Fitch: Ekonomi RI Tumbuh 5,5 Persen, Rupiah di Bawah Rp 14.000 per Dolar AS

Fitch: Ekonomi RI Tumbuh 5,5 Persen, Rupiah di Bawah Rp 14.000 per Dolar AS

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat belakangan ini. Pada akhir 2021, bukan tidak mungkin rupiah bisa berada di bawah Rp 14.000/dolar AS

Pada perdagangan terakhir sebelum libur Idul Fitri, rupiah menutup perdagangan pasar spot di Rp 14.195/dolar AS. Dalam sebulan terakhir, rupiah menguat hampir 3% secara point-to-point.

Posisi terlemah rupiah pada tahun ini ada di Rp 14.600/dolar AS yang terjadi pada pertengahan bulan lalu. Selepas itu, rupiah menjalani tren menguat.

Mengutip proyeksi terbaru Fitch Solutions, pada akhir 2021 posisi rupiah diperkirakan ada di Rp 13.900/dolar AS. Jika ini terwujud, rupiah masih melemah sepanjang 2021 (year-to-date) tetapi tipis saja di 0,11%.

Fitch Solutions memberi 'ramalan' yang cukup positif bagi Indonesia. Ekonomi Tanah Air diperkirakan tumbuh 5,5% pada 2021 setelah tahun sebelumnya terkontraksi (tumbuh negatif) 2,07%.

"Faktor eksternal sepertinya masih akan bagus seiring pemulihan permintaan dunia," sebut laporan Fitch Solutions.

Kinerja ekspor Indonesia memang sedang bagus. Pada Maret 2021, ekspor tumbuh 30,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini menjadi catatan terbaik sejak Juli 2017.

Ekspor yang mumpuni menandakan pasokan valas di perekonomian domestik akan melimpah. Ini akan menjadi modal besar buat rupiah untuk terus menguat.

Dibandingkan negara-negara tetangga, proyeksi yang diberikan Fitch Solutions terhadap Indonesia dapat dibanggakan. Malaysia, misalnya, diperkirakan membukukan pertumbuhan ekonomi 4,9% tahun ini.

"Pertumbuhan yang lebih lambat ini disebabkan oleh perkembangan terkini pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) yang menyebabkan pemerintah terpaksa memberlakukan lockdown. Kami memperkirakan lockdown akan membuat angka pengangguran meningkat sehingga meredupkan prospek pemulihan permintaan domestik," papar laporan Fitch Solutions.

Kemudian Thailand diperkirakan mencatatkan pertumbuhan ekonomi 3,3% pada 2021. Sektor pariwisata yang belum pulih menjadi beban bagi pemulihan ekonomi di Negeri Gajah Putih.

Namun yang paling parah dalah Myanmar. Fitch Solutions memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun fiskal 2020/2021 (Oktober-September) ada di -20%. Bahkan proyeksi itu penuh dengan risiko ke bawah (downside risk).

"Tensi di Myanmar yang terus tereskalasi sejak Maret 2021 membuat kami memperkirakan keresahan sosial (social unrest) hanya akan semakin memburuk. Kemungkinan jatuhnya korban jiwa akan bertambah dalam beberapa bulan ke depan. Ketidakstabilan sosial ini tentu akan berdampak terhadap ekonomi," tulis laporan Fitch Solutions, seperti dikutip CNBC Indonesia. (Jo)