Faisal Basri dan Kiamat Kereta Cepat

Faisal Basri dan Kiamat Kereta Cepat
Amir Uskara

Oleh: H.M. Amir Uskara

MENGAGETKAN! Ekonom senior UI menyatakan KA  Cepat Jakarta-Bandung adalah proyek rugi. Ia tidak layak secara bisnis, sehingga dipastikan sulit balik  modal, bahkan sampai hari kiamat sekali pun. 

Pernyataan Faisal itu langsung viral di  sosmed. Kaum oposan menggorengnya sedemikian rupa untuk memojokkan pemerintahan Jokowi. Mereka menyuplik ucapan Faisal, untuk membenarkan tuduhannya bahwa rejim Jokowi gagal. Tidak becus mengurus negara dan membawa bencana. Proyek KA cepat Jakarta-Bandung (KACJB)  salah satunya. 

Pendapat Faisal dalam menilai "kerugian proyek KACJB" tidak  memakai data. Hanya opini pribadi. Juga tanpa analisis dan pembahasan. Ujug-ujug muncul   kesimpulan; bahwa proyek KACJB pasti rugi. 

Kalimat "sampai kiamat" tidak balik modal adalah frase politis sarkartis. Kapan kiamat, jelas tak ada yang tahu. Jadi, pernyataan Faisal itu lebih sebagai retorika politik oposan yang kepanasan -- bukan retorika ilmuwan yang berlandaskan data dan kajian. Catat Faisal adalah salah seorang pendiri partai politik Partai Amanat Nasional (PAN).

Anyer-Panarukan

Pembangunan KACJB adalah proyek infrastruktur. Yang namanya proyek infrastruktur tidak bisa dihitung untung ruginya dalam jangka pendek, misal 10 sampai 20 tahun. Karena proyek infrastruktur dampak ekonominya tidak bertumpu pada  "kapan break event poin (BEP) atau balik modalnya" -- tapi bertumpu pada seberapa jauh dampak ekonominya pada masyarakat. 

Kita bisa mengambil contoh proyek jalan Anyer-Panarukan yang dibuat Herman Willem Daendels, gubernur jenderal Hindia Belanda (1808-1811). Proyek Anyer-Panarukan itu tujuannya untuk kepentingan mobilisasi militer Belanda  bila menghadapi  musuh. 

Setelah  Belanda pergi, jalan raya Anyer-Panarukan menjadi urat nadi perekonomian Pulau Jawa, terutama di pantai utara. Seratus lima puluh tahun setelah Daendels, jalan raya Anyer-Panarukan menjadi berkah untuk pengembangan perekonomian di Pulau Jawa. Bahkan sampai sekarang pun, dua abad setelah jalan tersebut dibangun, pusat perekonomian Indonesia masih berada di sekitar jalur kuno itu. 

Fenomena tersebut terjadi juga di Eropa zaman Romawi. Untuk mempermudah mobilisasi militer, Kaisar Romawi membangun banyak jalan dari Roma ke  berbagai wilayah di Eropa. Peribahasa "banyak jalan menuju Roma" mengasosiasikan betapa banyak jalan dibangun oleh kaisar-kaisar Romawi yang ibu kotanya Roma. Dari penelitian ekonomi modern kemudian terbukti, pusat-pusat perekonomian   di Eropa tumbuh di sekitar jalan-jalan tersebut. Di Itali, Perancis, Belgia, Belanda, dan negara lain di Eropa, pusat pusat pertumbuhan ekonomi berada di sepanjang dan sekitar "jalan-jalan menuju Roma" tersebut.

Presiden Joko Widodo -- pinjam istilah Dr. Roby Muhamad, pakar  studi social network dari Columbia University, AS -- adalah seorang negarawan yang berpikir jauh ke depan. Jokowi berpikir  ratusan bahkan ribuan tahun ke depan dengan membangun proyek infrastruktut di seluruh Indonesia.  Mulai jalan raya, jalan tol, kereta api cepat, bendungan -- bahkan ibu kota baru di Pulau Kalimantan -- pulau terbesar di Indonesia yang secara geologis aman dari gempa tektonik dan vulkanik serta dekat dengan pusat-pusat perekonomian dunia. Semua pembangunan infrastruktur yang demikian gigantik dan massif di era Jokowi ini, kata Roby Muhamad, manfaatnya akan dirasakan generasi akan datang.

Proyek KACJB adalah salah satu proyek infrastruktur stragis. Jika proyek ini selesai dampak ekonominya akan luar biasa. Pusat pertumbuhan ekonomi niscaya akan muncul di sepanjang dan sekitar stasiun-stasiun kereta api cepat tadi. Seperti industri, properti, pariwisata, pasar modern, dan lain-lain. Belum lagi terkereknya citra Indonesia sebagai negeri yang menarik untuk investasi di mata korporasi internasional. Indonesia akan mudah menarik investor internasional yang   berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan tumbuhnya pusat ekonomi baru.

Tampaknya Faisal Basri tidak  berpikir jauh seperti itu. Proyek KACJB hanya dilihat dari jumlah karcis penumpang untuk balik modal. Sehingg ia mengatakan sampai kiamat pun proyek tersebut tidak BEP. Padahal pemasukan kereta cepat niscaya tidak melulu dari penumpang, tapi juga dari kiriman dokumen dan barang. Perusahaan forwarding niscaya tumbuh bersamaan hadirnya kereta api cepat tadi. Belum lagi dampak "serendipity"nya yang luar biasa.

Serendipity adalah dampak ikutan yang sebelumnya luput dari prediksi dan perencanaan. Misal, aspirin dulu hanya dipakai untuk obat mengatasi demam. Kemudian terbukti aspirin mampu menyembuhkan sakit jantung. Akibatnya aspirin harganya naik. Serendipity macam itu  niscaya muncul setelah rampungnya proyek KACJB. Bisa saja di stasiun-stasiun pemberhentian kereta,  muncul industri mode, pariwisata angkasa luar, real estate kelas super premium, dan lain-lain yang belum terpikirkan sekarang.   Ini akan menambah nilai ekonomi proyek KACJB tadi.

Semua dampak ekonomi KACJB tersebut jelas  jauh di atas nilai finansial modal yang dikeluarkan negara. Bayangkan jika proyek infrastruktur semacam kereta api cepat itu ada di mana-mana di Indonesia seperti di negeri kepulauan Jepang. Pemerataan kemakmuran rakyat Indonesia dari Sabang sampai Marauke niscaya akan tercapai. Indonesia yang makmur dan sejahtera tidak hanya  berada di  cita-cita  -- tapi juga menjadi realita. Semoga! (*)

Dr. H.M. Amir Uskara adalah Anggota DPR RI/Ketua Fraksi PPP