G20 Tak Akui Pemerintahan Taliban, Siap Bantu Rakyat Afghanistan

G20 Tak Akui Pemerintahan Taliban, Siap Bantu Rakyat Afghanistan
JAKARTA, SENAYANPOST.com - Perdana Menteri Italia, Mario Draghi, mengungkapkan para pemimpin negara anggota G20 menyatakan bahwa mereka akan membantu mengatasi krisis kemanusiaan di Afghanistan. 
Seperti dilansir Reuters, Kamis (14/10/2021), mereka siap jika harus berkoordinasi dengan Taliban, tapi tak akan mengakui pemerintahan kelompok itu.
"Pada dasarnya, ada kesamaan pandangan mengenai keperluan menangani krisis kemanusiaan (di Afghanistan)," kata Mario Draghi, dalam pertemuan khusus pemimpin G20.
Ia menambahkan, sangat sulit melihat bagaimana Anda bisa membantu orang-orang di Afghanistan tanpa melibatkan Taliban, tapi bukan berarti mengakui mereka.
Draghi menjelaskan bahwa sebagian besar upaya bantuan akan disalurkan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, bantuan juga akan datang dari masing-masing negara secara langsung.
Dalam pertemuan virtual itu, sejumlah pemimpin negara, seperti Presiden AS, Joe Biden; Perdana Menteri India, Narendra Modi; dan banyak pemimpin Eropa lainnya ikut serta.
Namun, Presiden China, Xi Jinping, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, tak bergabung. Ketidakhadiran kedua pemimpin itu dianggap sebagai indikasi perbedaan sikap mereka terhadap isu Afghanistan ini.
Namun, Draghi mengatakan, ketidakhadiran dua pemimpin itu tidak mengurangi kepentingan pertemuan yang digelar Italia tersebut.
Afghanistan kini dalam kekacauan usai Taliban mengambil alih kekuasaan pada pertengahan Agustus lalu. Dunia masih memantau sikap Taliban setelah mengambil alih pemerintahan, dan sebagian dari mereka menangguhkan bantuan.
Imbas penangguhan itu, harga pangan melonjak, mata uang anjlok, bank kehabisan uang, dan jutaan orang terancam kelaparan.
Menurut Draghi, Taliban akan dinilai berdasarkan perbuatan mereka, bukan kata-katanya. Draghi mengatakan bahwa dunia sangat prihatin dengan nasib perempuan di negara miskin itu.
"Saat ini, kami tak melihat ada kemajuan," katanya.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G20 mengatakan bahwa program kemanusiaan masa depan di Afghanistan harus fokus pada perempuan dan anak perempuan. Taliban juga diminta menjamin keamanan orang-orang Afghanistan yang ingin meninggalkan negara itu.
Selain itu, para pemimpin G20 juga meminta Taliban menangani kelompok-kelompok militan yang beroperasi di luar negeri.
Sebelum pertemuan itu, China menuntut agar sanksi ekonomi terhadap Afghanistan dicabut. Mereka mendesak miliaran dolar aset internasional Afghanistan dicairkan dan diserahkan kembali ke Kabul.

Namun, Amerika Serikat dan Inggris menolak seruan tersebut. (Jo)