Catatan dari Senayan

Hasil Survei Jelang Pilpres

Hasil Survei Jelang Pilpres
Ilustrasi

MESKI gelaran Pemilu legislatif dan Pilpres masih akan berlangsung dua setengah tahun lagi, masyarakat mulai merasakan denyut kehidupan politik. Wajah-wajah kader parpol di baliho-baliho sudah bermunculan.  Berbagai lembaga survei telah mengeluarkan hasil penelitiannya tentang elektabilitas partai politik dan calon presiden menjelang Pemilu/Pilpres 2024. 

Hasilnya tidak semua sama. Bermacam metodologi dan sampel yang dijadikan dasar. Tapi kecenderungan tak jauh berbeda. Partai mana yang elektabilitasnya tertinggi, di tengah atau paling bawah. Juga elektabilitas para calon presiden sudah terpetakan. Partai-partai politik masih malu-malu belum ada yang mengusung secara resmi calon presidennya. Juga belum jelas koalisi parpol untuk pilpres nanti. Batasan presidential threshold (PT) menjadi alasan parpol untuk berkoalisi. 

Kita tak perlu paranoid membaca hasil survei. Hasil lembaga-lembaga survei sangat membantu parpol untuk ancang-ancang mencalonkan kadernya maupun menata diri. Parpol yang elektabilitasnya rendah mulai berusaha menaikkannya dengan berbagai strategi. Kader yang digadang-dagang mau diajukan mulai dipoles "wajah performancenya." Kalau perlu, diam-diam mengganti jago yang lebih baik. Mumpung masih cukup waktu.

Kenyataannya pilpres lebih menjadi perhatian masyarakat dibanding pemilu legislatif. Parpol-parpol menyadari itu. Maka ketika kader yang dijagokan kurang cemerlang di berbagai survei mereka segera menyiapkan dalih yang bisa diterima. Antara lain pilpres masih jauh, mesin partai belum digerakkan, masyarakat masih berkonsentrasi menghadapi pandemi covid-19, koalisi partai belum resmi terbentuk, dan sebagainya.

Memang koalisi partai menjadi penting, karena akan memperjelas siapa capres dan siapa cawapresnya. Karena tenggat pesta demokrasi masih relatif lama, perkembangan masih sangat dinamis. Elektabiltas masing-masing partai masih fluktuatif. Tapi setidaknya hasil survei menjadi "warning" untuk semua parpol untuk bekerja lebih keras dan bagi parpol tertentu agar tahu diri seberapa besar kekuatannya, agar tidak seperti pepatah "pungguk merindukan bulan", berharap sesuatu yang tidak mungkin.

Bagi masyarakat  hasil survei juga penting. Ada peta kekuatan yang membantu masyarakat lebih rasional dalam ancang-ancang untuk memilih nanti. Lebih-lebih lagi nanti kalau menyimak hasil survei ketika para capres dan cawapresnya sudah mengerucut, koalisi partai-partainya juga sudah pasti. Jelas pasangan mana berhadapan dengan pasangan lainnya.

Meskipun demikian, terpenting sebesar apa pun tekad semua parpol untuk memenangi capres/cawapresnya mesti tetap menyadari ada tugas kolektif bersama seluruh rakyat untuk menghadapi pandemi covid-19. Akan lebih indah dan berarti jika saat Pemilu dan pilpres berlangsung, di Republik ini sudah nihil dari pandemi covid.