Hikmah Corona: Mempercayai Negeri Sendiri

Hikmah Corona: Mempercayai Negeri Sendiri

AWALNYA sih Indonesia sangat percaya diri. Setelah jumlah korban Corona di dunia terus bertambah dan negara yang terpapar semakin banyak, Indonesia tetap tenang. Keraguan WHO organisasi kesehatan dunia dan pemerintah Australia pun ditepis. Menkes Terawan bak pendekar silat bertahan dengan sigapnya: Indonesia masih bebas dari jamahan corona.

Antara percaya dan tidak sebenarnya sebagian masyarakat sendiri pun merahukan klaim Indonesia bebas corona. Betapa tidak negeri ini sangat terbuka. Penerbangan dari luar negeri masuk ke berbagai bandara di berbagai daerah. Wisatawan dari berbagai belahan dunia mengunjungi hampir semua kawasan Nusantara. Mobilitas WNI keluar masuk negara-negara tetangga maupun yang jauh sampai Eropa, Timur Tengah sampai Eropa tak terbendung. Berbagai hajat dan hasrat hidup menjadi alasan, mulai dari sekadar berwisata, belanja, bisnis, menunaikan ibadah, sampai berobat.

Percaya nihil corona karena hasil deteksi dan observasi memang tidak ditemukan warga atau orang asing yang positif corona di sini. Ragu, jangan-jangan karena alat deteksi yang ada tidak memadai. Akhirnya ya sudahlah, percaya saja kepada pemerintah cq Menteri Kesehatan.

Senin 2 Maret lalu barulah muncul kepanikan, setelah Presiden Jokowi langsung mengumumkan sendiri ada dua warga negara kita yang positif terpapar virus mematikan asal Wuhan itu. Semua elemen masyarakat pun mulai peduli corona. Khalayak berebut memborong masker, bahan kebutuhan pokok, mulai menghindari tempat-tempat ramai. Hampir semua kawasan wisata, mall, hotel, tempat hiburan berangsur sepi. Penerbangan dan transportasi banyak yang terhenti.

Duh, pengusaha dan pemerintah ikut terpukul. Penjualan barang-barang ritel anjlok, IHSG dan nilai tukar rupiah merosot, harga barang-barang komoditas yang diekspor pun sempoyongan. Tenaga kerja terdampak banyak yang dirumahkan. Pertumbuhan ekonomi negara yang digadang-hadang bisa 5 persen pun terhalang. Yang juga mencemaskan ribuan jamaah umroh tak boleh masuk Tanah Suci. Sedih, tapi apa daya.

Di era global memang mustahil kita bisa bertahan, meski katanya empon-empon, jamu, obatvtradisional, dan kondisi geografis di negeri ini membuat warganya digdaya. jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta jiwa, wilayah yang terhampar luas, masyarakat yang sangat majemuk, dan iklim perdagangan bebas menjadikan negara kita itu rentan berbagai, termasuk corona.

Sudahlah mari kita mulai realistis menghadapi corona. jangan dianggap hantu tapi juga jangan dientengkan. Terus saja kita lakukan pencegahan dengan berbagai cara dan upaya. Percaya diri boleh saja tapi jangan berlebihan apalagi sampai arogan.

Kita setuju dengan imbauan WHO agar yang kita jaga bukan hanya sekitar Jakarta, tapi seluruh jengkal wilayah negara. Satu-dua orang positif terkena corona jika tak segera terdeteksi dan diisolasi akan cepat menyebar menulari jutaan warga lainnya. ingat dulu waktu mulai HIV AIDS pemerintah awalnya mengonsentasrikan pencegahan dan pengawasan di kota-kota besar, ternyata angka penderitanya justru menggelembung di daerah termasuk di Papua. Demikian juga dengan peredaran narkoba, Jawa dan non jawa tak ada bedanya.

Di tengah kegalauan dan kecemasan tetap dapat kita ambil hikmahnya. Bersama kita bisa lebih mencintai negeri sendiri. Kalau sekadar berbelanja dan berobat tak perlu harus menyeberang ke Singapura sampai Amerika. Destinasi wisata dalam negeri tak kalah indah dan menarik dari yang jauh-jauh di luar negeri. Barang-barang produk di negeri mencukupi kebutuhan bangsa sendiri. Dokter-dokter dengan berbagai spesialisasi dan rumah sakit canggih cukup tersedia di sini. Jadi pasca bencana corona kita tak perlu jauh-jauh berobat ke manca negara. Kita percaya kepada kemampuan bamgsa sendiri.

Salam sehat dan cinta negeri.