Sebuah Novel tentang Sebuah Keluarga Yahudi di Mesir

Dua 'Dunia' Lucianne

Dua 'Dunia' Lucianne
Lucianne

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

SINOPSIS

“KE MANAKAH aku harus melangkah? Tetap menetap di Mesir atau pindah ke Israel?”

Betapa kerap pertanyaan yang demikian itu “membara” dalam benak Zaenab. Mungkin, pertanyaan itu tidak akan menghantui benaknya, andai ia sebagai seorang Muslimah Mesir. Namun, takdir perjalanan hidupnya menentukan lain. Ia lahir sebagai seorang perempuan berdarah Yahudi, dengan nama kecil Lucianne Hannedy, yang menetap di lingkungan keluarga Yahudi di Kairo, Mesir. Malah, ia kemudian juga tumbuh dewasa tetap sebagai seorang perempuan Yahudi Mesir. Tak aneh jika ia kemudian juga menikah dengan seorang anak muda berdarah Yahudi Mesir, Zaki Raul, dan dikaruniai dua anak: Yitzhak dan Yasmine.

Namun, perkawinan Lucianne Hannedy, atau Lucy, dengan Zaki Raul tidak berlangsung mulus. Akhirnya, mereka bercerai. Lewat profesinya sebagai seorang manikuris papan atas, akhirnya Lucy bertemu dengan dua lelaki Muslim: Abdurrahman Bey dan Shawkat Bey. Pertama-tama, ia menikmati hidup dengan Abdurrahman Bey. Namun, akhirnya, hatinya bertambat pada seorang bangsawan kaya dan tampan: Shawkat Bey. Lewat pernikahan Lucy dengan bangsawan Muslim tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan cantik: Hagar. Dan, sejak menikah dengan Shawkat Bey, Lucy kemudian memeluk Islam dan memilih sebuah nama baru: Zaenab.

Semula, hubungan antara Zaenab dengan mantan suaminya dan dua anaknya yang berdarah Yahudi tersebut berjalan lancar. Namun, kemudian, dengan berdirinya Negara Israel dan terjadinya konflik Mesir-Israel, membuat Zaenab terjerembab dalam “pusaran” persoalan berat. Apalagi, selepas mantan suaminya dan kedua anaknya migrasi ke Paris dan kemudian pindah ke Israel. Dengan kejadian tersebut, kini, kedua kaki Zaenab seakan berada di dua negara: Mesir dan Israel. Dan, dua anaknya, dari perkawinan  dengan Zaki Raul, menjadi lawan Hagar, anaknya dari perkawinannya dengan Shawkat Bey. Ke manakah ia harus memilih dan memihak?

Novel menawan yang kemudian dituangkan menjadi film ini, dengan judul asli Lâ Tatrukûnî Hunâ Wah(Jangan Kalian Tinggalkan Aku Sendiri Di sini),  merupakan karya seorang penulis, jurnalis, novelis, dan editor kondang Mesir, Ihsan Abdel Quddous (1919-1990), yang mendalami kelompok Yahudi di Mesir. Lewat novel yang sarat kejutan ini, kita akan “mengenal” kehidupan sebuah keluarga Yahudi di Mesir. Sebelum dan selepas berdirinya Negara Israel pada 1948 hingga meletusnya Perang 6 Oktober 1973.

Selamat menikmati.

39.

HARI DEMI HARI, Zaenab kian tenggelam dalam kesepian. Kesepian kian membebani dirinya. Ia selalu sakit lagi setiap kali sembuh dari sakit yang ia derita sebelumnya. Barangkali, obatnya terletak pada surat yang akan ia terima dari  Yitzhak, anak laki-lakinya, atau Yasmine, atau Hagar. Namun, sejak beberapa  tahun Yitzhak tidak jelas di mana ia berada. Sedangkan Yasmine beberapa kali mengirimkan surat dengan isi surat yang mengambang. Takut kepada Badan Intelijen Mesir. Yang kerap menyensor surat-surat dari luar negeri. Mungkin, karena perasaan takut itu pulalah yang akhirnya membuat ia tidak lagi mengirim surat kepada ibunya.

Zaenab sendiri telah berusaha menulis surat kepada Yasmine. Namun, tiada jawaban yang datang. Mungkin, alamat flatnya telah berubah. Mungkin pula, Yasmine telah meninggalkan Paris. Mungkin pula, Yasmine telah berada di Israel. Zaenab sungguh tidak tahu.

Khadija kadang datang membawa sepenggal kabar. Namun, kini, sahabat Yasmine itu juga menjauh dari Zaenab. Malah, akhirnya, Zaenab tidak pernah melihat Khadija lagi. Ketika Zaenab mencari sahabat Yasmine itu di seputar Kairo, ia tidak berhasil menemukan Khadija. Barangkali, Khadija juga ikut menetap di Paris. Atau barangkali terjadi sesuatu  yang membuat hubungan antara Khadija dan Yasmine terputus. Siapa tahu?

Sementara itu Hagar tetap bersikap tinggi hati terhadap Zaenab. Lebih-lebih selepas Hagar menjadi istri seorang diplomat. Setiap kali cuti di Mesir, Hagar menolak menginap di rumah ibunya. Ia lebih suka menginap bersama suaminya di sebuah flat yang ia sewa. Ia hanya datang untuk menjenguk ibunya dengan kunjungan yang dingin. Sambil menanyakan bagiannya dari harta warisan dari ayahnya.

Mungkin, itulah karakter kepribadian Yahudi. Kepribadian yang tidak bergerak kecuali jika berkaitan dengan kepentingan dirinya sendiri. Bagi kepribadian seperti ini, perasaan tidak memiliki arti. Perasaan adalah basa-basi. Basa-basi pun tidak dilakukan kecuali bila ada kepentingan. Contoh, ayah Zaenab datang ke Mesir bersama kakeknya dari Maroko. Namun, sejak kakeknya menginjakkan kedua kakinya di Mesir, seluruh hubungannya dengan keluarganya di Maroko terputus. Zaenab tidak  pernah melihat ayahnya atau kakeknya menulis sepucuk surat kepada seseorang di Maroko. Mungkin saja Zaenab memiliki keluarga di Maroko. Namun, tidak seorang pun menceritakan kepadanya tentang mereka. Zaenab pun tidak pernah bertanya tentang salah seorang di antara mereka.

Zaenab sendiri, sejak menyatakan keislamannya, tidak pernah menghubungi saudara perempuannya. Ini supaya masyarakat tidak ingat ia dulunya seorang Yahudi.  Saudara perempuannya tersebut seorang penganut garis keras Agama Yahudi. Memang, untuk beberapa lama mereka masih saling berhubungan. Namun, hubungan itu kemudian merenggang. Akhirnya, hubungan itu terputus sama sekali. Hingga ia mendengar dari Sarah, beberapa tahun kemudian, bahwa saudara perempuannya itu telah meninggal dunia.

Barangkali kepribadian tersebut, kepribadian di mana kepentingan riel lebih berkuasa ketimbang perasaan, mewarnai diri anak-anak Zaenab. Namun, beban yang dirasakan Zaenab paling berat adalah masalah suaminya, Letkol Fahmi Garallah. Zaenab tersenyum kecut setiap kali teringat masalah tersebut. Perwira militer itu, sejatinya, bukan suaminya. Sebab, akad perkawinan yang ia lakukan dengan perwira militer itu hanyalah kamuflase saja.

Meski demikian, Zaenab tetap melewatkan seluruh hari selama seminggu untuk menunggu datangnya dua hari yang dikhususkan Letkol Fahmi Garallah baginya: Rabu dan Ahad. Ia selalu berpikir, bagaimana ia menyiapkan dirinya sebagai seorang perempuan? Apa yang akan ia ceritakan kepada perwira militer tersebut? Pakaian apa yang akan ia kenakan? Juga, apa yang akan ia berikan kepada perwira militer itu?

Kini, usia Zaenab telah lima puluh lima tahun. Meski demikian, ia tetap memelihara seluruh keperempuanannya dan keperluan pria di atas ranjang. Ketika ia sakit, beberapa dokter datang memeriksanya dan mengobatinya. Untuk menyiapkan dirinya dalam menyambut hari Rabu dan Ahad. Sedangkan hari-hari lainnya milik para dokter. Malah, kadang ia menyambut kedatangan Letkol Fahmi Garallah dalam keadaan sakit. Meski menderita, ia tetap menyembunyikan sakit yang ia derita dan menyerahkan dirinya kepada perwira militer itu.

Namun, Letkol Fahmi Garallah mulai berubah. Kini, ia kerap mengatakan kepada Zaenab bahwa ia sedang melaksanakan suatu tugas. Kadang, selama satu bulan penuh ia tidak menampakkan batang hidungnya. Ketika ia muncul, Zaenab tidak tahu di mana suaminya itu selama itu dan tugas apa yang ia laksanakan. Kemudian, suaminya itu tidak menampakkan dirinya tanpa memberitahu kepada Zaenab. Satu bulan atau dua bulan. Untuk menghubungi suaminya itu, Zaenab harus melalui sekretaris suaminya yang kerap kali tidak tahu apa-apa tentang suaminya, meski Zaenab telah memenuhi seluruh permintaan sang suami. Seakan, kini suaminya itu merupakan majikan Zaenab.

Akhirnya, Zaenab mengakui, Letkol Fahmi Garallah mulai  lepas dari tangannya. Melarikan diri dari Zaenab. Untuk mencurahkan seluruh waktunya untuk istri pertamanya dan anak-anaknya.

Zaenab pun tersenyum kecut. “Itu hak Fahmi,” gumam pelan Zaenab. Ia tidak dapat menarik lelaki itu kembali kepadanya. Ia juga mengakui, kini ia telah memasuki masa senja. Enam puluh tahun. Ia tidak memiliki lagi sesuatu yang menggiurkan yang dapat memikat suaminya. Juga, tiada sesuatu pun lagi yang dapat diambil lelaki itu. Hingga pun harta kekayaan, lelaki itu telah mengambilnya sesuai dengan yang ia perlukan.

Kadang, perasaan aneh mulai menyergap diri Zaenab. Mengapa ia tidak kembali menjadi Lucy seperti dulu. Menjadi kembali Lucianne Hannedy. Kembali menjadi seorang perempuan Yahudi, pergi ke Paris, dan hidup bersama anak perempuannya, Yasmine. Atau pergi ke Israel. Barangkali, di sana, ia dapat menemukan anak laki-lakinya, Yitzhak Raul, dan mati di depan kedua matanya. Mati di Tanah Suci, di Tanah yang Dijanjikan.

Namun, tidak! Zaenab tidak dapat melakukan semua itu. Ia telah membangun hari-harinya di sini. Di Mesir. Setiap hari ia membangun keberhasilannya sendiri. Di sini pula, ia menyusun setiap cercah keberhasilan. Keberhasilan, menurut ia, merupakan kehidupan. Juga, keberhasilan merupakan tanah air. Di mana pun Anda berhasil, maka Anda berada di tanah Anda. Karena itu, ia tidak boleh menyesal hanya sekadar karena anak-anaknya meninggalkannya sendiri di Mesir. Apa yang ia ambil dari kehidupan lebih lekat dengannya ketimbang dengan anak-anaknya. Ia akan tetap berada di sini. Mati di sini. Dan, dikebumikan di tanah keberhasilannya. 

Zaenab pun memutuskan untuk meninggalkan flat yang ia tempati di Zamalek. Flat itu ia sewakan. Ia kemudian menetap di istana Mansouriyah. Bukankah ia tinggal di flat itu supaya dekat dengan Letkol Fahmi Garallah? Namun, kini, Fahmi Garallah menginginkan dirinya menjauh.

Zaenab pun melewatkan hari-hari sepinya di istana Mansouriyah. Hari-harinya ia isi untuk mengurus lahan pertanian, memetik hasil bumi, dan mencari keuntungan dari jual-beli hewan ternak. Di istana itu ia hanya ditemani Naima dan Khidra, dua perempuan dari sebuah desa terdekat. Aneh sekali, ia merasa dekat sekali dengan dua perempuan itu. Ia merasa, dua perempuan itulah yang mengisi kesepiannya.

Perang 6 Oktober 1973 pun meletus. Tangis pun mulai mengisi hari-hari Zaenab. Seperti sebelumnya, setiap kali terjadi perang, tetes air matanya bergulir kencang du kedua pipinya tanpa ia tahu mengapa ia menangis. Barangkali, ia membayangkan Yitzhak Raul sedang bertempur menghadapi saudaranya, Midhat Shawkat. Atau ia membayangkan Yasmine sedang berbaku hantam dengan Hagar. Dan, ia bingung dan tidak tahu, siapakah yang akan menang dalam perang tersebut.

Hari itu, dengan perasaan sangat ketakutan, Zaenab mencermati para tawanan Yahudi yang ditayangkan di televisi Mesir. Barangkali, di antara para tawanan itu terdapat Yitzhak. Namun, ia tidak menemukan anak laki-lakinya di antara mereka. Barangkali, ia tewas. Mereka, tentara Messir, barangkali telah membuat anak laki-lakinya tewas. Padahal, Zaenab juga orang Mesir. Ia adalah seorang ibu yang membunuh anaknya.Perasaan kehilangan dan ketakutan yang sangat itu membuat ia sakit kembali. Kali ini, tubuhnya lumpuh. Sepenuhnya. Para dokter pun datang mengerumuninya. Fahmi Garallah datang menjenguknya, sekali. Lalu, lelaki itu menyerahkan perawatan Zaenab kepada Naima dan Khidra.

Malam itu, Zaenab bangkit dari ranjang. Untuk mendengarkan berita radio tentang perundingan perundingan perdamaian. “Andaikan perdamaian itu terwujud,” gumamnya, “apakah Yitzhak dan Yasmine akan kembali ke Mesir? Juga, apakah Hagar akan kembali menjenguuknya?”

Zaenab pun tersenyum kecut dan menarik napas. Dalam dan lama. Untuk meringankan penderitaan yang menyergap dirinya. Tidak.  Mereka telah meninggalkannya sendirian. Ia merasa, dengan kehalusan perasaan seorang ibu, mereka tidak akan kembali ke Mesir. Ia lantas menjulurkan tangan kanannya untuk mengambil tongkat penopang tubuhnya. Ia lalu berusaha berdiri dan melangkah pelan. Namun, tiba-tiba tongkat itu terlepas dari tangannya. Tubuhnya pun tersungkur ke lantai. Ia pun berteriak, “Naima! Khidra!”

Naima dan Khidra pun datang. Tergopoh-gopoh. Mereka pun memapah Zaenab dan membaringkannya di tempat tidur. Dalam keadaan berbaring, ia hanya dapat menyaksikan langit-langit kamarnya kian lama kian kabur, kian kabur, dan akhrinya gelaplah semesta yang mengepung dirinya. Gelap dan senyap serta sunyi dan sepi yang tak terkira kedalamannya.

Selesai

Diterjemahkan  dari karya Ihsan Abdel Quddous, Lâ Tatrukûnî Hunâ Wahdî, Kairo: Maktabah Mishr, 1986.