Gelar Doktor

Gelar Doktor

Oleh: Syaefudin Simon*

TAK sedikit orang kepincut gelar doktor. Lalu kuliah lagi, S3. Pikirnya, kalau sudah doktor, civil effect-nya lebih besar di mata publik. Karir di tempat kerjanya pun makin moncer.

Betulkah itu? Zaman dulu, mungkin ya. Now, lihat dulu, siapa yang doktor. Kenapa dan untuk apa!

Kalau yang doktor dosen atau peneliti, it's okay. Ijazah doktor akan menaikkan karir plus gajinya. Tapi, tentu doktornya dari PT yang bersertifikat dan diakui.

Meski demikian, sang doktor belum tentu ilmu dan kreativitasnya makin jos. Sebab sangat mungkin setelah doktor, ia "kelelahan" mengulik ilmu. Ia lebih suka menikmati ijazah kedoktorannya. Yang model ini banyak terjadi di lembaga pemerintah non-akademis dan riset. 

Tapi di dunia entrepreneur, bisnis, politik, dan dakwah banyak juga orang tertarik gelar doktor. Di kalangan ini, biasanya tak peduli, doktor dari mana. Yang penting ada gelarnya. Ada yang kuliahnya di PT belum tersertifikasi, PT abal-abal, bahkan cukup beli ijazah doktor dari PT 'hantu' di luar negeri. Di AS banyak sekali PT abal-abal yang jual gelar doktor. 

Lucunya, terkadang --demi pemasukan uang-- PTN tertentu buka program doktor yang mirip abal-abal. Biasanya, program "paket pasti doktor" untuk pejabat dan elit politik. Mahal sekali. Kuliahnya Sabtu dan Minggu (Minggu konon dilarang, tapi faktanya banyak dilanggar). 

Di program paket ini, tak sedikit yang kuliah adalah asistennya. Bikin makalah, bikin disertasi ya asisten atau bawahan sang pejabat. Nanti pembimbing disertasinya dikasih proyek studi atau apalah di lembaga yang dipimpinnya. Yang penting proyek itu ada uangnya. Tempat dan waktu konsultasi disertasi juga sesuai keinginan sang pejabat, bukan profesor pembimbingnya. Aku pernah lihat sendiri kasus semacam itu. 

Lantas, apakah sang doktor ini makin baik kualitas keilmuannya dan berkontribusi untuk lembaga yang dipimpinnya?  Aku ambil dua contoh saja. Idrus Marham, Sekjen Golkar, waktu ujian disertasi di UGM, yang hadir luar biasa. Banyak pejabat dan elite politik hadir di ujian doktor Idrus. Termasuk Wapres Jusuf Kalla. Bayangkan betapa bangganya UGM punya alumnus seperti Idrus. 

Bagaimana kiprah Dr. Idrus Marham setelah dapat doktor dari UGM? Pret! Ditangkap KPK!

Hal yang sama terjadi di UNPAD, waktu Akil Muchtar, Ketua Mahkamah Konstitusi ambil doktor. Disertasi Akil tentang Pencegahan Korupsi di lembaga negara. Apa manfaat doktornya untuk MK? Pret!

Akil menjual keputusan MK dalam sidang perselisihan Pilkada. Ia pun dipenjara seumur hidup. 

Contoh macam itu masih banyak lagi. Anda bisa Googling. 

Tapi opo yo, orang bergelar doktor pasti lebih pandai dari yang hanya lulusan S-1? Aku ini S-1 Kimia MIPA UGM. Jujur aku pernah jadi ghost writer untuk tiga orang guru besar di universitas negeri favorit. Tugasku bukan hanya menulis di media massa, juga membuat makalah seminar dan buku. Betul, klienku juga bisa bikin makalah dan buku. Tapi pasti lama, kalimatnya muter-muter enggak karuan. Logikanya pun, menurutku, kurang bagus. Lalu siapa yang lebih pinter!  Aku atau para gubes itu? Nyombong nih!

Betul, ada juga prof. doktor yang benar-benar hebat dan bikin aku silau. Sebut saja Azyumardi Azra, Mubyarto, Umar Kayam, Habibie, Nurcholish Madjid, Arief Budiman, dan lain-lain. Tapi jumlah mereka tak banyak. 

Aku tak pernah "terpesona" dgn gelar doktor dan profesor. Meski dari universitas ternama di LN sekali pun. Lalu siapa yang aku kagumi?

Fachry Ali. Aku sangat mengagumi wawasan Fachry, meski ia bukan doktor. Juga Dawam Rahardjo yang ijazahnya hanya S-1 Ekonomi UGM dan Habib Chirzin, S-1 Filsafat UGM. 

Untuk ketiga orang ini, aku sangat respek dan silau melebihi kekagumanku pada para doktor dan gubes tertentu. 

Aku pernah tanya ke Habib Chirzin, kenapa tak ambil doktor?  

"Sebetulnya aku menyesal dapat gelar Drs. Aku lebih suka gelar BA atau BSc karena lebih gagah," kata Habib waktu aku mampir ke rumahnya di Borobudur, Magelang. Habib memberi contoh, Subchan ZE, politisi NU zaman dulu yang bergelar BA. Ilmu dan diplomasi Pak  Subchan itu luar biasa, kata Habib mengenang. Ia gagah dengan gelar BA-nya. 

Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, pernah ditanya kenapa gak ambil doktor, padahal sudah dapat tawaran dari sebuah universitas terkenal di Prancis? Jawabnya, buang-buang waktu. 

Aku pun pernah sekelebat muncul keinginan ambil doktor di UI atau UIN. Tapi begitu aku pikir ulang, ngapain? Ketika aku ambil S-2 ilmu ekonomi di Universitas Trisakti, Jakarta, aku waktu itu hanya ingin tahu lebih dalam tentang masalah ekonomi, terutama untuk menambah wawasan kalau menulis di media cetak. Lagi pula saat itu ada bus patas yang berangkat pagi dari depan rumahku (beberapa meter dari rumahku di Bekasi) langsung turun di depan Tri Sakti. Begitu juga pulangnya. Jadi aku langsung tidur di bus, bangun-bangun sudah sampai tujuan. 

Ternyata, hasilnya tak begitu signifikan. Membaca buku-buku ekonomi di Perpusnas, membaca koran, dan majalah, rasanya lebih menambah ilmu ekonomi ketimbang kuliah di Trisakti.

Terus, apa benar jika dapat gelar master dan doktor akan dapat kerjaan lebih baik? Aku pikir tidak juga. Tergantung orangnya. Tak sedikit temanku yang master dan doktor di Jakarta jadi pengangguran. Kerjanya serabutan. Sebaliknya yang hanya tamatan SMA tapi sukses dalam kehidupannya,  jadi konsultan bisnis di mana-mana. 

Pada akhirnya, aku harus mengakui kepandaian dan keluasan ilmu seseorang itu adalah bawaan,   asahan, gemblengan, kemauan, dan inner curiousity orang perorang dalam mengembangkan diri. Bukan dari sekolahan semata. 

Jadi, mau belajar dari kuliah tok....atau belajar dari kehidupan, kemudian hasilnya jadi mata ajar di sekolah? Rasanya aku pilih yang kedua saja. 

Aku tak jadi ambil doktor. Di samping umurku sudah up 60, hasilnya pun tak akan sepadan ketimbang tenaga dan otak yang terperas. Kecuali citranya naik di mata publik. Seperti orang pintar dan berwawasan.

Dalam hal ini, aku pilih menjadi seperti Jokowi yang sarjana es-satu ketimbang SBY yg lulusan es-tiga. Anda pilih mana?

*Penulis Freelance