Catatan dari Senayan

Dunia Masih Meragukan Taliban

Dunia Masih  Meragukan Taliban

Oleh: Imas Senopati

USAI AMERIKA SERIKAT menarik pasukannya dari Afghanistan, negeri itu segera jatuh ke tangan Taliban beberapa hari yang lalu. Ini merupakan kebangkitan Taliban yang pertama setelah 20 tahun. Taliban terakhir menguasai Afghanistan tahun 2001, jatuh setelah serangan Amerika Serikat akibat peristiwa 9 September di tahun yang sama.
Kekalahan pemerintahan Afghanistan di bawah  Presiden  Ashraf Ghani sebenarnya tidak mengagetkan. Karena sebelumnya Amerika Serikat yang memberikan perlindungan penuh kepada pemerintah Afghanistan terlibat perundingan dengan Taliban tanpa menyertakan Ashraf Ghani. 

Di awal pendudukannya di Afghanistan, Taliban berjanji akan melindungi kaum perempuan. Kelompok Taliban Afghanistan mengatakan  bahwa mereka menginginkan hubungan damai dengan negara-negara lain dan akan menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam.

Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu keselamatan di Bandara Kabul, dan sebagainya dan sebagaimana. Taliban akan berubah, Taliban tidak seperti yang dulu. Janji-janji ini terasa indah dan sempat menumbuhkan harapan akan masa depan Afghanistan di bawah Taliban  menjadi lebih baik.

Tapi ketika janji belum selesai diucapkan, ada sejumlah kenyataan yang justru bertolak belakang dengan janji manis itu. Sejumlah demonstran yang menolak kehadiran Taliban disapu dengan tembakan, Walikota Kabul yang perempuan ditangkap, sejumllah jurnalis  diburu dan dibunuh. Ada 12 orang tewas selama tiga hari kerusuhan di Bandara Kabul. Hingga kemarin banyak warga, termasuk anak-anak menjadi korban penembakan di sekitar Bandara Kabul. Banyak kejadian lain yang membuat dunia cemas dan tidak buru-buru mengakui pemerintahan Taliban.

Baca Juga

Sepercik pengharapan pun tenggelam. Taliban tetap Taliban. Perangainya tak berubah. Dokumen PBB menunjukkan Taliban menggencarkan upaya untuk memburu mereka yang pernah bekerja dengan pasukan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Warga panik, rumah-rumah digeledah. Milisi Taliban juga melucuti senjata polisi di kantor-kantor kedutaan, perwakilan asing dan kantor badan internasional lain. Penjagaan yang semula dilakukan personel bersenjata dari Diplomatic Protective Services (DPS)--yang bernaung di bawah kementerian dalam negeri dan polisi--kini semuanya digantikan milisi Taliban. Para petugas diminta pergi dan dibebastugaskan.

Bisa jadi janji yang diucapkan itu sebagai strategi untuk mendapatkan pengakuan internasional. Bisa jadi pikiran elite Taliban tak ditangkap oleh pasukan Taliban. Juga bisa jadi ada strategi ganda yang tengah mereka mainkan. Kita hanya menebak di tengah keraguan atas itikad baik Taliban.

Banyak negara, kecuali China dan Rusia, ramai-ramai mengevakuasi warganya yang masih berada di Afghanistan,  termasuk pemerintah Indonesia. China dan Rusia tetap mempertahankan kedutaannya dan kepentingan mereka di Afghanistan. Bahkan China terang-terangan siap bekerja sama dengan Taliban. 

Duta Besar Rusia untuk Afghanistan, Dmitry Zhirnov, memuji sikap Taliban sejak pengambilalihan kekuasaan bahkan menyebut tak ada alternatif selain kelompok tersebut di sana. Zhirnov mengatakan situasi keamanan di ibu kota Afghanistan tersebut kini lebih baik dibanding sebelum direbut Taliban.

China dan Rusia diketahui memiliki kepentingan ekonomi yang besar di Afghanistan. Pasalnya Afghanistan disebut memiliki cadangan sumber daya alam terbesar di dunia yang belum dieksploitasi seperti tembaga, batu bara, kobalt, merkuri, dan emas.

Amerika memang tidak menyangka Kabul akan jatuh begitu cepat ke Taliban. Mereka mengira prosesnya akan memakan waktu berbulan-bulan untuk hal tersebut terwujud. Sekarang, penarikan pasukan belum beres, Taliban sudah di depan mata. Target awal Amerika, penarikan 2500-3000 personel militer dari Afghanistan akan berakhir Agustus ini. Kini Amerika melakukan sebaliknya, menugasi 6000 personel militer ke Afghanistan.

Uni Eropa siap bekerja sama dengan Taliban dengan syarat berat, soal perlindungan hak asasi manusia dan kaum perempuan. Demikian juga Arab Saudi, belum menyinggung kerja sama dengan Taliban. Pemerintah Raja Salman di Arab Saudi memberi pesan ke Taliban yang kini menguasai Afghanistan. Negeri itu meminta Taliban menjaga keamanan, stabilitas dan nyawa rakyat Afghanistan.

Arab Saudi mengingatkan Taliban soal semua aturan yang sudah ada dalam "prinsip-prinsip Islam". Mengingatkan kelompok itu untuk menyudahi penyisiran di seluruh negeri.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (The North Atlantic Treaty Organization/NATO) mewanti-wanti Taliban. Kelompok itu mengatakan akan menyerang Afghanistan jika negara tersebut kembali menjadi tempat berkembang biak terorisme di bawah kepemimpinan Taliban.

Indonesia pun menunggu perkembangan lebih lanjut di Kabul. Yang jelas pemerintah telah resmi mengevakuasi warga Indonesia yang ada di Afghanistan. Kalau tidak meragukan Taliban, mestinya pemerintah tidak perlu memulangkan warganya. Indonesia lebih menekankan dampak dari kemenangan Taliban ke dalam negeri Indonesia. 

Kepala BNPT Boy Rafli Amar wanti-wanti jangan sampai masyarakat salah bersimpati, karena berdasarkan pantauan ada pihak-pihak tertentu yang berusaha menggalang simpatisan atas isu Taliban. Yang terjadi di Afghanistan merupakan persoalan di luar kewenangan Indonesia. Yang dilakukan Taliban tidak boleh terjadi di Tanah Air.

Dunia masih meragukan Taliban dan menunggu perkembangan di Afghanistan, apakah Taliban akan menepati janjinya ataukah tetap menggunakan cara-cara lama mereka. (*)