Dihantam Covid-19, 5 Negara Kaya Raya Ini Terpaksa Ngutang

Dihantam Covid-19, 5 Negara Kaya Raya Ini Terpaksa Ngutang
BBC.com

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Sejumlah negara mencatatkan pertumbuhan ekonominya hingga minus dua digit akibat pandemi Covid-19. Hal ini tentu merupakan sebuah ironi, karena negara sedang banyak membutuhkan dana dalam menanggulangi pandemi, namun di sisi lain penerimaan negara berkurang karena pembatasan-pembatasan aktivitas.

Akhirnya utang menjadi solusi dari kebuntuan ini.

Meledaknya utang dalam masa pandemi ini juga dirasakan oleh beberapa negara tajir yang terkenal akan hasil alam seperti migas atau juga produsen-produsen alat-alat berteknologi tinggi. Lantas negara apa saja yang memiliki utang yang membengkak. Ini daftarnya:

1. Arab Saudi

Arab Saudi dikenal sebagai negara yang kaya akan minyak sehingga dunia menyebutnya dengan negara Petrodollar. Namun pandemi yang menghancurkan permintaan minyak dunia membuat pemasukan negara tempat kelahiran agama Islam ini seret.

Tidak hanya turunnya permintaan minyak, larangan kunjungan Haji dan Umrah juga membuat Riyadh untuk tarik napas lebih dalam. Pasalnya pengeluaran untuk penanggulangan Covid-19 masih harus terus mengucur.

Pemerintah Saudi merevisi target pendapatan menjadi 770 miliar riyal (Rp 2.891 triliun), turun 16,9% dibanding 2019. Sementara utang diprediksi membengkak menjadi 941 miliar riyal (Rp 3.533 triliun), membuncit 32,9% dibanding 2019..

2. Cina

Meski dikenal sebagai negara yang hobi meminjamkan uang ke luar negeri, China merasakan dampak yang pahit oleh pandemi Covid-19. Perekonomian terbesar kedua di dunia itu sudah merasakan pil pahit pandemi sejak awal virus ini merebak di kota Wuhan.

Dalam data yang dirilis, per 2 desember 2020 China telah memiliki utang sebesar USD 5,5 triliun (Rp 77 ribu triliun). Bahkan S&P Global Ratings, pemerintah China mungkin telah mengakumulasi 40 triliun yuan ($ 5,8 triliun) utang.

Jumlah utang tersebut mengakumulasi kurang lebih 48% dari Produk Domestik Bruto (PDB)nya.

3. Amerika Serikat (AS)

Negeri tajir selanjutnya yang menambah utangnya adalah Amerika Serikat (AS). Negeri adidaya itu melaporkan defisit APBN sebesar USD 3,1 triliun (Rp 48 ribu triliun) karena penerimaan negara yang ambrol dan kebutuhan akan penanganan Covid-19 yang sangat besar.

Untuk itu, Washington menambah lagi pinjaman untuk membiayai APBNnya. Menurut data World Economic Forum, tercatat pada tahun 2020 ini, pinjaman Gedung Putih meningkat menjadi USD 27 triliun (Rp 381 ribu triliun). Jumlah utang ini setara dengan jumlah pendapatan AS tahunan, menjadikan rasio utang AS diatas 100% PDB.

4. Prancis

Meski menjadi salah satu kekuatan besar di Eropa dan dunia, negeri Menara Eiffel ini juga menambahkan utangnya pada tahun 2020 ini karena penanganan pandemi yang menipiskan dompet Paris.

Di tahun 2020 ini, Prancis menambah 258 miliar euro (Rp 4.400 triliun) utang tambahan, menjadikan total utang negara itu menjadi 2,6 triliun euro (Rp 44 ribu triliun). Dengan utang ini, rasio utang terhadap PDB Prancis mencapai 98%.

5. Jepang

Jepang mungkin dikenal akan keberhasilannya dalam menanggulangi pandemi Covid-19, namun negara pulau di Pasifik ini juga memiliki jumlah utang yang fantastis.

Sebelum pandemi Jepang memang memiliki utang yang maha dahsyat. Tahun 2019 saja tercatat bahwa Negeri Sakura itu memiliki 1.328 triliun yen (Rp 178 ribu triliun). Dengan jumlah ini, rasio utang jepang terhadap PDB sekitar 240%

Di tahun 2020 sendiri, belum ada data resmi tentang lonjakan utang jepang. Namun parlemen di Tokyo telah mengumumkan stimulus percepatan penanggulangan pandemi Covid-19 senilai 117 triliun yen (Rp 15 ribu triliun). Hal ini diprediksi akan menaikan rasio utang kepada PDB Jepang hingga hampir 250%.