng Gribig dalam menyebarkan Islam (dakwah) sangat bijaksana. Penduduk sekitar yang saat itu masih memegang teguh keyakinan lama tidak merasa terancam dengan kehadiran Islam yang disampaikannya penuh welas asih. Ki Ageng Gribig memanfaatkan berbagai aset budaya yang berkembang di masyarakat saat itu sebagai medium dakwahnya. Lambat laun penduduk Jatinom pun hampir seluruhnya memeluk Islam.

Salah satu medium dakwah.yang digunakan diantaranya pemberian apem, makanan yang terbuat dari panganan tepung. Kata apem sendiri berasal dari kata "affun" yang berarti memaafkan. Ki Ageng Gribig memasukan dan mengisi khasanah lokal dengan pesan utama Islam, selamat, memberi manfaat dan rahmat kepada sekitar. 

Tradisi pemberian apem itu hingga kini masih terus berlangsung di setiap tanggal 17 Safar yang disebut peringatan "Ya Qowiyyu". Tradisi yang sangat kental dengan simbol Islam yang menyeru persatuan, saling membantu, dan saling memaafkan sesama. Jika bukan karena pandemi, ribuan orang biasanya hadir mengharapkan berkah dari tradisi ulama besar ini.

Inilah salah satu contoh, tradisi penyebaran Islam di Indonesia yang hingga kini semangatnya melekat di hati masyarakat. Penduduknya memeluk Islam namun bangunan candi, tempat peribadatan, tetap berdiri tegak hingga kini menjadi saksi.

Jika kita menengok hari ini, trend keadaan yang terjadi justru sebaliknya. Ada sekelompok orang menyebarkan agama dengan cara sangat kasar, mengkafirkan bahkan menyerang faham yang berbeda. Fokus dakwahnya pada hal remeh temeh, soal-soal fiqh yang meniscayakan keragaman pendapat. Kehadirannya sangat mengancam, namun mereka merasa telah menjadi pembela agama, dengan menyingkirkan hal-hal khurafat dan bid'ah agama. 

Mereka kebanyakan mengambil rujukan dan pendapat dari seseorang yang hidup di abad 19 yang kemudian hari berhasil membangun mazhabnya berkat dukungan penguasa. Sebelumnya dalam sebuah kitab disebutkan sang pendiri mazhab ini bahkan berani mengkafirkan pandangan sang ayah serta kakaknya hanya karena perbedaan pendapat yang tajam.

Belakangan dengan dukungan Barat penguasa itu menjadi raja, sebuah imperium di wilayah Timur Tengah yang kaya dengan minyak bumi. Kerajaan yang kemudian hari menyediakan karpet merah kepada imprealisme Barat untuk mengeruk kekayaan "emas hitam" dan mengancam keamanaan wilayah sekitar, menjadi sumber instabilitas regional.

Kerajaan itu juga menyediakan pangkalan armada perang imprealias, menjadikan mereka bak pelindung sang raja dari ancaman. Tentu saja dengan ongkos yang sangat mahal, sebagian pembayarannya didapat dari para penziarah yang datang untuk beribadah di dua kota suci Islam.

Ciri utama kelompok ini literalis dan tekstual, penafsiran absolut, yang mengabaikan keniscayaan hermenetik. Seringkali pula mereka mengkafirkan kelompok yang berbeda dengan keyakinannya. Bahkan tidak segan mereka bertindak anarkis, melawan aturan dan hukum yang berlaku. Tentu ada banyak level dan spektrum. 

Meski pemikiran mazhab ini literalis dan tekstual, melawan semangat zaman, yang mengapresiasi rasionalitas, dan penghayatan mendalam (spiritualitas) namun pengikutnya mulai banyak menjamur di sini. 
  
Dibawa ustad-ustad muda dengan wajah yang serius dan tegang, ternyata aliran ini mampu menarik orang yang dahaga dengan agama melalui berbagai kanal sosmed dll. Banyak selebritis yang bergabung, yang sudah kenyang dengan kehidupan yang hedonis, tetapi merasa hidupnya hampa.

Paham ini tak punya basis dan tradisi yang kuat di negeri ini. Bahkan di seluruh dunia Islam pun paham ini tak menarik banyak minat, kecuali mereka yang merelakan pikirannya terbelenggu doktrin dan penafsiran yang relatif. Gerakan terorisme atas nama agama banyak merujuk pada pemahaman mazhab ini.

Kita akan selalu ingat dengan pesan kitab suci, saat ada banyak tawaran pendapat, teliti dan pilihlah yang terbaik. 

"(yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat" (QS 39:18).

*Taufiq Hadad, pemerhati masalah-masalah sosial dan agama.