Gus Baha (3)

Guyonan Bagi Santri Adalah Kemewahan

Guyonan Bagi Santri Adalah Kemewahan
Fauzi Rahman

Oleh: Fauzi Rahman

DALAM selingan ngaji kitab kuning Gus Baha seringkali menyelipkan cerita tentang Bapak beliau , KH. Nursalim (depan pintu rumah almarhum masih tertulis H.Noer Salim sampai sekarang, tidak tersambung) dan guru tercintanya KH. Maimoen Zubair atau yang biasa dipanggil mbah Moen.

Gus Baha paling sering menyebut dua nama itu setiap ngaji kitab, termasuk bagaimana kedua kyai itu menyikapi santri-santri dalam kesehariannya.

KITA ketahui bersama  rata-rata santri di pesantren  -- khususnya di pesantren NU -- mayoritas dari kalangan  lemah atau kalangan bawah secara ekonomi, apalagi dipesantren biasanya dilatih dengan kesederhanaan hidup, tirakat, pun juga dipesantren boleh dikata tidak ada hiburan, plus aturan yang sangat ketat agar santri fokus pada tholabul ilmi, menuntut ilmu, baik aturan di madrasah atau dipesantren sendiri, satu-satunya hiburan yang legal hanya hari jum'at karena bisa libur dari rutinitas belajar dan mengaji, jum'at benar-benar “sayyidul ayyam” bagi para santri karena terbebas dari beban.

Untuk itu kebosanan dan kejenuhan pasti dialami semua santri, dan satu-satunya hiburan adalah guyonan atau bercanda atau saling "ngerjain" dengan teman-temannya, terutama sekali dengan teman sekamarnya atau teman sebloknya.

Menurut Gus Baha tak jarang bapak beliau KH. Nursalim atau juga mbah Moen  memberi tahu Gus Baha.

" Ha’...........Bapak kalau ada santri yang sedang asyik bercanda dengan teman-temannya mau nyuruh apapun, atau mau sekedar lewat sekalipun tidak berani dan tidak aku lakukan, aku takut mengganggu karena dia sedang bercanda, karena guyonan itu merupakan hiburan termewah bagi santri, apalagi santri itu selain kehidupannya terbatas juga tidak boleh kemana-mana, kasihan mereka.

Beliau takut sekali mengganggu santri yang sedang  senang dan bahagia bisa tertawa bersama teman-temannya, itulah satu-satunya kemewahan bagi santri, sebab alternatif kebahagiaan yang lain sulit didapat.

PENULIS sendiri ketika mengikuti kajian-kajian Gus Baha lalu terbayang masa lalu yang juga pernah nyantri  meskipun hanya 6 tahun, selain beban pelajaran dan kegiatan yang berat, tak kalah beratnya ketika kiriman dari orang tua telat dan bahkan harus berhutang sama teman-teman yg sudah dapat kiriman lebih awal, saling hutang sepertinya "fardu 'ain" bagi santri, kalau belum pernah hutang sepertinya blm "sah" menjadi santri.

Kejenuhan hal yang tidak terhindarkan di pesantren karena untuk keluar dari pesantren tidak bisa kecuali ada ijin dari pengurus dengan alasan yang riil, meskipun tak sedikit santri membuat alasan yang mengada-ada.

Saking jenuhnya tidak jarang   berfikir untuk melanggar aturan pesantren, terutama sekali jaman dulu yang saya alami (sekaligus saya praktekkan) melanggar untuk nonton film di bioskop, apalagi kalau sudah filmnya Bang Haji Rhoma Irama, pasti gempar, padahal semua santri tahu bahwa kalau ketahuan pengurus keamanan pesantren resikonya digundul, tapi bagi yang memang punya pikiran bandel digundul malah dibuat mainan juga kebanggaan, bahkan besok atau lusanya nonton lagi, toh hukuman gundul sudah tidak ngefek (memberi efek jera) lagi karena kepalanya gak mungkin digundul berkali-kali karena sudah plontos, pengurus keamanannya malah yang pusing sendiri.

Modus keluar pesantren yang paling trend jaman itu adalah sudah pakai celana dari kamar tapi celana digulung sampai bawah lutut lalu sarungan rapi, setelah itu lompat pagar yang sepi dan sarungnya ditaruh dipagar, nanti habis pulang nonton diambil dan dipakai lagi, ilmu melanggar ini diajari senior secara turun temurun.

GUYONAN atau bercanda itu menjadi kekayaan tradisi pesantren tradisional, bahkan Gus Baha pernah dibilangi bapaknya:

Ha'............ nek mulang guyon wae, wong sing ngaji okeh problem, okeh utang, neng omahe wis ruwet, ojo diwedeni karo neroko ——kalau ngaji diselingi bercanda saja, mereka  sudah banyak persoalan, banyak hutang, pokoknya hidupnya sudah banyak masalah, jangan ditambah lagi dengan ditakut-takuti neraka. Makanya Gus Baha kalau ngaji pasti banyak candanya tapi tidak mengabaikan konten kajiannya yang begitu argumentatif dan rasional.

Ngaji gus Baha dapat ilmu yang mendalam juga dapat kegembiraan.

* Penulis adalah Fauzi Rahman, alumni PP Raudlatul Muta’allimin Situbondo, PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo dsn Fak syarian UIN SUKA Yogyakarta.