Duh, Tak Terasa Kita Membiayai Teroris

Duh, Tak Terasa Kita Membiayai Teroris
Ilustrasi | SENAYANPOST.com

Oleh: Imas Senopati

MUNGKIN tanpa sengaja kita telah membiayai teoris. Kok bisa? Ya, ternyata kotak amal yang tersebar di minimarket atau restoran di sejumlah wilayah Indonesia diduga sebagai bagian pencarian sumber dana untuk membiayai keperluan pelatihan taktik teror dan juga untuk membeli senjata. Duh!

Diduga ada belasan ribu kotak amal yang dananya dipakai untuk pendanaan kelompok teroris. Miris! Mabes Polri tengah mengusut sumber dana jaringan teroris yang salah satunya dari kotak amal yang tersebar di minimarket sejumlah wilayah di Indonesia. Jaringan teroris yang diduga memakai cara ini adalah jamaah islamiyah untuk keperluan pelatihan dan taktik teror juga membeli senjata. Satu yang tengah diselidiki di wilayah Lampung.

Pemerintah Provinsi Lampung berkoordinasi dengan polisi untuk menyisir lembaga yang menaruh kotak amal di sejumlah tempat termasuk minimarket. Selain akan melakukan pemantauan terhadap sejumlah yayasan maupun organisasi lainnya, Kesbangpol Provinsi Lampung akan memanggil pengelola atau ketua yayasan dan ormas untuk mengetahui legalitas badan hukum dari organisasi yang terindikasi bagian dari jaringan kelompok radikal itu.

Kenyataan ini membuat kita perlu waspada. Di beberapa daerah, selain di sejumlah minimarket, kita biasa lihat di pintu-pintu pertokoan, ada perempuan membagikan brosur yang disertai amplop kecil. Isi brosur mengatasnamakan yayasan atau rumah yatim dan dhuafa. Atau juga korban bencana alam, dan kadang untuk biaya pembangunan masjid. Pemandangan yang sama juga sering kita lihat di dekat boks mesin ATM. Brosur disertai amplop kecil itu dibagikan kita saat kita mau masuk pertokoan atau masu ambil uang di mesin ATM. Saat kita keluar pertokoan atau boks ATM dicegat, tanpa berkata mereka seolah meminta kembali amplop yang sudah kita terima sebelumnya.

Mungkin karena risih, atau benar-benar ikhlas, kita yang tadinya menerima amplop pun mengembalikannya dengan diisi selembar dua lembar uang. Demi menuju kebajikan dengan amalan karitatif itu. Tentu kita tak sempat mengecek apakah uang yang kita berikan secara ikhlas itu benar-benar peruntukannya untuk yayasan yatim, dhuafa, bencana alam, atau pembangunan masjid. Mana sempat kita menelpon melakukan pengecekan kepada pihak-pihak yang umumnya jauh dari lokasi pencarian dana itu.

Tadinya kita, baik yang karena ikhlas atau yang karena risih, tak peduli kemana muara dari donasi yang kita berikan. Tepat sasaran seperti yang di brosur syukurlah, masuk kantong para pemungut ya tak apalah, anggap saja itu rejeki mereka. Memang amalan yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan, sekecil apa pun, tak akan hapus. Amalan sebiji zarrah (biji, sawi, sangat kecil) pun sudah berpahala. Kalau dana yang kita berikan seandainya benar untuk kaum dhuafa atau anak yatim, sungguh bajik dan mulia. Kalau untuk pembangunan masjid, akan menjadi jariyah yang tak akan putus pahalanya. Tapi begitu membaca berita motif pengumpulan dana itu ada yang untuk kepentingan pembiayaan teroris, kita jadi tersadar, kok sampai kita membantu mendanai kaum teroris? Di satu sisi kita mengutuk mereka tapi tanpa terasa kita pun membiayai. Sialan!

Tentu tidak semua kotak amal tidak yang beredar di masyarakat untuk kepentingan teroris. Banyak juga yang benar-benar untuk untuk kebajikan. Dengan ditemukannya modus baru kotak amal seperti itu tentu saja menyadarkan kita untuk berhati-hati beramal ke dalam kotak yang kita ragukan itu.  Mungkin bagi yang sudah terbiasa beramal akan mengubah kebiasaan memasukkan ke dalam kotak amal, lebih baik langsung menyalurkan ke yayasan, rumah yatim piatu atau panitia pembangunan masjid terdekat, daripada ragu dan disalahgunakan untuk kepentingan teroris.

Begitulah terorisme, dengan militanisme yang memiliki, selalu berupaya keras untuk menggali dana dari berbagai sumber. Ada yang diporoleh baik-baik seperti dari para konglomerat, dari aksi kejahatan seperti perampokan, dan yang model tipu muslihat melalui kotak amal itu.

Salam kebajikan.