Erick Thohir Diduga Ikutan Bermain Bisnis PCR, Ini Respons BUMN

Erick Thohir Diduga Ikutan Bermain Bisnis PCR, Ini Respons BUMN
Erick Thohir

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Menteri BUMN Erick Thohir disebut main dalam bisnis tes PCR di Indonesia melalui PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) atau GSI Lab bersama dengan Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, buka suara mengenai hal ini. Menurutnya, isu atasannya bermain di tes PCR sangat tendensius sebab sejak menjadi Menteri BUMN, Erick Thohir sudah tidak aktif dalam Yayasan Adaro. Yayasan tersebut memiliki saham 6 persen di PT GSI.

"Sejak Pak Erick jadi menteri, sudah tidak aktif lagi di yayasan itu. Enggak aktif. Jadi sangat jauh dikaitkan terlibat. Saya harap jangan tendensius dan lebih clear-lah melihatnya," kata dia kepada wartawan, Selasa (2/11).

Adapun keterlibatan GSI dalam tes PCR di Indonesia, menurut Arya, 700 ribu kali tes hingga kemarin. Jumlah itu hanya 2,5 persen dari total keseluruhan tes PCR yang dilakukan di Indonesia mencapai 28,4 juta tes.

Karena itu, Arya menilai tuduhan Erick Thohir bermain di bisnis PCR ini sangat tendensius.

Baca Juga

"Hanya 2,5 persen, sedangkan 97,5 persennya dilakukan pihak lain. Jadi kalau dikatakan bermain kan lucu ya, hanya 2,5 persen. Kecuali 30 persen sampai 50 persen, okelah GSI ikut bermain," lanjutnya.

Arya menyebut selama ini ketentuan mengenai PCR tidak pernah dikeluarkan oleh Kementerian BUMN. Pemerintah tidak pernah mengeluarkan kewajiban pelaksanaan tes PCR yang menunjuk lab tertentu kecuali tentunya yang sesuai standar yang ditentukan Kementerian Kesehatan.

Lagi pula, menurut dia, jika tes PCR tidak dilakukan dalam perjalanan, lebih menguntungkan banyak BUMN seperti PT Angkasa Pura I dan II, PT ASDP, Garuda, Citilink, dan hotel-hotel.

"Jadi, isu bahwa Pak Erick bermain tes PCR itu sangat tendensius," kata Arya.

Juru Bicara Luhut Juga Buka Suara

Sebelumnya, Juru Bicara Kemenko Marves Jodi Mahardi angkat bicara terkait isu yang beredar tersebut. Jodi menjelaskan, saham yang dimiliki Luhut dalam Toba Bara Sejahtra sudah sangat kecil.

Keterlibatan Luhut dalam pengadaan alat tes COVID-19 itu, disebut melalui Toba Bumi Energi, anak perusahaan Toba Bara Sejahtera, serta PT GSI.

"Di bawah 10 persen, jadi Pak Luhut tidak memiliki kontrol mayoritas di TBS," jelas Jodi dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (2/11).

Luhut diajak oleh grup Adaro, Indika, hingga Northstar. Perusahaan tersebut digadang sebagai inisiatif membantu penyediaan tes COVID-19 dengan kapasitas besar.

"Jadi GSI tujuannya bukan mencari profit bagi para pemegang saham. Sesuai namanya memang ini adalah kewirausahaan sosial," tuturnya.