Dua Kesenangan

Dua Kesenangan
Foto dari Imam Anshori Saleh

SELEPAS melintasi tahun kedua Hijriah, tahun pertama kalinya diwajibkannya puasa atas kaum Muslim, kedatangan bulan Ramadhan selalu mereka sambut dengan sukacita. Apalagi setelah mereka berhasil meraih kemenangan dalam Perang Badar yang terjadi pada bulan suci tersebut. 

Kemenangan dalam Perang Badar benar-benar mengesankan mereka. Hati mereka benar-benar berbunga-bunga dan sarat dengan kecintaan kepada Allah. Mereka pun terus menerus mengharapkan rahmat dan ridha-Nya, memuliakan mereka dengan nikmat kemenangan lain dan menguatkan mereka dengan pertolongan-Nya. Meski demikian, Allah tetap mengingatkan mereka tentang semua itu lewat firman-Nya, 

“Dan, ingatlah (wahai kaum Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di bumi (Makkah). Kalian takut orang-orang (Makkah) akan menculik kalian, maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah) dan menjadikan kalian kuat dengan pertolongan-Nya dan memberi kalian rezeki yang baik-baik agar kalian bersyukur.” (QS Al-Anfâl [8]: 26). 

Kemudian, ketika bulan Ramadhan berikut tiba, Rasulullah Saw. merasa perlu memberikan arahan kepada kaum Muslim tentang keutamaan berpuasa. Karena itu, selepas melaksanakan shalat, beliau pun memberikan arahan kepada mereka:

“Wahai sahabat-sahabatku! Allah Swt. telah menyatakan, ‘Setiap amal manusia adalah untuknya (untuk kemaslahatan diri manusia), kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah milik-Ku dan Aku-lah yang membalasnya.’ Puasa adalah perisai (dari neraka). Dan, apabila seseorang sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata keji, berhubungan badan, serta menghina orang. Apabila ia dicaci atau diajak berselisih, hendaklah ia mengatakan bahwa ia sedang berpuasa. Demi Allah yang menguasai diri Muhammad.Sungguh, bau mulut orang yang sedang berpuasa di sisi Allah, kelak pada Hari Kiamat, lebih semerbak ketimbang semerbak wewangian. Selain itu, orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan. Pertama, ketika ia berbuka. Kedua, ketika ia bertemu dengan Tuhannya!”