IHSG Belum Berhenti Terbang, Ditutup Melesat 1,5%

IHSG Belum Berhenti Terbang, Ditutup Melesat 1,5%

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terbang 1,42% di level 5.759,91 pada perdagangan Kamis(26/11/20).

Melansir CNBC Indonesia, data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi beli bersih sebanyak Rp 510 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 13,4 triliun. Terpantau 310 saham naik, 153 saham terkoreksi, sisanya 171 saham stagnan.

Saham yang paling banyak dilego asing hari ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan jual bersih sebesar Rp 45 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 38 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing hari ini adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan beli bersih sebesar Rp 634 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net buy sebesar Rp 142 miliar.

Beralih ke Wall Street, bursa saham New York juga cenderung merah. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 0,64% ke29.853,55, S&P 500 terkoreksi 0,08% menjadi 3.632,37,tetapi Nasdaq Composite mampu menguat 0,57% ke12.105,72.

Investor kecewa setelah melihat data ketenagakerjaan terkini. Pada pekan yang berakhir 21 November, jumlah klaim tunjangan pengangguran AS naik 30.000 menjadi 778.000, di atas konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan 730.000. Klaim tunjangan pengangguran naik dalam dua pekan beruntun.

Pelaku pasar cemas bahwa kemungkinan pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam tidak secepat yang diperkirakan. Ternyata dampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) tidak bisa hilang begitu saja, 'luka' yang begitu dalam masih sangat terasa.

"Data ini menyadarkan kita bahwa pemulihan ekonomi tidak merata. Masyarakat kelas menengah-atas bisa berbelanja seperti tidak terjadi apa-apa. Namun mereka yang di bawah harus mengantre untuk mendapatkan makanan gratis dan kesempatan kerja yang sepertinya jauh dari pandangan," tegas Chris Rupkey, Chief Economist MUFG yang berbasis di New York, seperti dikutip dari Reuters.

Sebelumnya, ada rilis data yang juga menggambarkan kelesuan ekonomi Negeri Adidaya. Pada Oktober, konsumsi rumah tangga (yang menyumbang lebih dari dua pertiga dalam pembentukan Produk Domestik Bruto/PDB di AS) tumbuh 0,5% dibandingkan bulan sebelumnya (month-on-month/MtM). Melambat dibandingkan pertumbuhan September yang sebesar 1,2% MtM.

"Ekonomi kuartal IV-2020 mungkin masih akan tumbuh, bahkan cukup tinggi. Namun dengan lonjakan angka kasus positif corona, maka lajunya akan melandai. Mungkin kita akan melihatnya pada November dan Desember," kata Daniel Silver, Economist JPMorgan yang berkedudukan di New York, sebagaimana diwartakan Reuters.

Dalam pembacaan kedua, ekonomi Negeri Adikuasa tercatat tumbuh 33,1% secara kuartalan yang disetahunkan (annualized). Tidak berubah dibandingkan pembacaan awal.

Namun yang menarik adalah bagaimana prospek pada kuartal IV-2020. Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) cabang Atlanta dalam laman GDPNow memperkirakan PDB akan tumbuh 11% annualized berdasarkan proyeksi 25 November. Melonjak dibandingkan perkiraan sebelumnya yaitu 5,6%.