Dikalungi Celurit, Sopir di Tanjung Priok Dipalak Rp 150 Ribu Per Hari

Dikalungi Celurit, Sopir di Tanjung Priok Dipalak Rp 150 Ribu Per Hari

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Praktik pungli di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara disikat polisi. Sebab, ada uang rutin yang harus dikeluarkan sopir tiap harinya saat dia bekerja. Tindakan pemalakan ini juga dengan ancaman dengan benda tajam seperti celurit.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia, Mahendra Rianto, menjelaskan paling tidak sopir truk mengeluarkan Rp100 - Rp150 ribu per hari untuk biaya pungutan liar ini. 

Pungutan liar ini terjadi baik saat di dalam pelabuhan maupun di jalan menuju pelabuhan.

Aksi premanisme juga terjadi pada jalan menuju pelabuhan. Mahendra mencontohkan jalan menuju pelabuhan di kawasan Cakung, Cilincing, hingga Ancol, sopir truk sering dimintai uang jalan secara paksa.

"Mudah - mudahan dapat diatasi," katanya dilansir CNBC Indonesia, Jumat (11/6/2021).

Lantas berapa total kerugian sopir truk akibat adanya pungli ini?

Dia mencontohkan paling tidak jika 1.000 truk yang yang keluar masuk daerah pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. 

Jika dikalikan biaya sekali jalan itu paling tidak ada Rp100 juta sampai Rp150 juta total kerugian per harinya. Jika dikalikan dengan 260 hari kerja, per tahun kerugian yang diderita pengemudi truk mencapai Rp26 - Rp39 miliar.

Mahendra mengatakan pemberantasan pungli harus sampai ke akarnya. Jika tidak mendalam praktek ini akan terus muncul ketika tidak lagi menjadi sorotan.

"Rp100 ribu itu lumayan bisa mencapai 10% dari tarif jasa truk kontainer yang senilai Rp1 - Rp1,5 juta sekali jalan," jelasnya.

Mahendra juga menjelaskan dalam supply chain cost, biaya transportasi di Indonesia juga masih terbilang mahal. Paling tidak 40% - 50% itu untuk biaya distribusi. Khususnya untuk angkutan darat dan penyeberangan.

Masalah pungli dan preman di Pelabuhan Tanjung Priok mencuat lagi setelah para sopir curhat ke Presiden Jokowi. Jokowi langsung menelepon Kapolri, Rabu siang (10/6).