Indonesia Calling, Fakta Sejarah Yang Senyap

Indonesia Calling, Fakta Sejarah Yang Senyap
Indonesia Calling

PENA sejarah tak bisa menulis fakta historis dengan sendirinya. Dia memerlukan sang penutur. Sebuah film dokumenter, dapat diposisikan sebagai sang penutur.

Itulah posisi yang diduduki sebuah film dokumenter berjudul “Indonesia Calling”. Film hitam-putih berdurasi sekitar 22 menit ini diproduksi tahun 1945-1946 oleh Waterside Workers' Federation, dan disutradarai oleh Joris Ivens.

Sebuah film yang menuturkan tentang perjuangan para pekerja Indonesia yang ada di Australia, dalam mencegah kapal Belanda yang membawa pasukan militer dan persenjataan ke Indonesia, untuk merebut kembali koloninya. Para pekerja tersebut bekerja untuk perusahaan pelayaran di Australia.

Melalui “Indonesia Calling” Joris Ivens menghadirkan fakta sejarah perjuangan kemerdekaan pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang  ternyata bersifat transnasional.

Disebut bersifat transnasional, karena sejumlah serikat buruh pelabuhan berkebangsaan Australia, Cina dan India ikut serta mendukung gerakan boikot yang diserukan oleh para pekerja Indonesia di Australia saat itu. Sehingga berhasil membatalkan rencana agresi militer Belanda ke wilayah Indonesia yang membawa ribuan milisi berikut amunisi.

Baca Juga

Fakta sejarah lain yang diungkap “Indonesia Calling” adalah bahwa angkatan bersenjata kita mendapat dukungan yang sangat signifikan dari para pekerja itu, dalam melawan agresi Belanda. Namun, fakta sejarah perjuangan kemerdekaan transnasional ini begitu senyap, sehingga kurang kuat untuk menggerakkan pena sejarah.

PM TANGKILISAN

Salah satu pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan transnasional ini adalah PM Tangkilisan.

Nama lengkapnya Petrus Muntu Untu Tangkilisan, dan biasa disapa Pet, kelahiran 19 Mei 1919 di Singkil (Manado Utara), dan meninggal dunia di Tebet (Jakarta Selatan) pada tanggal 07 November 1984. 

Pet sangat menyukai kehidupan Bahari. Passion inilah yang mendorong Pet bekerja di perusahaan pelayaran. Bahkan, Pet juga memperkaya pengetahuannya dengan menuntut ilmu di Sekolah Mualim Pelayaran Terbatas dan Mualim Pelayaran Indonesia, dari Januari 1939 sampai Januari 1941.

Usai menempuh pendidikan, Pet berlayar ke berbagai negara, hingga ke Sydney, dan menetap di sana sejak 1942. Pet bekerja di NV KPM Sydney sampai Agustus 1945.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, baru diterima di Sydney dua hari kemudian, 19 Agustus 1945. Sejak saat itu, Pet bersama saudara sebangsa yang bekerja di KPM mendirikan Komite Indonesia Merdeka (KIM).

Tokoh-tokoh pendiri KIM selain Pet adalah Chris Tampenawas, Jan Walandouw, Piet Pongay, Jimmy Imawan, dan sebagainya. Saat itu disepakati, Jimmy Imawan menduduki kursi Ketua KIM. Sedangkan Pet menjabat sebagai Ketua Bidang Penerangan dan Propaganda.

Dalam kapasitasnya itulah, Pet sejak 20 Agustus 1945 hingga Oktober 1945, memimpin aksi pemogokan dan boikot terhadap kapal-kapal Belanda yang berada di Sydney. Menggagalkan rencana Belanda mengirim pasukan dan senjata ke Republik Indonesia yang masih sangat belia.

Sebagaimana dituturkan salah satu putra Pet, Perry Tangkilisan, kepada senayanpost, sejak akhir Agustus 1945, Pet secara intens berinteraksi dengan Joris Ivens dan kawan-kawan.

Interaksi ini berlangsung secara rahasia, mengingat status Ivens yang masih terikat kontrak dengan Pemerintah Kerajaan Belanda. Oleh Belanda, Ivens ditugaskan membuat sejumlah film yang menuturkan jasa Belanda dalam membebaskan Indonesia dari penjajahan Jepang. Namun, Ivens justru membuat film yang bertentangan dengan keinginan Belanda.

Para pekerja tidak hanya memberikan dukungan tehnis pada proses pembuatan “Indonesia Calling”, tapi juga memberikan dukungan dana. Dalam tempo dua pekan, proses pembuatan film dokumenter ini selesai di akhir September 1945.

“Editing dari film itu pun dirahasiakan, dan baru diedarkan secara terbatas pada tahun 1946,” ungkap Perry Tangkilisan.

Bulan berikutnya, Oktober 1945, Pet bersama sekitar 1500 orang mantan pekerja KPM dan masyarakat Indonesia lainnya, kembali ke Indonesia dengan menumpang kapal Inggris Ms. Esperance Bay. Berlabuh di perairan Yogyakarta.

Setiba di Yogyakarta, Pet langsung bergabung dengan Laskar KRIS untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Berkat jasa-jasanya, PM Tangkilisan dianugerahi 11 tanda jasa sebagai Pahlawan dan Pejuang Kemerdekaan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Juga, menyandang pangkat Mayor TNI sebagai anggota Brigade XII kemudian Brigade XVI Krux.