Ditemukan Sinyal Radio Misterius dari Bimasakti, Mungkinkan Alien?

Ditemukan Sinyal Radio Misterius dari Bimasakti, Mungkinkan Alien?
Data inframerah dari Spitzer Space Telescope dan Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) di daerah yang dikenal sebagai daerah pembentuk bintang W3 dan W5 di dalam Galaksi Bima Sakti. (NASA/JPL-Caltech/University of Wisconsin via AP)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Gelombang radio aneh ditemukan di pusat Galaksi Bimasakti. Sebuah studi baru memperkirakan ini adalah obyek bintang yang belum pernah diketahui sebelumnya. 

Apakah ini bukti adanya Alien?

Obyek itu dinamakan sesuai dengan koordinatnya di langit malam yakni ASKAP J173608.2-321635.

Pemimpin studi dan mahasiswa doktoral di Scholl of Physics Universitas Sydney, Ziteng Wang mengatakan kecerahan obyek bervariasi. Sinyal yang ditemukan juga terus hidup dan mati secara acak.

"Sinyal paling aneh ini memiliki polarisasi tinggi. Artinya cahaya hanya berosilasi pada satu arah saja, namun arah itu berputar seiring waktu," kata Ziteng Wang dikutip CNBC Indonesia dari CNN, Rabu (13/10/2021).

Pada awalnya tim mengira obyek itu adalah pulsar, yakni jenis bintang neutron (mati) yang berputar cepat. Atau tipe bintang yang memancarkan sinar api Matahari besar.

Sinyal ini berasal dari sumber baru dari gelombang radio. Namun tidak cocok dengan apa yang diharapkan oleh para astronaut.

Rekan penulis studi, Tara Murphy mengatakan obyek ini unik karena awalnya tidak terlihat. Berikutnya obyek menjadi terang lalu memudar dan muncul kembali.

Obyek itu awalnya muncul selama survei langit menggunakan teleskop radio Australian Square Kilometre Array Pathfinder atau ASKAP yang bekerja sama dengan satu teleskop di Observatorium Astronomi Radio Murchison di Australia Barat.

Berikutnya pengamatan dilanjutkan dengan teleskop radio Parkes yang ada di New South Wales serta teleskop MeerKAT milik Observatorium Astronomi Afrika Selatan. Sayangnya teleskop Parkes gagal untuk mendeteksi sumber.

"Lalu kami mencoba dengan teleskop radio MeerKAT yang lebih sensitif di Afrika Selatan. Karena sinyal yang terputus-putus, kami mengamatinya selama 15 menit dalam beberapa minggu, dengan harapan bisa melihatnya lagi," ungkap Murphy.

Ternyata sinyal kembali namun sumber perilaku itu sangat berbeda. "Sumber hilang dalam satu hari, meskipun telah berlangsung selama berminggu-minggu dalam observasi ASKAP," kata dia. (MU)