Mengenang Ulama Hadis Kondang yang "Produk Dalam Negeri"

Hasbi Ash-Shiddieqy

Hasbi Ash-Shiddieqy
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

"ITU KAYAKNYA Prof. Dr (HC). Hasbi Ash-Shiddieqy datang."

Demikian gumam bibir saya, pada suatu hari di bulan Maret 1973. Suasana hari itu cerah sekali.  Waktu saat itu menunjuk sekitar pukul setengah sepuluh pagi. Usai mengikuti kuliah pagi di tingkat baccalaureate, di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, saya pun duduk di tangga menuju ke lantai dua ruang kuliah. Tidak lama selepas itu, saya melihat seorang lelaki sepuh itu, dengan usia sekitar 70 tahun, turun dari sebuah mobil kuno. 

Kemudian, setelah keluar dari mobil, lelaki sepuh itu berjalan pelan. Berjalan pelan dengan ditopang sebuah tongkat di tangan kanannya. Sedangkan  tangan kiri lelaki sepuh itu membawa tas butut yang tampak berat. Mungkin, tas itu berisi sederet kitab dan buku.

Melihat lelaki sepuh itu berjalan pelan, dengan membawa tas berat, segera saya turun dari tangga dan lari  untuk menjemput lelaki sepuh itu. Begitu dekat dengan lelaki sepuh itu, dan seusai mengucapkan salam, lantas ucap saya, “Prof. Biar saya bawakan tas ini.” 

Begitu tas itu berada di tangan kanan saya, dan kemudian beralih ke tangan kiri saya, saya kemudian “menyambar” tangan kanan lelaki sepuh itu dan menciuminya. Berkali-kali. Betapa kaget lelaki sepuh itu dengan kelakuan saya. Lantas, lelaki sepuh yang tidak suka diciumi tangannya itu pun berucap pelan seraya memandangi saya, 

“Siapa engkau ini? Mengapa engkau ciumi tanganku. Apa engkau tidak tahu, aku tidak suka seseorang menciumi tanganku?”

“Saya mahasiswa di sini, Prof. Ya, saya tahu. Namun, saya sejak kecil dididik oleh ayah saya, seorang kiai, untuk mencium tangan kanan guru-guru saya. Setiap kali bertemu mereka. Sebagai penghormatan dan rasa terima kasih kepada mereka atas ilmu yang mereka ajarkan. Saya sendiri sudah banyak membaca dan menelaah karya-karya tulis Profesor. Karena itu, meski saya belum pernah mengikuti kuliah Profesor, saya memandang Profesor sebagai guru saya. Karena itulah saya tadi menciumi tangan kanan Profesor. Mohon maaf bila saya salah.”

“Ya sudah. Namun, lain kali jangan engkau lakukan lagi, ya.”

Saya diam saja. Sebab, saya tetap ingin menciumi lagi tangan kanan lelaki sepuh itu. 

Tidak lama selepas itu, lelaki sepuh itu orang itu kemudian menuju ke sebuah rungan di lantai dua. Kemudian, ketika lelaki sepuh itu memberikan kuliah Ilmu Hadis, kepada para mahasiswa tingkat doktoral, saya pun ikut mendengarkan kuliah yang diberikan oleh lelaki sepuh itu, meski sejatinya saya belum pantas mengikuti kuliah di tingkat doktoral. Dan, ketika mendengar kuliah menarik yang diberikan oleh lelaki sepuh itu, saya pun bergumam pelan, “Aku harus banyak membaca dan tekun belajar. Biar suatu ketika aku memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Seperti profesor sepuh itu.”

Siapakah profesor yang tangan kanannya saya ciumi itu? 

Itulah Hasbi Ash-Shiddieqy, salah seorang ulama kondang Indonesia. Bernama lengkap Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, putra asli  Aceh  ini lahir di Lhokseumawe, Aceh Utara. Ia lahir pada  Kamis,  22 Dzulhijjah 1321 H/10 Maret 1904 M.

Selaras dengan tradisi yang berkembang kala itu, putra sulung  pasangan suami-istri  Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husain bin Muhammad Suud dan Teungku Amrah binti Teungku Chik Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz ini mendapatkan pendidikan pertamanya dari ayahnya sendiri.  

Selepas  itu,  Hasbi muda menimba ilmu  kepada  beberapa  ulama setempat. Antara lain Teungku Haji Idris. Selain selama bertahun-tahun juga belajar di berbagai pesantren di Aceh  dan memerdalam bahasa  Arab, ia juga belajar kepada Syaikh Muhammad bin  Salim  Al-Kalali,  pendiri Islam Menjadi Satu di Aceh.

Melihat kemampuan ilmiah Hasbi muda, sang guru yang sangat  berjasa dalam  pembentukan  pemikiran Hasbi lebih lanjut  ini menyarankan kepadanya untuk menimba ilmu di Perguruan Al-Irsyad Surabaya.

Mengikuti saran Al-Kalali, Hasbi muda kemudian meninggalkan Aceh. Kali ini, untuk menuntut ilmu di Perguruan Al-Irsyad, Surabaya. Di ibukota Provinsi Jawa Timur itu,  selain bertemu dengan gurunya yang  seorang  pemikir  asal Sudan,  Syeikh  Ahmad  Surkati, ia mengikuti program  takhashshush:  program spesialisasi  dalam bidang pendidikan dan bahasa. 

Selepas menimba ilmu selama sekitar dua tahun di Surabaya,  Hasbi muda kembali ke Aceh. Kalin ini, di sana, ia  melibatkan diri  dalam  dunia  pendidikan. Lantas, pada 1347 H/1928  M  ia  memimpin Perguruan Al-Irsyad di Lhokseumawe. Tahun berikutnya, ia merangkap sebagai pimpinan Madrasah Al-Huda di Krueng Mane. 

Perjalanan   hidup   Hasbi   berikutnya   tetap   sarat    dengan pengabdiannya di dunia pendidikan. Pada 1352 H/1933 M,  misalnya, ia  mengajar  di  Hollandsch Inlandsche  School  (HIS)  dan  Meer Uitgebreid  Lager  Onderweijs (MULO)  Muhammadiyah  di  Kutaraja.

Tahun  berikutnya,  ia  mendirikan  dan  memimpin  Sekolah   Darul Muallimin  Muhammadiyah  di kota yang sama. Selain itu,  ia  juga menjadi  pengajar  di  Jong  Islamieten  Bond  Cabang  Kutaraja. Lantas,  pada  1360  H/1941 M, ia  mendapat  kepercayaan  sebagai pengajar  di  Ma‘had  Iskandar  Muda  di  Lampaku,  Aceh   Besar. Kemudian,  tujuh  tahun berikutnya, ia  menjabat sebagai Direktur Sekolah Menengah Islam di Lhokseumawe. 

Selepas Indonesia meraih kemerdekaan, ulama yang pakar di bidang ilmu hadis dan juga seorang penulis produktif ini lebih  banyak meniti kehidupannya di Yogyakarta: sebagai guru besar di Institut Agama  Islam  Negeri  Sunan  Kalijaga  dan  Universitas   Islam Indonesia.  

Di  antara karya-karya tulisnya adalah  2002  Mutiara Hadis, Al-Islam, Pedoman Shalat, Pedoman Puasa, Pengantar  Ilmu Fikih, Pengantar Ilmu Hadis, Sejarah dan Pengantar Ilmu  Tafsir, Pokok-Pokok Dirayah Hadis, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, dan Tafsir An-Nur.

Karena jasanya dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman  di Indonesia,  pada 22 Maret 1975 Hasbi Ash-Shiddieqy dianugerahi gelar doctor honoris causa dari Universitas Islam Bandung (UNISBA). Dan, guru besar di bidang  Ilmu  Hadis  ini menghadap kepada  Yang  Maha  Kuasa  di Jakarta  pada  Selasa, 6 Dzulhijjah 1395 H/9  Desember  1975  M, ketika   berada   di  karantina  menunggu keberangkatan untuk menunaikan ibadah haji ke Makkah, dalam usia 71 tahun.

Perjalanan hidup ulama yang berwawasan luas ini memberikan pelajaran indah: untuk menjadi seorang ulama atau ilmuwan terkemuka tidak harus merupakan produk luar negeri. Hasbi Ash-Shiddieqy adalah salah satu buktinya.

Meski ia tidak pernah merantau dan menimba ilmu di luar Indonesia, namun keluasan ilmu dan wawasannya di bidang-bidang yang ia tekuni diakui oleh para ulama dan ilmuwan!