Gawat! Krisis Energi Landa Inggris, China hingga India

Gawat! Krisis Energi Landa Inggris, China hingga India

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Krisis energi saat ini sedang melanda beberapa negara di dunia. Terjadi kelangkaan pasokan dan naiknya harga gas, naiknya tarif bahkan padamnya listrik, serta sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan kompilasi pemberitaan CNBC International, setidaknya ada tiga negara di dunia yang sedang mengalami hal tersebut, yakni Inggris, China, India.

Di Inggris, krisis energi ada terlihat dari naiknya tarif listrik serta sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan. Lebih dari dua ribu pompa bensin di negeri itu kering. Krisis juga gas membuat warga Inggris terpaksa berebut BBM dengan industri yang kehabisan sumber pembangkit listrik.

Belum lagi masalah distribusi pasokan yang mandek karena tak ada supir yang mengendarai truk barang di negeri itu. Alhasil rantai pasokan terganggu.

Brexit atau langkah keluarnya Inggris dari Uni Eropa disalahkan atas kejadian ini,dDi mana para supir yang kebanyakan imigran harus kembali ke negaranya karena masalah imigrasi, belum lagi penguncian Covid-19.

Sementara aktivitas pabrik China menyusut akibat pembatasan penggunaan listrik. Sebuah survei yang dirilis Kamis (30/9/2021), sebagaimana dikutip dari Guardian, menunjukkan aktivitas pabrik China mengalami kontraksi pada September. Ini pertama kali terjadi kepada China sejak pandemi melanda pada Februari 2020.

Angka-angka menunjukkan bahwa output turun akibat perlambatan produksi di industri yang mengkonsumsi energi tinggi. Salah satunya seperti pabrik yang memproses logam dan produk minyak.

Krisis listrik di China terjadi ketika permintaan energi negara itu melonjak melewati tingkat pra-pandemi. Namun, pembatasan impor batu bara dari Australia akibat pertikaian politik, menekan pasokan komoditas itu.

Sebelumnya krisis energi ini juga terhubung dengan ambisi pemerintah dalam mengurangi emisi karbon pada 2030. Presiden China Xi Jinping berencana untuk mulai menghentikan operasional pembangkit batu bara dan menggantinya dengan energi terbarukan.

Namun untuk mencapai target itu, dibutuhkan pembangunan 100 gigawatt pembangkit tenaga surya dan 50 gigawatt tenaga angin setiap tahun untuk menyeimbangkan kenaikan konsumsi sebesar 5%. Hal ini jauh dari pertumbuhan energi terbarukan tahunan China yang baru mencapai setengah dari itu.

Nasib yang sama juga terjadi kepada India. Perusahaan utilitas di negeri itu ramai-ramai mengamankan pasokan batu bara pasca lonjakan permintaan listrik dari industri dan impor yang lambat. Ini karena rekor harga global karena rebound permintaan listrik dan persaingan dengan China, konsumen batu bara terbesar dunia, sedang terkena krisis listrik parah.

Data pemerintah menunjukkan setengah dari 135 pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) hanya memiliki stok bahan bakar kurang dari tiga hari. Padahal, aturan pemerintah federal, pasokan setidaknya harus ada untuk dua minggu.

Secara detail, konsumsi listrik negara-negara bagian yang fokus ke Industri terus naik. Di Maharashtra, Gujarat dab Tamil Nadu misalnya, konsumsi tumbuh 13,9 hingga 21% dalam tiga bulan hingga September.

Meskipun pasokan batu bara India menyusut, pemadaman listrik skala besar belum terjadi. Tapi mengutip Reuters, kekurangan sudah terlihat di Uttar Pradesh, Bihar dan Kashmir.

India adalah importir batu bara terbesar kedua di dunia. Meski demikian, negara Tuan Takur itu memiliki cadangan terbesar keempat dunia.(CNBC)