Olimpiade Tokyo 2020

Dugaan Doping Lifter China, Windy Berpeluang Raih Perak

Dugaan Doping Lifter China, Windy Berpeluang Raih Perak
REUTERS

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Lifter China sekaligus peraih medali emas angkat besi kelas 49kg di Olimpiade Tokyo 2020, Hou Zhihui dalam pemeriksaan terkait dugaan doping. Hal itu membuat lifter Indonesia, Windy Cantika Aisah berpeluang bawa pulang perak.

Seluruh atlet peraih medali diwajibkan untuk melakukan pengambilan sampel melalui urine untuk dilakukan tes pengecekkan doping. Diberitakan kantor berita ANI yang mengutip sumber menyebut ada penemuan dalam sampel Zhihui.

"Yang berita sekarang itu hasil dari sampel A dan harus dilanjutkan ke pemeriksaan sampel B. Kalau di sampel A dibuka ada indikasi, sampel B diperiksa lagi. Kalau benar sama hasilnya positif [doping] nanti akan ada pengumuman resmi panitia penyelenggara Olimpiade 2-3 hari kemudian," kata Dirja Wiharja, pelatih angkat besi Indonesia yang menemani Windy di Olimpiade Tokyo dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (28/7/2021).

Di Olimpiade Tokyo, Zhihui telah mencetak rekor dunia 210kg di kelas 49kg. Ia mengalahkan wakil India Mirabai Chanu dengan total angkatan 202kg dan berhak atas medali emas.

Sedangkan medali perunggu diraih lifter Indonesia Windy Cantika yang mencatatkan total angkatan 194 kg dari 84 kg snatch dan 110 kg clean and jerk. Windy Cantika juga menjadi penyumbang medali pertama bagi Indonesia di Olimpiade Tokyo.

"Sekarang kabarnya, hasil dari sampel A yang kemarin sedang dipelajari. Apa benar doping, apa kandungannya besar, membahayakan atau tidak. Kita tunggu pengumuman resmi saja," ujar Dirja.

Jika hasil resmi menyatakan Zhizui terbukti positif doping, medali emas lifter 24 tahun itu akan dicabut. Mirabai Chanu akan naik sebagai peraih medali emas disusul Windy Cantika untuk medali perak dan Wan Ling Fang dari Taiwan berhak atas perunggu Olimpiade Tokyo.

Pasalnya, dalam aturan Badan Anti-Doping Dunia (WADA) disebutkan dengan jelas bahwa atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade dilarang menggunakan zat peningkat kinerja, yang mencakup berbagai jenis stimulan.

Setiap atlet yang sampelnya terdeteksi dengan zat terlarang gagal dalam tes doping. Jika terdeteksi sebelum dimulainya pertandingan, dia didiskualifikasi sebagai peserta. Jika sampel ditemukan positif untuk zat terlarang setelah laga, atlet akan ditarik medalinya.

Komite Olimpiade Indonesia (NOC) juga bakal mengawal untuk memastikan persoalan doping yang diduga terjadi di cabang angkat besi 49 kg Olimpiade Tokyo 2020.

"Kami akan komunikasi dengan panitia Olimpiade Tokyo soal penemuan kasus doping ini. Olimpiade kan harus jadi ajang yang mengedepankan sportivitas dan fairness."

"Jadi jangan sampai ada doping-doping ini. Kami yakin IOC [Komite Olimpiade Internasional] dengan komisi anti-doping akan memaksimalkan semua usahanya untuk menghilangkan doping dari dunia olahraga," jelas Raja Sapta Oktohari, Presiden NOC Indonesia saat dikonfirmasi terpisah.